Tampilkan postingan dengan label Coretan Sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Sederhana. Tampilkan semua postingan

Sebelum memulai tulisan saya, pertama saya ingin mengucapkan Selamat Hari Difable Internasional, 3 Desember, untuk teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia dan seluruh dunia. Semoga hak-hak kalian bisa terpenuhi laiknya orang-orang normal lainnya. Sekaligus saya ucapkan Selamat Hari Relawan Internasional , 5 Desember, untuk orang-orang yang merelakan waktunya untuk berbagi terhadap sesama tanpa memandang apa atau siapa. 
Nah, perkenankan saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman saya menjadi seorang relawan melalui tulisan dalam blog ini. Apa itu relawan? Menurut KBBI versi offline yang telah saya unduh dari playstore lalu saya pasang di telepon pintar saya, kata relawan memiliki padanan kata dan juga versi singkat dari sukarelawan. Sukarelawan, menurut KBBI, artinya orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela tidak karena diwajbkan atau dipaksakan.
Lalu, setelah tahu definisi relawan untuk apa selanjutnya? Yup, pertanyaan yang tepat untuk uraian selanjutnya dalam tulisan ini. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 27-30 November 2016, saya bersama ke-sembilan belas teman menjadi relawan dalam Musyawarah Nasional Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) ke IV. Munas ini bertempat di Balai Diklat Kemensos, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.  Peserta Munas ini tentu saja berasal dari seluruh penjuru negeri, dari Sabang sampai Merauke. Peserta Munas ini terdiri dari tiga jenis disbilitas, tuna netra, tuna rungu-wicara, dan tuna daksa. Ketiga jenis disabilitas ini berasal dari bermacam-macam kota di Indonesia yang saya jauhhh, jauuuhhh sekali. Ya Karena memang, saya belum pernah pergi ke luar pulau Jawa. Jadi wajar saja saya bilang itu jauh hehe...
Dari ketiga jenis disabilitas itu, saya mendapatkan ilmu atu di briefing oleh ketua PPDI DPD DIY Bapak Dr. Akhmad Sholeh. Beliau adalah ayahanda dari teman saya Nidatul Khasanah, teman satu kelas di perkuliahan yang menawari saya untuk menjadi relawan. Pak Soleh, beliau akrab disapa, merupakan orang dengan disabilitas tua netra. Pak Soleh memberikan pemaparan untuk ketiga jenis disabilitas yang akan menghadiri Munas tersebut.
Yang pertama, untuk tuna netra. Seperti apa mereka dan bagaimana kita relawan dalam mendampingi mereka? Terkait makan, kita sebagai relawan harus menyebutkan menu apa saja yang tersedia supaya mereka bisa memilih. Kemudian, tunjukan dimana kamar mandi. Karena Munas ini menyediakan penginapan, per kamar untuk 2-3 orang, jadi kamar mandi sudah tersedia di kamar masing-masing. Untuk di aula, atau ketika ada narasumber yang berbicara, relawan harus mengarahkan tuna netra untuk menghadap ke pembicara. Karena, biasanya tuna netra menghadap ke sumber suara (sound system) bukan ke pembicara. Lalu, yang terakhir antar kemana mereka mau. Misalnya, penyandang tuna netra ingin duduk di serambi, relawan harus mengantarkan dan membimbing mereka.
Dalam pendampingan tuna netra ini, saya pribadi mendapat banyak pembelajaran baru bagaimana memperlakukan mereka dengan baik. Misalnya tuna netra yang tidak memakai tongkat bantuan jalan, caranya yaitu kita menuntun mereka. Kita berjalan lebih dahulu di depan mereka. Kemudian penyandang tuna netra dibiarkan memegang lengan di atas sikut kita. Usahakan lengan kita selemas dan sesantai mungkin agar tidak menimbulkan hal-hal aneh dalam benak penyandang tuna netra. Dalam melewati tangga, sebelumnya kita harus berhenti di depan anak tangga lalu menginformasikan bahwa akan melewati beberapa anak tangga. Lalu usahakan kita berjalan satu anak tangga lebih dulu. Sebelum sampai di anak tangga terakhir, kita juga perlu menginformasikan bahwa akan segera sampai di anak tangga terakhir.
