Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Dengan judul awal 'Aku jatuh cinta dengan sahabat kekasihku' dan akhirnya harus rela hanya menjadi sub judul dengan judul baru 'Aku Menikah Denganmu'



Namaku Dinda. Dinda Resita. 26 tahun, wanita karrier dan istri bahagia dari seorang laki-laki hebat, suamiku. Pernikahan dengan suamiku ini terjadi empat tahun yang lalu. Ketika itu sesuatu yang besar terjadi dengan hidupanku….

4 tahun lalu

Diusiaku yang ke 22 tahun, aku lulus kuliah dengan predikat prestasi terbaik di jurusanku, Hubungan Internasional. Untuk urusan percintaan, tak perlu diragukan lagi. Empat tahun pacaran dengan Alfian Adi Putra membuatku cukup matang untuk siap melangkah ke jenjang yang lebih serius.
“Sayang aku lulus,…” aku berbisik di telinga Fian dengan rasa haru dan ada maksud yang menggantung di ujung kalimatku.
“Iya sayang. Selamat semoga ilmu yang kamu dapat, bermanfaat ya.” Jawabnya dengan haru biru.
Entah saat itu, apakah dia tak mengerti maksud hatiku entah dia memang tak mau membahas itu, atau memang dia tak sanggup untuk itu? Semua pertanyaan itu tetap dan selalu menggantung di pikiranku saat ini.
***
Aku dan Fian berpacaran sejak kami lulus dari SMA masing-masing. Dua tahun kami LDR karena dia harus mengambil pendidikan teknik pemesinan pesawat di Medan. Medan-Jakarta, jauh bukan main. Tapi aku sanggup, aku mampu dalam kurun waktu dua tahun itu menunggunya pulang.
Dua tahun berikutnya, aku dan Fian bersama. Dia kembali ke Jakarta lalu ingin memantapkan pendidikan lagi dan mengulang dari tahun pertama di Jogja. Tapi kali ini berbeda. Bukan penerbangan lah yang ingin ia ambil. Dia mengambil pendidikan S1, Teknik Informatika di Universitas ternama di Jogja.
“Sayang, kamu yakin mau kuliah dengan jurusan berbeda seperti ini? Kamu gak mau melanjutkan pendidikan teknik pemesinan pesawatmu dan mencari kerja di sini sembari kamu menemaniku?”
“Enggak sayang, orangtua ku pun juga telah menyetujuinya.”
Sejak saat itu, aku berhenti mengatur hidupnya. Ketika ia masuk ditahun pertama, aku telah duduk di semester 5. Semester yang cukup matang untuk memikirkan skripsi.
Senja mulai menampakkan dirinya di garis cakrawala di ufuk barat. Sore itu Fian tiba-tiba mengetuk pintu kamar kosku.
“Dinda, …” dia terus mengetuk
“Siapa? Iya sebentar.” Jawabku buru-buru merapikan diri. Lalu ku buka pintu kamarku dan ada dua orang sosok laki-laki. Pertama Fian pacarku dan satu lagi Rizal sahabat Fian.
“Ada apa?”
“Rizal boleh aku tinggal sebentar di sini, ajak lah dia ngobrol aku ada kepentingan di sekitar sini sama temen kampus.”
“Oh…yaudah. Rizal, tunggu depan ya.”
“Ok Din.” Jawabnya mafum.
Sementara Rizal duduk di halaman depan kos-kosan, aku dan Fian ngobrol sebentar meskipun dia terlihat terburu-buru tapi Fian tidak pernah lupa mencium keningku sebelum ia pergi.
“Hati-hati ya sayang.” Sambil ku pegang tangannya. Fian tersenyum sambil mengangguk.
Aku segera duduk di samping Rizal. Kita mengobrolkan banyak hal, hingga aku lupa bahwa Rizal sahabat kekasihku. Aku bercerita padanya tentang suka dukaku menjalin hubungan dengan Fian. Rizal mendengarkanku dengan bijak dan sesekali tangannya mengusap pundakku, “Sabar ya Dinda. Fian memang dari dulu seperti itu.”
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang membuatku lupa dengan masalahku. Senja mulai habis dimakan waktu. Hingga petang pun menyapa. Aku lupa bahwa aku telah mempunyai Fian, aku lupa semuanya. Hingga pada akhirnya aku bercerita tentang sesuatu yang pernah Fian lakukan dan membuatku sakit. Itulah puncaknya; aku menangis.
“Dinda, kamu jangan menangis.” Sambil dia menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Zal, aku gak tau apakah aku sama Fian bisa berakhir indah. Kamu tahu kan, setiap aku menyinggung tentang pernikahan dia selalu menghindar.”
“Din, Fian hanya belum siap,” belum selesai dia berbicara aku sudah memotongnya.
“Belum siap apa? Dia itu memang mencari alasan saja. Aku lelah Zal, aku lelah selama ini dalam diam.” Hingga baju Rizal basah oleh air mataku. “Maaf Zal, maafkan aku.”
Kurang lebih lima detik kita berpandangan, salin tatap, dan ada sesuatu yang aneh yang terjadi padaku. Dan kita saling menghindar.
“Gak masalah Din. Oh iya, kamu kalau ada apa-apa ngobrol sama aku. Aku pasti bantu kamu.”
“Thanks ya Zal.”
***
Dua minggu setelah kejadian di kos-kosan itu, aku mengajak Rizal untuk makan di luar; tentu saja tanpa sepengetahuan Fian. Dia sibuk mengurus perkuliahan di awal tahun. Rizal dan aku sesama duduk di semester 5, dengan kampus yang berbeda.
“Zal,…” disela-sela makan malam itu aku memulai pembicaraan yang ingin aku sampaikan.
“Kenapa Din.” Sambil dia meletakkan garpu di piringnya dan memperhatikanku.
“Zal, bagaimana kalau akhirnya wanita yang saat ini mempunyai kekasih tapi ia lelah terus menerus disakiti oleh sikap kekasihnya dan akhirnya dia jatuh cinta dengan sahabat kekasihnya?”
“Maksud kamu? Aku gak ngerti Din.”
“Zal, aku jatuh cinta padamu. Mungkin kamu berpikir aku gila. Tapi aku hanya ingin mengungkapkan, untuk selanjutnya aku gak berharap lebih karena aku sadar akan Fian diantara kita.”
“Dinda, aku gak bisa. Fian sahabatku dan dia sangat baik denganku, aku gak mungkin bisa sperti ini.”
“Tapi Zal, aku bisa bicara dengan Fian kalau aku ingin semuanya berakhir.”
“Aku tahu, tapi kamu yang bilang sendiri kamu sudah berkali-kali meminta hubungan kalian berakhir tapi Fian gak pernah menyetujui itu kan? Dinda aku gak bisa apa-apa. Kamu tahu? Bukan sore itu saja aku menginginkan berdua denganmu, aku sudah lama mengagumimu tapi aku gak pernah bisa memulai. Karena kamu terlalu indah untukku yang seperti ini. Aku tahu kamu yang pernah jadi kekasih teman SMA ku dulu, dan saat ini kamu menjadi kekasih sahabat baikku. Tapi dengan melihatmu bahagia, itu lebih dari cukup bagiku Din. Sungguh.”
“Tapi Zal, kita bisa bilang sma Fian. Sekarang kalau perlu dan kita bisa menjadi sepasang kekasih.”
“Dinda, kita sudah dewasa. Aku gak mau bermain-main lagi. Biarlah kamu berpacaran dengan Fian, tapi saat itu juga aku menata hidupku untuk pantas di depanmu nanti.”
“Maksud Rizal apa?”
“Suatu hari kamu akan tahu Din. Sudah ya, mari kita pulang aku antar kamu sekarang. Sudah terlewat malam untuk wanita sepertimu. Aku gak mau hal buruk terjadi.”
Sesampainya di kamar kos. Aku melihat ponselku, ada chat dari Fian. Dia seperti orang kebingungan mencariku.
Ditempat lain, Rizal menemui Fian di kosnya.
“Hey man, ngapain malem-malem ke kos. Tumben banget.”
“Mau numpang di kos lo boleh ya bro.”
“Haha…sok ahh lo, ya udah masuk sini. Lo darimana emang tumben jomblo jam segini baru pulang.” Ledek Fian dengan tawa terbahak-bahaknya.
