Tampilkan postingan dengan label Hanya aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanya aku. Tampilkan semua postingan
Hari ini saya mendapatkan kartu untuk pemungutan suara tanggal 9 april besok. Jujur saja, saya bukan orang yang menyukai politik ttapi saya sadar saya tidak boleh membenci politik. Toh kita hidup dalam suatu negar yang apa-apa serba diatur dengan politik. Jadi saya memutar otak saya kembali. Nah, tinggal berapa hari lagi kita akan menggunakan hak pilih kita untuk memilih calon-calon legislatif di daerah kita masing-masing. In fact, ini pertama kali saya menggunakan hak pilih saya. Untuk mahasiswa seperti saya mungkin tidak sedikit pula yang memilih golput (golongan putih), bagaimana tidak, mereka yang rata-rata sudah dewasa berpikir "ahh untuk apa memilih ini, hanya korupsi saja, gak memenuhi janjinya" dan bla bla bla berjuta alasan lainnya. Sering juga saya jumpai di sekitar tempat saya kuliah di Jogja tepatnya, hampir setiap hari jalannan sekitar kampus saya digunakan kampanye partai X. saya sudah tiga atau bahkan empat kali melihat kampanye tersebut. Dan kalian tentunya juga sudah tidak asing lagi, jikalau kampanye itu dilakasankan seperti apa. Ya, dengan bergerombol memenuhi jalan, menggunakan atribut partai yang mereka bela, dan ironisnya mereka tidak mengedepankan keselamatan. Mereka tidak menggunakan helm untuk para pengguna sepeda motor, dan tak jarang juga saya temui anka-anak dibawah umur mengikuti "ritual" ini. Entahlah... mereka terpaksa atau memang kemampuan mereka sendiri itu tidak penting bagi saya. Saya hanya berfikir, apakah dengan cara mereka seprti itu, kita para mahasiswa akan memilih mere? No. Mereka menggunakan cara-cara norak, dan kampungan (maaf kalau terkesan kasar). Dan yang membuat saya ilfeel ialah ketika foto-foto caleg dari partai tertentu dipasang di pohon-pohon, di pinggir jalan dengan visi-misi yang tidak jelas dan terkadang "nyleneh". Saya lelah melihat birokrasi negara ini, mau sampai kapan seperti ini??? Kita tidak juga tahu.
Cerita tentangmu selalu menarik. Bahkan cerita tentangmu yang sering menyakitiku, kasar, penuh emosi, tapi bagiku itu tidak ada apa-apanya dari romantisme yang pernah kamu berikan. Inilah cerita itu, antara aku dan sebut saja Alfat…

Aku mengenalmu kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika aku duduk di bangku SMK kelas 1. 16 Mei 2011, ketika kelulusan kelas 3 tingkat Sekolah Menengah Atas/sederajatnya, aku memutuskan meminta no ponselmu ke teman satu kelasku, Septi. Aku dengar kamu dan Septi adalah teman baik semasa SMP. Dengan alasan aku ingin bertanya mengenai Brian, mantan kekasihku—yang juga sahabat baik Alfat— mengapa Brian memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya tanpa alasan satu pun. Itu yang membuatku bertanya-tanya hingga akhirnya aku tahu hal itu dari mulut Brian suatu hari.
Setelah mendapat no ponsel dari Septi, aku mengirim pesan kepada Alfat, bertanya banyak hal tentang Brian yang tidak jelas alasannya memutuskan aku. Alfat menjawab bahwa dia tidak pernah tahu alasannya, karena Brian tidak pernah bercerita tentangku. Kalaupun cerita Brian hanya bercerita satu-dua patah kata, itu juga karena Alfat memaksanya. Aku meminta bantuan alfat agar dia memaksa Brian bercerita kepadanya mengapa selama ini dia memutusku tanpa alasan yang jelas. Aku hanya mampu berdo’a, semoga Alfat berhasil membujuk Brian untuk bercerita kepadanya.
Hari berikutnya aku bertanya kepada Alfat, dia bilang tidak ada perkembangan. Hari berikutnya aku terus memburu pertanyaan-pertanyaan, tidak ada jawaban. Hari berikutnya aku bertanya ada perkembangan apa, Alfat bilang tidak ada. Baiklah aku memutuskan untuk berhenti meminta Alfat mencari tahu, biarkan saja ini terus menjadi rahasia. Entah mengapa hari-hariku diisi oleh Alfat. Dia begitu menyenangkan, dan romantic. Romantic sekali manurutku. Aku melihat Alfat sekadar melalui social media, hanya itu. Hari demi hari dia memberikan perhatian yang membuatku semakin nyaman saja. Suatu hari, dia memutuskan untuk menjemputku di sekolah—dia mengajakku bertemu.
Itu pertemuan pertamaku dengan Alfat. Alfat memintaku menjadi kekasihnya, kalian boleh percaya boleh tidak. Katanya falling in love at the first sight. Aku pun tidak percaya dengan hal itu, ahh mungkin hanya emosi saja. Tapi untuk kali ini, tidak. Alfat benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia memperlihatkan kasih sayang, perhatian, dan seperti kaum muda lainnya yang tengah jatuh cinta.