Jenis penyandang disabilitas kedua, yaitu tuna rungu-wicara. Sebagai seorang relawan, kita harus berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa oral yang jelas. Hal ini dapat membantu mereka dalam memahami apa maksud kita melalui melihat dari gerak bibir kita. Selain dengan cara itu, kita juga bisa menggunakan Bahasa tulisan. Cara ini juga bisa digunakan oleh relawan atau pendamping pemula seperti saya. Dengan menulis suatu informasi dengan lugas dan sesuai EYD, akan membantu mereka dalam memahami. Jangan pernah menggunakan Bahasa gaul yang mereka sulit paham. Jika, kita memiliki bekal pengetahuan Bahasa isyarat, hal ini akan sangat membantu. Karena komunikasi antar relawan dan penyandang tuna rungu akan mudah. Tidak semua tuna rungu juga tuna wicara, arena ada sebagian dari tuna rungu yang masih tetap mampu berbicara seperti orang normal lainnya. Dalam kasus ini pendampingan akan mudah. Karena, ketika mereka menginginkan sesuatu mereka bisa langsung mengatakannya.
Lalu yang terakhir yaitu tuna daksa. Tuna daksa ialah seseorang dengan disabilitas kehilangan salah satu anggota tubuh, seperti tangan atau kaki. Macam tuna daksa yaitu ada yang sebagian mereka menggunakan kursi roda, ada yang memakai kruk dan ada yang memakai tongkat. Untuk menangani disabilitas tuna daksa yang memakai kursi roda, kita harus selalu stay di belakang mereka. Di Balai diklat Kemensos DIY ini sudah tersedia ram ditempat-tempat tertentu yang sekiranya akan dilalui dengan kursi roda. Ram adalah papan yang biasanya digunakan untuk akses penyandang disabilitas. Dengan fasilitas ini, penyandang disabilitas yang lain seperti tuna netra dengan tongkat bantuan jalan juga lebih mudah. Namun, tidak semua penyandang disabilitas tuna daksa ingin dibantu relawan. Malahan kebanyakan dari mereka mampu melakukan pekerjaan sendiri. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa melakukan itu sendiri. Jadi, mereka sudah bukan orang yang sedikit sedikit harus dibantu. Walau tidak menutup kemungkinan, mereka tetaplah harus kita bantu.
Etika dan sopan santun kita terhadap penyandang disabilitas juga teta harus kita junjung. Tidak semena-mena meskipun mereka difable dan kita sebagai orang normal bisa se-enaknya. Tidak. Tidak bisa seperti itu. Pengalaman menjadi relawan mengajarkan saya bagaimana berbagi, belajar dan berteman dengan orang yang kesehariannya tidak akrab saya temui. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa menutup mata akan hal-hal seperti itu. Pengalaman yang sangat berharga bisa berkenalan dnegan Bang Riko dari Padang, Bang Ucok dan Pak Danial dari Aceh, Pak Limawan Vihien sang penulis buku “Cinta Berkelas Sang Penyandang Disabilitas”, Bu Risna, Pak Gufron selaku ketua umum pusat PPDI dan banyak teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk obrolan bermanfaat dari Pak Daming dosen hukum di Bogor, Bang Butong yang membagikan buku pegangan penyandang disabilitas yang disertai ilustrasi dari tangan dinginnya, Pak Aris dari lampung yang memberi nasehat tentang asmara, Pak Iwan yang sabar, dan bapak-bu peserta Munas yang tidak bisa saya ingat namanya satu per satu dikarenakan keterbatasan mengingat.
Terima kasih untuk waktu dan kerja sama dari seuruh relawan Munas. Kalian orang-orang yang luar biasa. Dan saya bahagia bisa dipertemukan dengan orang seperti kalian. Berjuta ucapan kagum saya terhadap kalian. Saya berharap, teman-teman lain tergerak hatinya untuk selalu peduli terhadap teman-teman difable. Khususnya mereka yang keseharian akrab dengan teman-teman difable, untuk tetap sabar dan terus menebarkan kasih sayang. Jangan sungkan untuk selalu berbagi, karena berbagi bukan melulu soal uang.