“Anjirrr lo, gue juga punya gebetan kali emang jomblo sendiri-sendiri aja.”
“Haha canda men. Eh Zal, gue kenapa ya akhir-akhir ini gue berasa aneh sama sikap Dinda. Dia kayak bukan Dinda yang manis yang dulu gue kenal. Dia jarang ada waktu buat gue.”
“Gaya lo, bukannya elu yang gada waktu buat dia. Nah lo sibuk mulu sama kampus baru haha.”
“Iya sih. Tapi itu dulu men, sekarang udah enggak. Lah giliran Dinda yang sibuk kali ya.”
“Iya Yan, ya udah kalian positive thinking aja kenapa.”
“Gue chat dia daritadi, barusan juga di balas. Dan sekarang udah tidur kan njiir banget cewek gue satu itu.”
“Hahaha mampus gak kalau digituin haha.”
Tawa mereka berdua pecah di kamar berukuran 3x3m. Mereka sahabat yang mampu tertawa dalam situasi apa pun. Bahkan keadaan hati masing-masing yang mengkhawatirkan satu wanita yang sama-sama mereka cintai.
Rizal mengurungkan niatnya.
Setelah kejadian makan malam itu, Rizal dan Dinda sering jalan berdua. Siang itu Rizal mengajak Dinda makan siang di sebuah restoran. Karena kampus Dinda dan Rizal lumayan cukup dekat mereka memiliki banyak waktu bersama. Mereka seperti sepasang kekasih bahagia yang baru saja mengikrarkan hubungan mereka.
“Dinda, kita ngomong ke Fian yuk.”
“Aku gak bisa Zal, aku gak akan bisa membuat hatinya hancur.”
“Tapi Din, semakin kita jauh melangkah, semakin aku gak bisa menusuk sahabatku sendiri dari belakang. Aku sahabatan dengan Fian udah lama Din. Aku gak mau buat dia depresi apa lagi kalau dia melihat kedekatan kita.”
“Kalau kamu gak bisa, besok aku sendiri yang akan bilang ke Fian. Dan ini mungkin terakhir kali kita jalan berdua Din. Tenang aja aku gak akan bua dia marah sama kamu.”
Sore harinya Rizal sudah sampai di halaman kos Fian.
Suara motor Fian masuk ke garasi kos itu. Dan seketika dia melihat Rizal duduk di halaman, “Hey men, udah lama?”
“Belum terlalu,”
“Sini masuk dulu.”
“Gak, gak perlu Yan. Gue mau minta maaf sama lo. Gue selama ini jalan sama Dinda, gue makan sama Dia tanpa sepengetahuan lo, gue jalan ke luar tanpa lo pernah tahu. Tapi gue mohon lo jangan pernah putus atau marah sama Dinda. Gue yang salah Yan, gue yang gak tahu diri. Dan ini terakhir gue di Jogja. Gue mau ke Makasar tempat abang gue, gue mau lanjutin kuliah di sana. Maafin gue yang udah nyusahin lu Yan. Dan thanks buat persahabatan kita selama ini.”
Fian hanya terduduk diam di bangku halaman kosnya.
“Hajar gue Yan, hajar gue. Biar lo puas.”
“Gue gak bisa lanjutin hubungan gue sama Dinda Zal.”
“Kenapa Yan, Dinda sayang banget sma lo. Dia mau bertahan selama ini demi lo Yan. Dan lo bakal nyerah gitu aja? Gue berani sumpah, gue gak apa-apain Dinda. Dinda wanita baik-baik, gue percaya lo juga gak mungkin lakuin hal bodoh. Yan, maafkan kekhilafan kita berdua. Dan ini ada tiket nonton konser, gue tahu Dinda suka banget sama Payung Teduh. Lo ajak dia nonton ya.”
“Thanks Zal, lo udah jadi sahabat terbaik gue. Kenapa lu harus pindah di Makasar?”
“Gue pamit sekalian ya bro, salam buat Dinda. Titip dia Yan, jaga dia. Dia wanita baik dan lo berhak bersamanya. Abang gue yang minta, katanya dia masukin gue di kampus tempat dia jadi dosen. Daripada katanya gue di sini cuman ngabisin duit dia aja.”
Sore yang haru itu, terakhir dua sahabat berpelukan saling menguatkan dan mensupport. Sampai akhirnya hari ini mereka bertemu lagi, di acara sacral. Akad nikah.
Pagi ini Dinda, calon mempelai wanita berdandan cantik bagai ratu sehari bersama calon mempelai laki-laki yang gagah.
“Saya terima nikahnya Dinda Resita binti Bima Anggara dengan mas kawin tersebut tunai.”
Suara ‘sahhh’ menggema di ruang utama masjid itu. Tempat kedua mempelai dan para saksi haru biru.
“Selamat ya bro. Akhirnya lo sama Dinda nikah juga. Kalian hebat, berhasil bertahan meski LDR.”
“Selamat ya Dinda, buat Rizal bahagia. Kalian serasi dan aku berharap, aku segera menyususl seperti kalian.”
Tawa mereka meledak.
***
Ya. Pagi itu akad nikah Dinda dan Rizal. Rizal memang sengaja menghindar dan menajuh darinya karena dia tidak mau melihat Dinda yang selalu menyakiti Fian. Dan akhirnya sepulang dari pendidikan Rizal di Makasar, Dinda telah menjadi wanita karier, pintar, cantik, single, dan tentu saja hubungannya dengan Fian telah kandas. Apalagi masalahnya kalau bukan, Fian yang belum siap melangkah ke depan. Sedangkan itu, Dinda telah menjadi wanita muda yang sukses. Karena Fian jujur belum mampu mengajak dia ke jenjang yang lebih serius dan Fian masih belum lulus juga.
Takdir tak pernah slaah dan selalu tepat waktu. Begitu halnya Dinda dan Rizal kala itu. Mereka merencanakan untuk bertemu. Hari itu juga, Rizal mengatakan bahwa dia ingin segera melamar Dinda. Rizal ingin menadikan Dinda wanitanya.
Hingga pagi ini semua penantian Rizal terawab sudah. Dinda dan Rizal bahagia tanpa harus menjadi sepasang kekasih, tak perlu tersakiti karena hal-hal kecil, tak pernah sekalipun berpacaran laiknya muda mudi. Mereka memantaskan diri masing-masing hingga halal menjemput keduanya di akad tersebut. Hingga Dinda halal untuk Rizal.
--END--

Ketika aku tidak sengaja melihatmu berlalu di depan teras rumahku. Tampaknya kau sedang gelisah. Aku semakin bertanya-tanya dan aku beranikan diri ini untuk menegurmu lebih dulu.
Aku dan kamu sudah duduk di meja—yang dahulu sering kita berdua ngobrol saat kau mengunjungiku disabtu malam.
            “Sedang ada masalah apa Langit? Kelihatannya kamu gelisah begitu.”
            “Ahh...tidak ada apa-apa kok Senja. Sedang banyak tugas kampus aja. Btw kamu apa kabar sekarang? Aku gak sengaja lewat di depan rumahmu, tadinya aku mau ke rumah temanku.”
            “Oh...aku baik, kamu gimana? Wahh, jadi aku mengganggu waktumu ya?
            “Aku juga baik senja. Tidak, sungguh. Mungkin memang aku merindukan duduk di kursi ini juga.”
            Mata itu kemudian bertabrakan seperti meteor yang saling melesat bersama tanpa kendali. Mereka tersenyum.
♪♪♪
3 tahun yang lalu.
            Tepat di kursi yang kini mereka berdua duduki.
            “Senja, aku ingin teras rumahmu ini menjadi saksi betapa seriusnya cintaku kepadamu.” Langit menggenggam jemari Senja.
            “Langit, aku sangat mencintaimu. Aku harap cintaku ini bukan sekadar kamu jadikan kata indah semata. Namun mampu membuat kita bertahan.”

♪♪♪
            Tiba-tiba ringtone di hp Senja berbunyi. Sum 41-with me.
            Senja buru-buru mengangkatnya dan menjauh dari Lngit setelah melihat nama di led hpnya ‘Reno’.