Sejenak aku merenung di malam yang sunyi. Apa yang aku lakukan? Mengapa aku menerima cinta Alfat, bukankah awalnya aku ingin mencari tahu alasan Brian memutuskan aku, dan kini aku berpacaran dnegan Alfat, sahabat baik Brian. Ya Allah apa yang telah aku lakukan. Aku mencoba berbicara dengan Alfat, bagaimana solusi dari masalah yang tengah kita hadapi. Mulai saat itu, Alfat yang dulu selalu manis denganku kini menjadi mudah marah, emosional, dan kasar sekali terhadapku. Apa yang membuatmu seperti ini, wahai kekasihku yang dulu selalu manis dan romantic?
Ternyata masalah yang datang dalam hubunganku dengan Alfat tak cukup sampai di situ. Orangtua dan kakakku tidak menyukai Alfat, mereka tidak menyetujui hubungannku dengannya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku mencoba berbicara pada Alfat, tapi itu justru tidak menyelesaikan persoalan malah menambah rumit. Alfat selalu marah-marah dan tidak bisa menerima ini semua. Dia seakan-akan ingin membunuh kakakku yang menghalangi hubunganku dengannya. Hari demi hariku bersama Alfat semakin sulit. Kita mencoba bertahan satu sama lain, tetapi seolah-olah tembok pemisah antara kita semakin menjulang tinggi. Alfat semakin tidak bisa menerima, dan selalu emosi, setiap malam aku dibuatnya menangis. Tidak ada malam tanpa air mata setelah masalah yang kita hadapi terus datang. Sebelumnya Alfat juga bercerita kepadaku bahwa Brian tidak sedekat seperti dulu, itu penyebabnya adalah hubunganku dengan Alfat. Itu semua karena aku. Aku membuat dua sahabat menjadi renggang, bermusuhan. Akhirnya September 2011, terhitung empat bulan hubunganku dengan Alfat, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Alfat sebelumnya tidak bisa menerima itu, tapi aku ngotot aku berkata “Ini terbaik untuk kamu bie, untuk hun juga. Hun ingin bie kembali damai dengan Brian, dan Hun tidak mau membuat bie emosi setiap hari. Hun yakin ini terbaik untuk kita bie.” Itu kata terakhir ketika kau dan Alfat putus. Hun adalah panggilan sayang yang diberikan Alfat untukku, dan Bie adalah panggilanku untuk Alfat. Hun artinya bodoh, Bie artinya tolol. Kata itu Alfat dapat dari temannya. Memang konyol kedengarannya, tapi manis, sungguh manis sekali. Alfat juga pernah membuat tattoo temporary di jari tangannya yang bertuliskan namaku “HSTY”.
Setelah hubunganku dengan Alfat berakhir, aku mendengar dari temanku bahwa Alfat dan Brian telah kembali baik seperti dahulu. Syukurlah.
Alfat dan aku masih menjaga hubungan baik. Bahkan kita pernah beberapa kali memutuskan untuk bertemu. Aku pernah melihat jari tangannya yang di tattoo dengan tulisan “FOOL” yang memiliki arti bodoh. Itu artinya itu… aku juga kini memiliki hubungan yang baik dengan Brian, aku beberapa kali membuat janji dengan Brian. Pada suatu ketika aku bertemu dengan Brian, dia mengatakan alasan mengapa dulu dia memutuskan mengakhiri hubunganku dengannya, karena dia tidak ingin aku melihat Brian yang sedang memiliki masalah dengan Fery—mantan kekasihku sebelum bersama Brian. Kata Brian dirinya ditantang Fery menyelesaikan urusan dengan cara jantan. Aku tidak menahu akan hal itu. Sampai hampir setahun kau akhirnya tahu, dari mulut Brian sendiri.
Itu cerita tentangmu, yang selalu menjadi kawanku untuk mengingat kembali kenangan yang pernah kita lewati berdua. Indah bukan, manis bukan, romantic bukan ketika kamu menyayangiku tanpa hambatan dan masalah yang menimpa kita. Ini hanya sekadar menulis ulang apa yang sudah aku dan Alfat pernah lalui, tidak ada maksud apa pun. Aku seolah menjadi talent sekaligus sutradara dalam cerita ini.
           


Alhamdulillah... baru malam tadi aku membaca artikel tentang Australia, baru tadi malam aku membicarakan ini dengan temanku. Pagi ini aku sungguh mendapat kejutan yang tidak terkira, aku mendapat info bahwa akan diadakan seminar mengenai sekolah atau kerja di Australia. Ini kesempatan yang jarang sekali datang. Aku langsung mendaftarkan data diri ku untuk mengikuti seminar tersebut. Seminar akan diadakan Minggu 9 Februari @4p.m dan Senin 10 Februari @6p.m di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa. Aku memilih hari minggu, dan berharap tidak ada halangan untuk mengahadiri seminar itu. Semoga aku mendapatkan informasi mengenai Australia lebih lanjut. Terlebih tentang kota tujuanku Melbourne. Aamiin
Masa depan...