Yogyakarta, 4 Desember 2016
Aksara pertama
mengawal cerita
atas nama embun
yang sibuk mencumbu daun.

Serangkai nada
mengalun merdu
sampai di telinga
bergema sendu.

Mentari menyeruak ungu
memenuhi langit pagi
tanda satu harapan baru tercipta.

Ada hal yang layak dipungut
isyaratkan titik temu
aku-kau dalam Rindu
yang bertautan sendu.

Untukmu
:sebuah nama,
ku persembahakan Rindu.
selintas pijakan kuda besi terbang
dalam gumpalan awan jingga
o Senja terbelah
mengekor hundus asap di wajahmu
turut-turut burung gereja
lari berujung dalam lingkaran marun
merah merekah beradu dalam jingga

O Senja itukah kau
membawa secuil oasis
semelekat embun menjelang rinai
di kelas sore bangku lipat
kutunggu kau,
Senja di ujung petang
bersama kabut jingga.
 oranye nan lembut menghambur
saentoro kota
teduh nan asri
darimu alam yang kian sahaja

sudah kubilang
batok kepala mereka kosong
otak udang

tak mau melihat keindahan-Nya
barang sebentar
kebelet ngehits

o, Amaryllis ku yang cantik
o, amaryllis ku yang malang

malangnya nasib
sebabkan kebundelan otak populer
pemikir kolot, kebelet ngehits, mental perusak

sebab hakikat keindahan ialah
dia yang tak tersentuh tangan kotor manusia

istirahatlah, datang tahun depan
dengan dahaga dari penjagamu;
alam.
Terlahir sebagai Senja
dibawah asuhan tentara langit
berteman surya dan fajar
lalu berkisah bersama gemintang malam.
Rindu yang tiba-tiba tersampaikan
lewat angin
berkisah pada laki-laki ceking;
merindu Senja.
Sudah tertutup oleh lembar baru.
Sudah terhapus lewat rinai hujan.
Sudah kering seharga balutan malam.
Melalui gunung dan danau
angin menghempas seamplop rindu.
Rindu yang bukan untuk Senja.
Rindu hitam yang tak pantas.
Rindu palsu.
Ada laki-laki brengsek yang
tak tahu malu
menyempil rindu pada Senja
lewat angin.
Berkilat dan bermanis madu
bak angin buta mengendus.
Tidak!
Angin melototi Senja
yang sedari tadi tercampakan.
Ada laki-laki brengsek yang
tak tahu malumenarik sepotong Senja
lalu ditinggalkan
dibawah derai perai
hujan.
Susuri tengah malam berkabut.
Senja tak protes.
Sebab diamnya adalah kekuatan.
Buih-buih hujan bercecaran
dalam gaun putih-hitam membalut
belulang;
nanar.

Untuk sebuah sore sederhana
ku singkap syifa
tak terperi
buncah rindu mengular
'O inilah aku,' seruan di atas ranting kering
daun menguning
gemiricik menghantar seruan
asma-Nya.
Di penghujung malam, janjiku
membasuh kerontang jiwa
kala senyap malam membunuh.
Akulah syifa.
Jalan ini pernah kita lalui
bersama;
debu dan lengangnya bersaksi
atas sesuatu yang pernah menjadi 'kita'.
Jalan ini pernah kita lalui
sepanjang canda, tangis air mata
beriring munuju singgasana.
Jalan ini pernah kita lalui
menyapa jumawa dan kalis
bahwa 'kita' bakal abadi.
Tapi itu dulu
sebelum kau putuskan: lelahmu.
Jalan ini masih berdebu dan lengang
bersama sunyiku yang menepi.
Bukankah tapak kaki terasa ringan
setelah berulang sisa debu sepatu memulas aspal hitam.
Sepertiku sekarang: ringan
tanpamu tanpamu.