            Langit masih memperhatikan teras rumah Senja. Ia lalu teringat dengan tanaman kaktus import di pojok timur itu. Langit mendekat dan memperhatikan dengan teliti. Ia teringat, tentang tanaman itu.
            “Langit, kamu ngapain di situ? maaf aku ke sana sebentar tadi Reno telfon.”
            “Eh…anu…maaf Senja aku lancing sampai di sini. Aku melihat kaktus ini. Kamu masih merawatnya? Luar biasa semakin indah, meskipun hanya segelintir manusia yng menyukai tumbuhan yang hidup di gurun pasir ini. Dan orang-orang istimewa seperti kamulah yang masih mendapat keistimewaan merawat kaktus ini.”
♪♪♪
            “Senja, lihat aku membawa apa?”
            “Apa Langit. Cepat buka ikat mataku, aku sudah gak sabar.”
            “Coba tebak dong.”
            “Apa ya… makanan? Boneka? Pena? Tas? Ahhh aku nyerah Langit.”
            “Hahaha kamu lucu ya Senja kalau penasaran dan sifat tidak sabrmu itu muncul.”
            “Kenapa malah ngledek sih.”
            “Iya princess aku buka ikat matanya. Tapi janji satu hal dulu sama aku; kalau kamu akan merawat pemberianku ini sampai kapan pun waktu yang tak terbatas? Janji.”
            “Iya Langit, Senja janji akan merawat pemberin Langit.”
Ikat mata Senja terbuka lantas ia mengucek-ucek matanya.
            “Kaktus… Langit terima kasih banyak, kamu memang selalu tahu apa yang aku minta.” Senja lalu memeluk Langit erat.
♪♪♪

            “Kamu berlebihan Langit. Memang dari dulu aku menyukai kaktus. Lihatlah koleksiku yang lain.”
            “Aku tahu Senja. Maaf mungkin aku memang berlebihan. Maaf kalau lancang, kalau boleh Tanya, Reno itu—“
            “Dia pacarku, lebih tepatnya, dia tunanganku.”
            Langit terhentak dan terkejut mendengar jawaban Senja, “Ohh…sselamat ya Senja. Jangan lupa weeding invitationnya untukku ya. Aku tunggu dan aku pasti dating untuk pernikahan kalian nantinya.”
            “Thanks Langit. Do’akan kami berdua ya. Aku dan Reno sedang melanjutkan perusahaan orangtuanya. Aku belum cukup berpengalaman, tapi orangtua Reno sudah mempercayakan banyak hal padaku. Padahal lebih berpengalaman Reno tentu saja.”
            “Semoga kalian sukses ya Senja. Oh iya aku boleh tanya hal lain?”
            “Tentu saja Langit.”
            “Kenapa ringtone kamu lagu itu Senja? Aku boleh tahu alasanmu?”
            “Langit, itu kan lagu yang sifatnya universal, jadi terserah siapa pun yang mau memakainya. Aku dan Reno kebetulan suka sekali dengan lagu itu.”
            Langit tidak terima dengan alasan senja, tapi ia hanya mampu menyimpan dalam hatinya. Bukan itu Senja, bukan itu alasanmu. Pasti. Aku tahu Senja, itu lagu terlebih dahulu aku yang mengenalkan kepadamu. Jadi tidak mungkin Reno si tunanganmu ini menyukai lagu cengeng. Dia seorang exmud yang tak  ada waktu untuk lagu-lagu cengeng seperti lagu kita ini.
            “Hey Langit, kenapa kamu bengong? Kembali ke kursi yuk.”
            “Eh…iya Senja.”
♪♪♪

            Lagu cinta mereka berdua. Sum 41 – With Me. Lagu yang unik, romantic, dan memiliki makna mendalam bagi sepasang sejoli ini. Lagu dengan judul With Me jika dalam bahasa Indonesia berarti ‘denganku’, tetapi di dalam setiap liriknya tak dapat dijumpai kata with me. Mengapa begitu? Karena bersama bukan berarti harus berdua dan dalam situasi dan tempat yang sama. Namun bersama adalah ketika mereka sedang berjauhan, tetapi mereka seperti berada di situasi dan tempat yang sama, menggenggam tangan, menguatkan satu sama lain. Itu semua bisa dilakukan dengan cara do’a.
            Berdo’a dan memintalah kepada Tuhanmu, apapun itu, karena Tuhanmu pasti mendengarnya. Mereka mendo’akan satu sama lain, dan tidak putus-putusnya menyatukan satu harapan. Cupid menari-nari diatas kepala mereka dengan bahagianya.
♪♪♪



“Nadia, sudah mengerjakan tugas History of English Literature belum?”
            Itu sedikit ucapan dari Aini teman karibku yang telah menyambutku di kampus. Namaku Nadia Khairunnisa, 18 tahun, mahasiswi jurusan sastra inggris di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Ini semester kedua memasuki bangku perkuliahan dengan jurusan yang aku minati. Aku satu-satunya gadis di kampungku yang merantau demi pendidikan. Di desaku anak perempuan seusiaku tidak diizinkan orangtua mereka untuk merantau jauh—apalagi untuk hal pendidikan. Di desaku anak perempuan yang duduk di bangku sekolah menengah atas telah jarang di temui, kebanyakan dari mereka hanya berhenti di bangku SMP atau bahkan SD, tidak sedikit pula orangtua yang tidak menyekolahkan anak perempuannya. Orangtua yang sedikit pengetahuan tentang pendidikan, memilih menikahkan anak gadisnya kepada laki-laki kaya di desa. Tapi, aku tidak ingin bernasib seperti mereka. Aku ingin mengubah desa tempat kelahiranku 18 tahun yang lalu, Kampung  Tengah, Tanjung Uban.
            Minggu demi minggu perkuliahan semakin padat, aku disibukkan dengan berbagai tugas. Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan terhitung satu minggu dari sekarang. Disamping harus mengerjakan berbagai tugas dari dosen, aku juga harus mempersiapkan untuk ujianku pekan depan. Pun teman-temanku juga tengah mempersiapkan untuk ujian mereka. Meskipun tak sedikit dari mereka yang hanya berongkang-ongkang kaki untuk menghadapi ujian. Riski teman sekelasku salah satunya. Dia asli Yogyakarta, pantas saja dia tidak begitu memikirkan nilai ujiannya dan menganggap enteng arti pendidikan. Tidak seperti aku yang jauh-jauh harus menyeberang pulau demi mendapatkan pendidikan terbaik. Jadi, aku tidak ingin hanya sekadar lulus dari kampus ini dan mendapatkan gelar sarjana begitu saja. Aku ingin mendapatkan berbagai pengalaman diperkuliahan. Disamping kuliah, aku juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus demi menunjang jurusanku.
Cita-citaku yang paling utama ialah membuat orangtua bahagia, dan yang kedua ialah mengubah desaku. Lulus cepat, terbaik, dan mendapatkan banyak pengalaman adalah impian setiap mahasiswa. Namun, semua itu tidak bisa sekadar di tulis di kertas berwarna-warni kemudian di tempel di dinding kamar begitu saja. Buktikan. Aku ingin melakukannya, demi orangtuku, dan demi desaku. Tidak mudah bagiku membagi waktu antara perkuliahan di kelas dan organisasi di luar kelas. Tetapi setiap aku merasakan kurang adanya semangat dalam diriku, aku selalu mengingat tujuan utamaku merantau jauh di sini. Aku tidak ingin setiap kali pulang ke kampung halaman tidak ada yang dapat aku berikan untuk desaku. Meskipun hanya hal kecil, aku harus dapat membagikan apa yang aku peroleh di kampus saat ini.
Hari ujian semakin dekat. Aku belajar lebih giat dan hampir setiap hari menghabiskan waktu di perpustakaan bersama teman-temanku. Perpustakaan adalah tempat kedua setelah masjid yang paling aku sukai. Di perpustakaan aku mendapatkan berbagai ilmu, baik itu berkaitan dengan jurusan maupun pengetahuan umum. Lantai empat adalah tempat favoritku karena di lantai itu terdapat buku-buku yang paling sering aku cari. Rak 800 tertuliskan “KESUSASTERAAN” dimana terdapat buku-buku mengenai sastra. Hampir setiap hari aku dan teman-temanku mengunjungi perpustakaan disela-sela jam kuliah. Aku tidak ingin membuang waktu mudaku hanya untuk hal yang tidak bermanfaat. Sedapat mungkin aku akan menggunakan waktuku untuk hal-hal positif bagi diri sendiri maupun oranglain.