Siapa yang tahu ?
Kita hanya mampu berharap-harap cemas sambil terus melakukan hal yang.. ya menurut kita bermanfaat
Itu pula yang aku lakuin saat ini
Aku hanya bisa berharap mendapatkan masa depan cerah --seperti kebanyakan orang pula.
Prioritas utama dalam hidupku ialah mendapatkan Surga Ibu
Berbakti --itulah cara salah satunya
Aku hanya gadis biasa yang tak bisa berbuat banyak
TApi sebisa mungkin aku berusaha membuat Ayah Ibuku bahagia
Aku tak seperti ketiga kakak-kakakku yang kini telah memiliki pekerjaan
Mampu memberikan ini-itu kepada Ayah Ibu
Tapi aku...
Hingga umurku 18 tahun belum mampu memberikan apa-apa untuk mereka
Tapi sungguh aku ingin sekali memberikan kebahagiaan luar biasa
Lulus kuliah, bekerja minimal 2 tahun, setelah itu mencari beasiswa di Australia (Aamiin aamiin aamiin)
Itu mimpiku sejak aku berfikir tentang masa depan
Aku ini anak bungsu
Anak yang harus menjadi sadaran di hari tua orangtua --kata kebanyakan orang jaman dulu
Aku sadar akan hal itu
Maka dari itu, mulai detik ini aku ingin mengubah masa depanku
Mewarnai setiap hariku
Memanaatkan setiap helaan nafas
Aku bersyukur akan semua hal yang aku miliki
Banyak orang-orang di luar sana tak seberuntung aku
Inilah hidup
Jika semua menjadi orang kaya --misalnya-- tentu tidak akan ada manusia yang bersyukur
Allah Maha Adil
Setiap kehidupan umat-Nya ada pasang-surut
Layaknya roda yang berputar
Kadang di atas kadang di bawah
Yang pasti...
Bagaimana kita tetap melanjutkan hidup ini ketika cobaan menimpa?
Bagaimana kita melewatinya?
Tentu dengan sikap bijak dan lapang
Itulah hidup,
Hidup harus terus berjalan dengan kunci yang menjadi motto dal hidupku "Think Positively and Stay Husnudzon"


November wish ku menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dalam kebaikan dengan keikhlasan. Aamiin semoga Allah selalu melindungi setiap langkah ku dan memberi kebahagiaan untuk orang-orang di sekitar ku.
Inilah aku, gadis kecil yang memiliki banyak angan dan cita-cita. Siapa pun kalian, tak ada yang mampu menjatuhkanku. Hidup ini terlalu singkat untuk meladeni si pembenci. Sudahlah, biarkan mereka mencibir memakimu bahkan memfitnahmu, tak perlu pedulikan mereka. Toh, bukan mereka yang menghidupimu, bukan mereka yang memberimu makan. Mereka hanya segilincir kerikil kecil yang mencoba untuk menjatuhkan. Tuhan selalu bersamaku dan aku percaya itu. Semua yang aku lakukan semata-mata untuk kebahagiaan oranglain, yang paling utama orangtuaku. Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih sayang padaku, Dia masih memberi kesempatan aku untuk melakukan hal yang berguna bagi oranglain. Mungkin sebagaian dari mereka heran, kenapa aku tidak pernah murung, aku selalu ceria. Kuncinya adalah "think positive and stay husnudzon", Allah tahu apa yang hamba-Nya butuhkan meskipun terkadang kita masih saja kurang. Yah...itulah manusia, mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah Tuhan mereka berikan.
Aku merasa hidupku lebih berwarna dan lengkap. Ada si penyayang ada si pembenci. Mungkin, kalau hidupku adem-adem saja aku tidak akan pernah tahu bagaimana menghadapi orang-orang yang tidak senang melihat aku dan tidak pernah mampu menjadi dewasa. Tuhan aku bersyukur pada-Mu telah Engkau ciptakan aku ke dunia ini. Aku sadar dengan segala kekurangan yang aku miliki aku masih punya semangat untuk membahagiakan orang-orang sekelilingku. Teruntuk orang tuaku yang tidak pernah lelah memberi dukungan baik moril maupun materil. Aku bangga memiliki orangtua rukun dan harmonis seperti kalian. Aku selalu berdo'a kepada Sang Maha Pencipta untuk selalu menjaga kalian, melancarkan segala urusan kalian, memberi kesehatan pada kalian agar suatu saat ketika aku telah menyandang kesuksesan dan mencapai cita-citaku kalianlah orang pertama yang akan memelukku sambil berkata "aku bangga padamu putri kecilku". Semoga malaikat dikanan dan kiri kalian selalu bisa mengawasi kalian. Aku sayang kalian Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin membuat kalian kecewa dengan ulah-ulah nakalku. Aku yang sekarang akan mengubah segala tingkah burukku sewaktu sekolah umum kemarin. Suatu saat nanti semesta akan menjadi saksi atas mimpi-mimpiku ini. Aamiin
© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.