*Sepanjang jalan menuju kampung Karangbendo
Senja sayu dan murung
sembunyikan tata marun binar
membekas percik aksara di lembar mata.
Tidak untuk membuka toples rindu
berenda merah jambu
semanis senyum gadis bungsu.
Aku merindumu
siluet merah pitam di bawah
lekuk senja
syahdu, itu yang aku mau.
Senja kala itu
menyeruak menghambur tak terperi
sekali dua ku dapati ekor mata gelas
mengintip di balik lalu lalang deru aksara
tak ayal jarak satu deka meter
dalam kerumunan aksara;
menyapa.
Kala senja jatuh di singgsana
sudi ku sunggingkan senyum.
Sebab kita tak perlu beraksara
membiarkan senyum senja menumpah sesorean
intaian dawai lorong bergemuruh
menjarahi sesak arteri.

Sudut kamar tua
Hitam nan renta
Kususul sosok yang berkelebat
Diiringi anyelir tersemat

'Tidakkah kau bosan?'
Ucapku beradu dengan debu
merah jelaga menggatungi hilir jendela
menampakkan siluet yang ku kenal
lalu kau terdiam, menjumputi kepingan dirimu

'habis sudah semua'

giliranku menertawakanmu.

Tuhan jika malamku bukan malamnya,
ijinkan dua tiga bait terurai lewat angin.
Jika waktuku bukan bagian waktunya,
biarkan kata yang tak sempat terucap mengudara.

Aku kalah lagi
ketika jahat malam menjadi wadah kenangan
Ah...
'Sudah cukup, Nak'
Waktu menyeru di telinga
'Belum'
jawabku pada Sang Waktu
Dan satu-dua penggal darimu
terlihat meringis di sudut kamar pucat putih.
'Kau datang lagi malam ini?'
tanyaku
Dan lagi-lagi kau meringis,
'Kau datang lagi malam ini?'
dan kau hanya terdiam
'Kau datang lagi malam ini?'
lalu ku palingkan muka ke larik-larik kata.
Aku diam,
tapi lenguhan nafasmu dan wanitamu terekam
'Kalian bercinta di kamarku!'
Siluet tubuh molek yang aku kenal.
lalu ku palingkan muka ke larik-larik kata.
Aku diam.
Diam dan membiarkan kalian menyelesaikannya.


Abaikan kunjungan semalam
Anggap tak pernah ada jumpa
Walau ilalang bermuara kalam

Aku dan kau adalah bukan siapa 
Terduduk dan termangu, setelah
hadirmu ditengah kecamuknya lintas akal dan hati,
ditengah kalutku melupa hadirmu,
ditengah piluku akan bayangmu,
lalu aku kalah.

Terduduk dan termangu, setelah
kau hapus kertas putih yang pernah kita penuhi tinta emas 'kasih sayang',
kertas putih yang kita punya untuk kita tulis lagi-dan-lagi sajak romantis
refleksikan aku dan kau.

Terduduk dan termangu, setelah
kau bungkam mulutmu,
kau sumbat telingamu,
kau biarkan tarian duka menjaga sunyiku,
hingga hawa iba memancar dari bola mata yang dulu sering ku bersitatap.

Kau kah itu laki-laki yang penuhi buku dua tahunan?
Yang membuatku terduduk dan termangu?
Sebab mengingatmu harus sesakit ini,
biarkan musik nanar mengalun sendu,
tersemat gaun kusut berpendar buncah,
teriring tarian duka,
dan nganga luka yang masih belum kering.




Tuhan, boleh aku cerita?
Bukan untuk berkeluh kesah seperti dulu.
Inginku banyak dan penerimaan yang sulit.

Tuhan, boleh aku bertanya?
Mengapa harus ada Adam dan Hawa?
Yang keduanya tak mampu menahan godaan syaitan,
Hingga akhirnya tertularkan pada generasi seperti kami—manusia.