Tidak terasa hari ini ujian akan segera dimulai. Ujian akhir semester akan berlangsung selama lima hari. Sehingga, aku akan terfokus pada ujianku kali ini. Teman satu kamarku yang mengambil jurusan pendidikan guru juga tak kalah sibuknya mempersiapkan ujiannya.
Hari demi hari, ujian berlangsung. Alhamdulillah segalanya lancar. Jum’at ialah hari terakhir ujian. Jadwal untuk hari ini Reading 2, Writing 2, dan bahasa Indonesia. Aku berharap ujian pamungkasku hari ini lancar seperti kemarin.
Setelah ujian selesai, aku dan teman-teman satu kelas berkumpul di taman fakultas untuk bercerita tentang rencana liburan semester masing-masing. Teman satu kelasku yang berasal dari Jogja hanya lima orang. Selebihnya mereka anak rantau—sepertiku—bedanya mereka tidak sejauh aku yang harus berjam-jam sit di pesawat.
“Kamu mau mudik kapan Nad?” tanya Aini.
“Hari selasa, kamu mau ke Banten kapan Ai?”
“Aku besok Nad, nanti mau langsung packing,”
“Yaah kita gak bisa keliling Jogja dulu dong? Aku pasti merindukanmu Ai,” sahutku sambil memeluk sahabat karibku ini.
“Me too say,” jawab Aini dengan manja—seperti dengan kekasihnya saja.
“Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh khas Banten ya, awas kalau aku gak dibawain,” ancamku sambil melepas pelukan Aini.
“Siap boss. Kamu juga dong, masa cuma aku!” jawab Aini dengan nada ketus.
“Hahaha… iya, besok aku bawakan foto-foto di desaku, biar kamu ada gambaran Tanjung Uban itu seperti apa, dan desaku itu memang ada di peta tidak seperti anggapanmu selama ini.” jawabku sambil bersungut-sungut.
Aku, Nadia dan teman-teman yang lain bercengkrama selama kurang lebih satu jam kemudian kita memutuskan untuk ke masjid melaksanakan sholat ashar. Sore itu pertemuan terakhir bersama teman-temanku sebelum mereka pulang di kampung masing-masing. Kebersamaan yang telah terjalin selama kurang lebih satu tahun bersama kelas sastra inggris-B tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Mereka luar bisaa, mereka teman-teman yang luar biasa.
Waktu berlalu begitu cepat. Dan teman-temanku mulai berpamitan untuk mudik ke kampung halaman mereka masing-masing. Teman satu kamar pun begitu, Zahra. Dia gadis asli Jombang—kota santri. Penghuni semakin sepi. Aku mulai mengepack barang-barang yang akan aku bawa pulang. Tidak lupa aku membeli sedikit oleh-oleh seperti batik asli Jogja untuk ayah dan ibuku di kampung. Uang untuk membeli oleh-oleh itu aku dapat dari hasil menabungku selama ini. Tidak lupa aku membeli souvenir-souvenir untuk anak-anak tetanggaku. Meskipun nilainya tak seberapa namun niatku baik ingin menyenangkan hati mereka.
Hari keberangkatanku pun tiba. Jadwal depart on pukul tiga sore. Aku meninggalkan kamar kost pukul satu kemudian menuju halte Trans Jogja. Perjalanan menggunakan bus Trans Jogja dari halte dekat kampus menuju bandara Adi Sutjipto kurang lebih 40 menit. Sesampainya di bandara, pesawat ternyata delay selama 45 menit. Aku bergegas menuju masjid di bandara untuk melaksanakan sholat ashar. Tepat pukul 15.45—selesai check in—pesawat take off. Tidak lupa aku ucapkan Bismillahirrohmanirrohim untuk mengawali perjalanan menuju desaku yang selama ini aku rindui.
Pukul 18.12 aku sampai di bandara. Aku melaksanakan sholat maghrib di masjid, kemudian menstop taksi untuk mengantarku ke rumah. Desaku telah banyak berubah, itu kesan pertamaku memasuki desa tempat lahirku 18 tahun silam. Jalan yang dahulunya berbatu putih, kini telah berwarna hitam legam oleh aspal. Sesampainya di rumahku aku mengetuk pintu yang terbuat dari kayu yang telah sekian lama tidak diganti.
Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara wanita paruh baya—yang sangat aku kenali—menjawab salamku dari dapur. Tak lama, kemudian pintu terbuka.
“Nadia, putriku!” seru wanita peruh baya ini—yang tak lain adalah ibuku. Beliau langsung memelukku erat sebelum sempat aku mencium tangannya, beliau melanjutkan perkataannya,
“Kamu pulang kok tidak bilang pada Ibu atau Ayahmu. Kalau tahu kamu pulang ibu bisa masak makanan kesukaanmu.”
“Ibu, maafkan Nadia ya. Nadia tidak mau membuat Ibu dan Ayah repot.”
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, suara ayahku manyahuti.
“Ada apa Bu, malam-malam kok ribut. Ada siapa?” suara ayah yang terdengar keluar dari kamar mandi.
“Ini lo Yah, Nadia pulang. Sini cepat. Lihat putrimu sekarang cantik seperti ibunya dahulu.”
“Nadia? Ibu jangan bergurau.”
“Cepat kesini.”
Kalimat ayah dan ibu bersahut-sahutan antara ruang tamu dan kamar mandi. Sementara aku masih berdiri menunduk mencium tangan Ibu.
“Nadia!” seru Ayah dengan suara beratnya.
“Ayah. Assalamu’alaikum.” jawabku kepada sosok ini lalu meraih tangannya untuk kucium.
Wa’alaikumsalam nak, kamu berbeda sekali dengan dahulu. Kamu gadis yang sangat cantik dengan balutan jilbabmu ini.”
“Terimakasih Yah. Ini semua juga berkat Ayah dan Ibu tentunya.”
“Ayah bangga padamu nak. Kesini duduk. Ibu ini bagaimana anaknya pulang tapi tidak disuruh duduk,” ucap ayah kepada Ibu dengan nada agak kesal.
“Ibu saking senangnya Yah, tidak sempat mempersilakan Nadia duduk.”
Aku dan kedua orangtuaku duduk di kursi sambil aku menceritakan perihal kuliahku di Jogja, kegiatanku, kamar kostku, orang-orang Jogja yang terkenal ramah, masakannya, dan lain-lain.
Libur semester dengan pulang kampung ini aku manfaatkan sebaik mungkin. Aku membuka perpustakaan kecil di rumahku yang sederhana. Anak-anak di sekitar rumahku berbondong-bondong datang untuk sekadar melihat-lihat buku cerita yang telah aku bawa dari Jogja maupun membacanya. Di rumahku yang sederhana, aku uga memberikan semacam kursus bahasa Inggris kepada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan miniku—tentu saja tidak aku pungut biaya—aku melakukannya ikhlas.
Tak terasa ini minggu terakhir aku liburan bersama anak-anak di desaku.
“Kak, besok kak Nadia sudah kembali ke Jogja lagi ya?” tanya seorang anak kecil berumur tujuh tahun.
“Iya Sita, memangnya ada apa?”
“Yah. Lalu yang mengajari kita bahasa Inggris siapa?” ucapnya dengan nada sedih.
“Tenang saja. Ada Kak Lina, dia akan kakak suruh mengajari kalian di sini. Pasti dia tidak keberatan,” jawabku mencoba menenangkan hatinya.
Tidak cukup penjelasanku, anak ini membrondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan lain, “Tapi Kak Lina jauh, apa mau dia jauh-jauh kesini? Kak Lina juga harus sekolah? Bagaimana kita belajar bahasa Inggris seperti yang diajarkan Kak Nadia?”
“Sita sayang, pertanyaanmu sudah seperti orang dewasa saja,” jawabku sambil membelai rambut si bocah “Kak Nadia akan bicara dengan Kak Lina, dia pasti bisa membantu kita. Oke? Jangan khawatir.”
“Oke deh, aku percaya sama Kakak.”
Dua hari setelah kejadian Sita yang takut kehilanganku karena tidak akan ada yang mengajari anak-anak bahasa Inggris lagi, aku akan segera kembali ke Jogja.
Aku berpamitan dengan tetangga-tetanggaku dan anak-anak kecil yang sedari subuh telah memenuhi rumahku. Aku tidak habis pikir pada anak-anak ini.
“Kak, kita punya ini untuk Kak Nadia,” kata Sita mewakili teman-temannya sambil menyodorkan kotak kecil yang dibalut dengan kertas pembungkus kado.
“Ini apa sayang?” jawabku.
“Bukanya nanti kalau di Jogja Kak, ini kita buat bersama-sama. Maaf kalau jelek ya Kak?”
Kemudian mereka satu per satu memelukku.
Dengan nada terbata-bata aku berusaha mengeluarkan kata-kata, “Terimakasih ya sayang, kalian anak-anak yang baik. Kak Nadia pasti merindukan kalian.”
Tak terasa air mataku jatuh melihat anak-anak ini yang semakin erat memelukku, beberapa anak perempuan dari mereka menangis tersedu-sedu—Sita salah satu dari mereka.
Ayah dan Ibuku mengantarku ke depan rumah dan beberapa tetangga juga turut melepas kepergianku untuk kembali ke Yogyakarta. Desa ini akan aku ubah menjadi sesuatu bukan tidak mungkin aku seorang anak desa terpencil mampu membawa nama desaku. Aku akan buktikan. Suatu hari nanti. Desa ini membutuhkanku lebih untuk masa depan. Rasanya berat meninggalkan Ayah Ibu yang raut wajahnya sedih namun terlihat bangga, karena tetangga-tetangga memberikan sumbang kasih padaku.
“Ayah Ibu, Nadia berangkat dulu ya. Angkotnya sudah menunggu,” kataku pelan
“Iya nak, Ayah dan Ibu hanya bisa mendo’akan dari jauh. Semoga kamu disana sehat dan sukses untuk semester ini ya. Tetangga-tetangga juga pasti turut mendo’akanmu.”
“Terimakasih Yah, Nadia akan menjadi kebanggaan kalian dan tentunya desa ini. Nadia akan mengubah desa ini lebih baik dan maju lagi. Nadia pamit Yah, Bu Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumsalam.”
Sambil aku melambaikan tangan dari angkot yang aku tumpangi menuju bandara, tetangga-tetangga yang sedari tadi berkumpul di depan rumah sederhanaku berseru-seru, “Hati-hati Nadia, semoga kuliah kamu sukses dan membawa nama desa kami.”
Aku meneguhkan niat untuk menjadi orang yang berguna. Aku akan menjalani kuliahku lebih baik lagi dan aku yakin aku pasti bisa.






             
"Dikala hati tak ada tempat untuk berbagi. Aku merasa kehilangan segalanya, aku kehilangan kau yang dulu selalu ada untuk aku, aku kehilangan perhatian yang selalu kau berikan, aku kehilangan kasih yang selalu kau lontarkan. Aku bak berteman sepi. Aku tiada arah, aku sepi, sunyi. Seakan tak satupun dari mereka peduli.
Aku tertunduk, aku menangisi semua ini. Apa salahku Tuhan, mengapa Kau seakan murka kepada hamba-Mu ini? Apakah ada kesalahan di masa lalu, hingga aku pantas mendapatkan semua ini? Aku terus menangis. Aku tak mampu mengangkat kepalaku, aku tak mau melihat kedepan. Rasanya tak adil apa yang aku dapatkan saat ini. Semuanya suram, hitam.
Masa depan yang dulu indah, aku ukir semuanya di atas kertas berwarna-warni, kini semua tak ada artinya lagi. Aku bakar, aku robek, aku coret. Buat apa pikirku dalam hati. Toh orang-orang seperti aku sudah tidak diharapkan lagi didunia ini. Aku benar-benar sendiri Tuhan. Aku hanya tertunduk malu, menangisi keadaanku dikamar kos berukuran  4x6. Orang-orang tak ada yang mau menerimaku. Bagaimana dengan keluargaku yang di kampung nan jauh disana? Ahh rasanya tak mungkin aku pulang membawa aib seperti ini. Hanya akan membuat malu seluruh keluarga besarku. Tidak. Sekali lagi tidak."
Namaku Rina 20 tahun, aku mahasiswi disalah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Aku gadis kecil yang berasal dari kota Medan, tepatnya di daerah Berastagi. Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di Yogyakarta ketika aku lulus dari sebuah SMA Negeri di Medan. Aku salah satu anak yang cerdas ketika duduk di bangku SMA. Guru-guruku menyarankanku untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta, karena mereka menganggap Yogyakarta adalah kota yang cocok untuk mengembangkan kemampuan yang aku miliki. Akhirnya, Juli 2010 aku memutuskan untuk mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkemuka di kota pelajar ini. Seperti saran guruku sebelumnya, aku mengambil prodi Psikologi. Tuhan sayang dengan aku, aku diterima di prodi tersebut.
Aku mendapatkan banyak pengalaman di sini, aku belajar banyak dari orang-orang di seluruh penjuru nusantara. Aku juga mempunyai banyak teman di sini, aku sendiri memang orang yang mudah akrab.
Satu tahun berlalu, perkuliahanku berjalan lancar. Selama setahun ini aku belum bisa kembali ke kampung halamanku di Medan. Aku telah berjanji dengan amak dan bapak dan diriku sendiri, aku tidak akan pulang sebelum membawa gelar sarjana. Itu janjiku pada mereka. Alhamdulillah lingkungan tempat tinggalku semuanya mendukungku untuk menjadi wanita yang baik. Aku menempati kost tak jauh dari  kampusku. Dengan kamar berukuran 4x6 dengan kamar mandi di dalam. Lumayan bagus untuk ukuran mahasiswa.
Namanya Dimas, anak muda asli kota pelajar ini pacarku. Dia kakak tingkatku. Aku bertemu dengan dia, ketika masa-masa OSPEK. Dia laki-laki yang tampan, baik kepada semua orang, pintar dan tidak sombong. Aku beruntung memiliki Dimas, bagaimana tidak, banyak teman-temanku yang mengidolakan dia. Awalnya aku biasa saja melihat Dimas, seperti cowok yang lain, itu menurutku. Tapi, entah darimana rasa ini lambat laun muncul dengan sendirinya, ketika suatu hari aku dan Dimas tak sengaja bersamaan di perpustakaan. Karena aku mahasiswa baru di sini aku belum begitu tahu dimana letak buku yang aku perlukan. Tiba-tiba Dimas menghampiri aku yang terlihat bingung. Syukurlah ucapku dalam hati. Dimas bertanya kepada ku apa ada yang bisa ia bantu, aku menjawab tentu saja. Dari situlah mulai kedekatan ku dengan Dimas. Anak muda yang aktif dalam organisasi juga memiliki akademis yang tidak perlu diragukan lagi ini.
Sebulan setelah kejadian di perpustakaan itu, Dimas mengatakan bahwa dia menyayangiku, dia ingin aku menjadi pacarnya. Siapa yang menolak seorang laki-laki tampan seperti Dimas, bodoh sekali wanita itu. Tepatnya Hari Sabtu, tanggal 13 November 2010 aku jadian dengan Dimas.
Setahun sudah hubungan ku dengan Dimas. Itu artinya semakin dekat waktu yang akan aku habiskan bersama Dimas. Dia sibuk dengan skripsi. Baiklah sebagai pacar yang baik, aku tidak akan mengganggu kesibukannya. Aku dan Dimas sudah jarang sekali pergi berdua, nonton berdua, makan bareng berdua. Entahlah seakan Dimas yang sekarang bukanlah Dimas yang aku kenal satu tahun yang lalu. Aku coba bicara padanya empat mata, tapi dia selalu menghindar dengan berbagai alasannya. Lama-lama aku tak tahan dengan sikap Dimas yang seperti ini, aku coba mebuat janji untuk bertemu bahwa ada hal yang ingin aku katakan padanya penting sekali, ternyata Dimas juga ingin bicara sesuatu padaku. Kita bertemu di caffe biasa kita menghabiskan waktu berdua, kita berangkat sendiri-sendiri tidak ada jemput seperti setahun silam.
Di situ Dimas memulai pembicaraan. Inilah awal penderitaanku.
Entah apa yang ada di benak laki-laki yang selama setahun ini aku cintai. Dia mengatakan bahwa dia sudah bertunangan. Aku shock, aku tak bisa menahan air mata ini. Aku sesenggukan dihadapan Dimas. Dia mengatakan bahwa itu semua perjodohan dari orangtuanya. Peduli apa aku, masih adakah zaman seperti ini perjodohan. Ya Tuhan hatiku tercabik-cabik, aku ingin mati saja, sakit sekali rasanya, aku tak tahan Tuhan. Aku tak mampu berkata sepatah kata pun. Dimas yang sedari tadi terus mencoba menjelaskan mengapa akhir-akhir ini ia menghindariku mengatakan bahwa dia tidak ingin membuat aku terlalu dalam menyayanginya, dia juga mengatakan bahwa janji yang dulu pernah kita ucap untuk selalu bersama dan membina keluarga bersama agar dilupakan saja. Dimas juga mengatakan bahwa setelah wisuda nanti, ia akan melangsungkan pernikahan dan dia juga akan pergi keluar kota membawa calon istrinya itu untuk menempati rumahnya di Bandung. Dimas mengeluarkan undangan berwarna merah marun dengan pita kuning emas, manis sekali. Di halaman depan undangan itu terpampang foto Dimas dan Putri calon istrinya. Putri sangat anggun mengenakan gaun warna putih bersinar, begitu pula Dimas terlihat gagah mengenakan jas warna hitam. Mereka berdua mesra sekali, terlihat dari kedua wajah mereka terlukis senyum bahagia yang tulus. Aku coba tersenyum melihat undangan itu, aku sempat mengatakan selamat kepada Dimas, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan caffe tersebut.
Sesampainya di halaman caffe aku berharap Dimas menyusulku seperti setahun silam, lima menit aku tertegun disana, aku baru menyadari bahwa ini mustahil. Tidak mungkin Dimas mengejarku seperti saat aku dan dia bertengkar ketika pacaran dulu. Tukang parkir yang kerap aku dan Dimas sapa bertanya kepadaku mengapa aku menangis, bukankah Dimas bersamaku, mengapa Dimas tidak menyusulku seperti sebelum-sebelumnya. Aku hanya tersenyum kepada bapak paruh baya itu. Kemudian aku memutuskan untuk naik taksi, pergi kemana pun untuk menghilangkan sakitku ini. Sopir taksi yang sedari tadi melihat ku dari dalam kaca mobilnya terlihat bingung, sopir taksi itu juga sempat bertanya kemana arah tujuanku. Namun aku hanya diam tak menjawabnya. Setelah hampir dua jam aku berada di taksi itu, sopir taksi itu memberhentikan mobilnya di caffe tadi. Sopir taksi bingung mau membawa ku kemana lagi karena aku hanya diam dan sebentar-sebentar menangis, akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan aku di tempat dimana aku menyetop taksi tadi.
Pukul 23.45. Caffe itu tampak sepi, tukang parkir yang aku lihat dua jam yang lalu masih sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk caffe sudah tidak terlihat lagi. Aku masih duduk termenung di situ, aku mulai mengusap air mataku yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. Tiba-tiba ada mobil mendekatiku, sepertinya sering aku lihat mobil itu ketika di kampus. Tepat sekali itu Mila teman satu kelasku, aku tidak terlalu akrab bergaul dengannya karena Mila hanya mau bergaul dengan orang-orang yang keren dan modist. Mila menjulurkan kepala dari balik kaca mobilnya, ia mencoba menyapaku yang hanya duduk sendiri larut seperti ini. Mila mengajakku untuk menaiki mobilnya bersama. Aku mengiyakan ajakan Mila. Mila ternyata baik sekali, ia bersimpati kepadaku. Aku menceritakan semua kejadian yang baru saja aku alami di caffe tadi. Mila memberi solusi agar aku ikut bersamanya, ia bilang aku takkan menyesal ikut bersamanya. Aku pun percaya dengan apa yang Mila ucapkan.
Sampai Mila memarkir mobilnya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi di situ sudah terparkir banyak mobil-mobil mewah. Terlihat dari mobilnya sepertinya bukan orang dari kalangan biasa pemilik mobil-mobil mewah ini. Kemudian aku melangkahkan kaki di rumah yang sama sekali belum pernah aku kenal itu. Di situ terdapat banyak sekali laki-laki dan gadis-gadis seksi. Aku dibawa ke ruangan Mila, entahlah ruangan apa ini. Rina mengajakku untuk bergabung bersamanya menjalankan bisnis prostitusinya. Aku kaget, aku tidak pernah menyangka akan dibawa ke tempat seperti ini. Sepanjang sejarah hidupku aku tidak pernah punya keinginan untuk berbuat seperti ini. Aku bilang tidak, aku berlari keluar. Di ruang tamu itu ada om-om yang mencoba menahanku, aku melepas tangannya dari tanganku. Aku terus saja berlari, aku mencari taksi, aku berharap Tuhan masih sayang denganku dan masih melindungiku. Alhamdulillah aku langsung menaikki taksi itu dan mengatakan alamat kostku.
Pagi itu aku bangun terlambat, aku tidak berangkat ke kampus. Beberapa detik setelah aku membuka mataku, handphone ku berbunyi tanda pesan masuk. Aku melihat ini dari amakku yang di kampung. Setelah aku buka dan aku baca sms itu, tiba-tiba... Tidak. Aku menangis, membaca isi sms itu, amak bilang rumah dan toko ku yang di kampung terbakar, tak ada barang yang bisa diselamatkan lagi. Untungnya amak, bapak dan kedua adikku masih bisa terselamatkan. Amak bilang untuk beberapa bulan kedepan, tidak mungkin aku mendapat kiriman uang dari kampung. Amak dan bapak sudah tidak punya apa-apa. Satu-satunya mata pencaharian keluargaku hangus dilalap si jago merah. Amak bilang ada sekelompok orang yang sengaja membakar rumah dan toko kami di sana, karena mereka tidak suka dengan kesuksesan yang telah kami capai.
Aku terdiam. Pikiranku runyam, rasanya kepalaku ingin pecah. Mengapa masalah datang bertubi-tubi menimpaku seperti ini. Setelah semalam aku mengetahui Dimas akan menikah dengan wanita lain, pagi ini aku mendapat kabar bahwa keluargaku di kampung halaman terkena musibah.
Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk mandi kemudian bergegas ke kampus. Untuk apa lagi kalau bukan bertemu dengan Mila menerima tawarannya tadi malam. Di sinilah awal dari cerita suram hidupku.
Sesampainya di kampus, aku menemui Mila. Aku mengatakan aku butuh pekerjaan itu, aku butuh uang untuk membantu orangtuaku di kampung. Tentu saja Mila ragu, bisa-bisa aku kabur seperti tadi malam. Aku berjanji pada Mila, aku takkan kabur, aku akan profesional, aku benar-benar butuh pekerjaan itu, aku butuh uang segera. Mila setuju aku bergabung bersamanya.
Malam itu kali pertamanya aku terjun didunia prostitusi ini. Aku rela melakukan apa saja asalkan orangtuaku di kampung tidak kesusahan. Satu minggu berlalu, aku menikmati pekerjaan baruku. Dua minggu, tiga minggu, satu bulan. Aku memberikan uang hasil kerjaku kepada orangtuaku di kampung, aku bilang kepada mereka bahwa aku disini kerja part time dan ada sedikit uang untuk mereka. Mereka senang sekali, bahagia, ketika suara terdengar dari balik telephone. Aku tersenyum sambil menahan air mata ini. Dalam hati aku berkata maafkan Rina mak, pak, Rin melakukan ini demi kalian di kampung. Setelah dua tiga kalimat terucap, percakapan anak dan orangtua ini ditutup.
Pekerjaanku ini sudah berjalan enam bulan, setiap bulannya aku pun rutin mengirim uang ke kampung. Amak dan bapak bilang mereka perlahan sudah bisa membangun rumah, dari uang hasil pemberianku tersebut.
Soal kehidupanku di kota ini, aku tak pernah bercerita ke amak dan bapak. Kuliahku yang terbengkalai juga tak pernah aku ceritakan ke mereka. Jika mereka bertanya aku menjawab semuanya baik-baik saja tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana tidak, aku kerja dari pukul sebelas malam hingga tiga pagi untuk menemani om-om hidung belang. Setelah itu aku pulang ke kost tidur hingga siang terkadang sore baru aku bangun. Aku tak pernah lagi sholat, aku tak pernah lagi mengingat Allah. Sepertinya aku sudah bahagia dengan ini semua. Perlahan aku bisa membeli kendaraan pribadi, setelah sebelumnya aku kemana-mana naik taksi atau ojek, kini aku bisa membeli mobil sendiri. Soal mobil ini aku tak pernah cerita kepada amak dan bapak. Hanya Mila lah orang terdekat yang kini aku punya. Dimas pun sudah entah bagaimana kabarnya, aku tak peduli. Aku tak peduli pada semua yang telah membuatku sakit.
Pada suatu malam, di rumah tempat aku bekerja terdapat razia. Entah darimana polisi-polisi ini datang, untungnya aku belum sampai di tempat kerjaku itu, aku sudah mendapati kabar dari teman seprofesiku yang lain bahwa Mila tertangkap. Aku kehilangan pekerjaanku itu, aku kehilangan uangku. Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku jatuh sakit. Ketika itu aku memutuskan ke kampus untuk sekadar main dan melihat-lihat kondisi kampusku. Ternyata di papan pengumuman terpampang namaku dalam daftar mahasiswa yang di DO alias drop out. Aku kaget, mukaku pucat, aku tak sadrkan diri. Aku dibawa petugas kebersihan ke klinik kampus. Dokter yang memeriksaku menyarankan aku untuk banyak istirahat, dia bilang aku hanya kecapekan. Kecapekan, memangnya aku bekerja apa, aku tak melakukan apa-apa selama seminggu ini.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, kondisiku terus menurun dari hari ke hari. Aku memutuskan menjual mobil hasil kerjaku, kemudian uang itu aku gunakan untuk hidup sehari-hari. Pada hari itu juga aku memutuskan untuk ke Rumah Sakit ternama di kota ini untuk memeriksakan kondisiku. Sesampainya di RS, aku melewati beberapa cek kesehatan. Seperti cek darah. Dari situlah, aku tahu bahwa tubuhku terdapat virus yang telah menggerogoti sistem kekebalan tubuhku yang dari hari ke hari melemas. Aku positif HIV AIDS.
Aku kembali ke rumah kost-kostanku. Hancur sudah masa depanku. Aku kehilangan kuliahku, aku kehilangan kesehatanku. HIV kini menjadi teman baikku. Aku merasa kehilangan segalanya, aku kehilangan kau yang dulu selalu ada untuk aku, aku kehilangan perhatian yang selalu kau berikan, aku kehilangan kasih yang selalu kau lontarkan. Aku bak berteman sepi. Aku tiada arah, aku sepi, sunyi. Seakan tak satupun dari mereka peduli.
Aku tertunduk, aku menangisi semua ini. Apa salahku Tuhan, mengapa Kau seakan murka kepada hamba-Mu ini? Apakah ada kesalahan di masa lalu, hingga aku pantas mendapatkan semua ini? Aku terus menangis. Aku tak mampu mengangkat kepalaku, aku tak mau melihat kedepan. Rasanya tak adil apa yang aku dapatkan saat ini. Semuanya suram, hitam.
Aku baru tersadar, ternyata kehidupan yang beberapa bulan lalu aku banggakan dan aku nikmati inilah hasilnya. Penyakit yang menjijikkan HIV AIDS, begitu pula pengidapnya. Aku lelah, tak bisa mengembalikan segalanya. Masa depan yang dulu indah, aku ukir semuanya di atas kertas berwarna-warni, kini semua tak ada artinya lagi. Aku bakar, aku robek, aku coret. Buat apa pikirku dalam hati. Toh orang-orang seperti aku sudah tidak diharapkan lagi di dunia ini. Aku benar-benar sendiri Tuhan. Aku hanya tertunduk malu, menangisi keadaanku di kamar kost berukuran  4x6. Orang-orang tak ada yang mau menerimaku. Bagaimana dengan keluargaku yang di kampung nan jauh di sana? Ahh rasanya tak mungkin aku pulang membawa aib seperti ini. Hanya akan membuat malu seluruh keluarga besarku. Tidak. Sekali lagi tidak.

Note :
Manusia-manusia seperti Rina tidak seharusnya kita kucilkan, ingat jauhi penyakitnya bukan orangnya. Jangan hanya melihat sisi negatif dari penyakitnya, tapi coba kita telaah lebih dalam. Apa sebenarnya motif itu semua. Kita hidup bersosial, kita rangkul mereka. Masih banyak Rina Rina yang lain di luar sana yang membutuhkan kita manusia yang memiliki jiwa sosial dan simpati. Jangan biarkan Rina sendiri, Rina butuh orang-orang peduli seperti kita. Mari mulai dari diri kita sendiri kita buka tangan kita, kita bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan kita, tidak peduli mereka mempunyai latar belakang seperti apa, yang pasti kita harus mampu menjadi manusia yang memiliki hati yang tulus kepada sesama.

Nb: Cerpen ini aku tulis ketika peringatan Hari HIV Aids sedunia tanggal 3 Desember. Tidak bermaksud apa-apa hanya sebuah cerpen biasa.


Namaku Bella Ayunindya Pratama 16 tahun. Gadis belia yang belum paham apa-apa. Aku anak tunggal dari pasangan Herman Pratama dan Dewi Mukti. Aku hadir di tengah-tengah keluarga yang mapan, bisa dibilang konglomerat. Aku memiliki segalanya, apapun yang aku inginkan pasti bisa aku dapatkan. Aku duduk dibangku SMA, tingkat 3. Umurku memang baru 16 tahun, tapi tinggal beberapa bulan lagi aku sudah tidak mengenakan putih abu-abu ini lagi. Aku mengikuti program akselerasi di SMA ku. SMA paling favorit di kota ini, Jakarta.

Empat bulan menjelang Ujian Nasional, aku sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Aku mengikuti bimbel di beberapa tempat, satu minggu sekali sekolah juga mengadakan try out untuk mengukur sejauh mana siswa-siswa di sekolahku siap menghadapi ujian. Papa dan mama ku mendukung dan memberi semangat untuk ujianku ini. Mereka berdua memang sibuk, papa direktur disebuah perusahaan swasta terkenal yang bergerak dibidang otomotif, dan mama memegang perusahaan keluarga. Mama sebagai CEO di perusahaan bidang interior. Mereka orangtua yang memberikan fasilitas apapun demi kebaikanku.
Usiaku hampir 17 tahun itu artinya sebentar lagi aku menjadi orang dewasa, seperti papa dan mama ku. Sungguh aku ingin sekali merasakan bagaimana dewasa itu. Aku yang terlihat baik-baik saja di depan semua orang, menyimpan pedih hati yang sangat dalam. Tak ada yang tahu kecuali aku, papa dan mamaku. Papa dan mama ku memaksaku untuk bersikap manis pada semua orang, termasuk mereka berdua, orangtuaku. Mamaku tak pernah menyiapkan sarapan pagiku,  papaku tak pernah menemaniku sarapan pagi, mereka berdua sibuk mengurusi pekerjaan mereka.
Hidupku tak seindah yang kalian pikirkan juga kedua orangtua itu. Aku tak pernah mendapatkan pujian ketika aku mendapat nilai bagus, aku tak pernah berlibur ke pantai atau puncak bersama. Aku iri dengan teman-temanku, mereka hidup dikeluarga yang biasa, tidak berkecukupan seperti aku. Tetapi justru kasih sayang yang mereka terima lebih dari aku. Setiap pulang dari sekolah yang aku temui hanya mbok yem, pembantu rumah tangga yang telah bekerja selama seperempat abad untuk keluargaku. Mbok yem lah teman ketika aku ingin nonton film, mbok yem lah teman ketika menemani aku makan malam, dan mbok yem juga lah yang menyiapkan kebutuhanku sehari-hari.
Aku serasa tak punya orangtua. Apa yang mereka cari sebenarnya dengan bekerja terus-menerus tanpa berhenti seperti ini, apakah mereka todak pernah memikirkan aku, aku butuh kasih sayang mereka. Rasanya aku ingin pergi jauh, jauh sekali, meninggalkan gelimangan harta ini. Toh tak ada gunanya aku memiliki ini semua, jika hati aku kering tanpa ada kasih sayang dari orang di sekitarku, orangtua.
Aku sempat mempunyai pacar beberapa bulan lalu. Aku mengenalkan dika kepada papa dan mama. Sudah bisa ditebak, mereka langsung menolak Dika mentah-mentah. Dika diusir dari rumahku, aku kena marah sepanjang malam itu. Aku dikurung di kamar, di kunci dari luar. Aku hanya tertunduk, menangis sepanjang malam. Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Entah iblis darimana yang mampir di otakku terbesit pikiran untuk mengakhiri hidup ini. Aku mengambil pisau yang ada di meja. Aku goreskan di tangan kiriku, berkali-kali, tapi Tuhan berkehendak lain. Sekuat apa pun aku coba bunuh diri, ternyata Tuhan masih ingin aku tetap hidup, apapun yang aku lakukan tidak berbuahkan hasil.
Aku menyerah mencoba bunuh diri, itu hanya akan melukai diriku saja dan tak membuat semua menjadi lebih baik. Kamar yang mewah, dengan seluruh isinya ini nampak hampa dan kosong. Tak ada yang mampu aku lihat kecuali kegelapan di depanku. Keluarga yang aku inginkan tak pernah aku temukan disini. Aku seperti boneka yang menuruti semua perintah si empunya. Mereka bawa aku terbang tinggi, kemudian mereka hempaskan aku begitu saja. Aku harus menuruti semua perintah mereka. Mereka pikir aku ini mainan. Sadarkan mereka Tuhan, sebelum aku sendiri yang akan pergi dari hidup mereka untuk selamanya. Pa, Ma Bella hanya ingin seperti anak seusia Bella yang lain, mereka mendapat kasih sayang penuh dari orangtua mereka. Mereka tidak di tuntut macam-macam, mereka sesuka hati mereka mengambil keputusan apa pun asalkan bertanggungjawab. Sedangkan aku, aku masih kalian anggap anak kecil yang apa-apa harus serba di atur. Bella capek pa ma. Bella seperti hidup sendiri di dunia. Tidak ada yang bisa menjadi tempat untuk Bella berkeluh kesah, berbagi, bercerita tentang banyak hal sepanjang hari.
Tuhan, Kau tak adil padaku. Aku tak pernah meraskan kebahagiaan yang utuh, hanya sedih yang selalu aku rasa selama ini, dimana keadilan-Mu. Bukankah Engkau Maha Adil? Terkadang aku ingin hidup dikolong jembatan sekalipun, asalkan aku mendapat kebahagiaan dari kedua orangtuaku. Meskipun sulit untuk mencari sesuap nasi, tapi palah arti semua itu, jika kebahagiaan telah kita dapat dari orang sekitar kita.
Orangtuaku tak pernah memberikan sedikit saja ruang gerak untuk ku memilih suatu tujuan. Seperti perguruan tinggi dan jurusan yang akan ku ambil nanti. Aku belum melaksanakan ujian nasilnal pa, ma, tapi kenapa segala sesuatunya sudah kalian atur sesuka kalian. Padahal aku juga punya pilihan sendiri yang aku rasa itu terbaik untukku.
Menjelang tiga hari ujian nasionalku berlangsung, entah apa yang aku pikirkan. Aku sama sekali tidak memikirkan ujian nasonalku, aku tak punya kesiapan yang selama ini aku cari. Ketika itu, aku memberanikan diri mengendarai mobil pribadi papa, aku pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Di tengah perjalanan aku mendapati ponselku berbunyi, aku mencoba mencari ponsel itu. Aku meraba-raba di dasbor mobil. Di pertigaan yang tak jauh dari rumahku, ada truk yang membawa material bangunan, aku tak bisa mengontrol mobilku. Aku coba menghindari truk itu, tapi… Aku terlambat, truk itu melaju kencang dan seketika truk itu menabrak mobil papa ku dan aku. Entah siapa yang menolongku, tiba-tiba aku dibawa ke rumah sakit.
Di ruang ICU saat itu. Setelah selama berhari-hari aku megalami masa kritisku disitu, aku sadarkan diri. Papa dan mamaku disampingku, dari suaranya mama menangis tersendu-sendu melihat tubuhku yang penuh dengan perban. Dan papa mungkin sangat terpukul ketika itu ia hanya diam tak bersuara. Aku tak tahu kenapa, kaki ku serasa tak bisa digerakkan. Mata ku buka perlahan, tapi aku tak bisa melihat cahaya apa pun. Yang aku lihat hanya gelap. Yah… mama bilang aku kehilangan penglihatanku, dan kaki ku diamputasi karena luka parah yang aku derita.
Yang aku tanyakan pertama kali kepada mereka adalah, “bukankah hari ini kalian bekerja, kenapa tidak ke kantor, kenapa masih disini?” terdengar suara mama yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk papa. Mama terbata-bata mengeluarkan kata-kata sambil menangis. Mereka berdua meminta maaf padaku. Aku bilang kalian sudah terlambat. Kalian puas melihat aku sekaranag, kehilangan penglihatan dan kaki ku. Boneka yang selalu bisa kalian atur kini telah cacat. Kalian khawatir, kalian tidak punya mainannz untuk bisa dimainkan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang mereka lakukan dengan kaki kanan ku yang hilang, mereka mencoba menangis dikakiku. Tapi itu tidak akan mengembalikan semuanya bukan.
Selama tiga minggu aku dirawat di rumah sakit. Aku dibawa pulang kerumah yang dulu seperti istana bonekaku itu. Tapi entahlah, toh aku tidak bisa melihat itu lagi. Seharian aku berbaring di tempat tidur, dengan soft bed yang sama aku rasakan sebelum aku kehilangan penglihatanku dulu. Makan, minum, mandi dan apa pun selalu dibantu dengan suster khususku. Papa mama? Aku tidak tahu, aku tak pernah tahu apa yang mereka lakukan kini dan aku tidak mau tahu lagi.
Berhari-hari aku hanya terbaring lemah di kamar tidurku. Aku bilang kepada perawatku bahwa aku ingin kepantai. Tapi kata perawat muda itu, aku tidak boleh keluar terlalu jauh seperti pantai, karena lukaku belum sepenuhnya kering. Tapi aku ingin ke pantai, aku ingin suasana indah pantai. Akhirnya perawat memperbolehkan aku untuk ke pantai setelah aku mengamuk apa pun yang ada di sekitarku.
Hari jum’at 6 september 2013 aku, papa, dan mamaku pergi kepantai bersama. Baru kali ini, ya baru sekali ini aku dan orangtuaku berlibur bersama. Di sana aku yang duduk dikursi roda, menatap kosong ke depan. Mama menceritakan keindahan pantai itu, begitu pula papa yang ikut menyahuti cerita mama. Aku meminta papa dan mama memelukku, mereka memelukku. Hangat dan penuh kasih sekali. Pelukan terakhirku. Ya, pelukan terakhir dan liburan prtama sekaligus terakhir. Aku menutup mataku, sebelum ini aku meminum racun yang membunuhku beberapa kemudian. Racun itu aku simpan d ilaci meja kamarku, jauh sebelum aku seperti ini. Ketika aku masih memiliki segalanya. Aku bahagia, bahagia sekali ketika itu.

Sudah saatnya Bella istirahat. Pa, Ma terimakasih untuk semuanya. Terimaksih untuk selama ini, Bella beruntung telah memiliki orangtua hebat seperti kalian berdua. Maafkan Bella jika Bella hanya menyusahkan kalian berdua. Bella beruntung pernah terlahir dari keluarga ini. Bella ingin istirahat. Lihatlah ! Bellla kembali memiliki penglihatan dan kaki. Papa dan mama baik-baik, selalu do’akan Bella ya. Bella sayang papa dan mama. Bella istirahat dengan tenang di pangkuan Tuhan. Salam sayang dari Bella di surga.
© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.