Tuhan, boleh aku istirahat?
Sejenak, lalu kembali ke masa kecil
Dimana hal paling sakit adalah ditinggal ibu membeli sayur.

Tuhan, boleh aku memohon?
Kembalikan aku ke masa kanak-kanak, lugu nan polosku.
Dimana ayah selalu membopongku di pundaknya.

Tuhan, boleh aku meminjam?
Pinjam tinta-Mu,
Untuk ku tuliskan orang terkasih di Lauh Mahfuz-Mu

Tuhan, boleh aku bercakap dengan-Mu?
Mengadu atas sombongnya ciptaan-Mu terhadap sesamanya,
Yang tak mau mendengar apa yang tidak ingin didengar.

Tuhan, berikan aku pengertian
Bahwa dunia tempat orang-orang baik yang harusnya bersemayam.
Bahwa, mimpi mereka ‘surga-Mu’
Bahwa pencapaian baik di dunia juga pencapaian di surga-Mu

Tuhan, izinkan aku bersandar.
Memejamkan mata, lalu kita berdialog
Dialog penghantar tidur menuju singgasana-Mu.
Gelap dan kosong, nampak siluetmu di sudut kamar; ruang favorit ketika kita membunuh waktu.

Sepucuk mawar merah layu terlihat erat kau genggam, lalu, satu dua tapak kau dekatiku.

Aku mematung, membiarkanmu melucuti helai per helai kain putih yang melilit tubuhku.

Kau cium pipiku lalu ku sunggingkan senyum termanis untukmu.
Lalu kau tancapkan duri kering di tubuhku sebab aku hanya mematung dan membiarkanmu, melakukan ‘hal yang kau sukai’.

Aku tetap mematung, hingga kain itu terlukis merah matahari,
seperti harapmu.

Seketika kau tertawa.
Menertawai merah segar, yang pernah kau bilang bahwa itu warna kesayanganmu.

Saat itu juga kau menangis, melihat tubuhku terkulai lemas di kakimu.

Hanya kosong, gelap, dan raungan sudut-sudut kamar ini.
Kau membunuhku dengan kesenanganmu.






Selamat pagi Jogja,

aku menyapamu lewat kata

sebab aku ini hanya deretan abjad

monogram merah hitam di sisi toko-toko tua.



Selamat pagi Jogja,

usiamu tak lagi muda,

bermilyar kenangan terlukis

bukan upaya sembunyikan identitas

sebab tanpa kenangan pun kau tak seharum sekarang.



Selamat pagi Jogja,

karenamu, Tuhan mengiring langkah

jutaan mahasiswa dan pelajar demi satu tujuan

mengais sisa-sisa ilmu yang masih dalam rahimmu

utuh, bersih, suci, untuk menjadikan insan cendekia.



Selamat pagi Jogja,

karena kealimanmu itu

ilmu yang kau beri dimanipulasi

dijadikan kedok untuk menyakiti sesama

merampok yang bukan haknya, mencuri dan kekejian lain.



Selamat pagi Jogja,

kau tak ingin tinggal diam

sebab gedung-gedung tinggi

pencakar langit penuh sesak di sisi kota

menyedot habis tanah airmu yang kau peruntukkan

bagi generasi pribumi-pribumi ramah dan senantiasa lugu itu.



Selamat pagi Jogja,

kota ramah penuh harapan

ku sapa lewat deretan abjad dan monogram

semoga, semoga dan semoga harapan mereka sama halnya harapan kita.








Biarkan hujan turun,
itu cara dia mencium bumi.
Biarkan rintik itu membasuh kebunku,
itu cara air bertukar pikiran dengan daun.

Biarkan mendung menggelayut,
itu caranya memberi tanda manusia
bahwa pelangi yang indah kunjung berkilau.
Yang kadang membutakan mata,
dan tak sedikit yang memabukkan.

Biarkan semua tentangmu terhapus hujan
itu caranya memberiku pertanda
bahwa pelangi itu aku
yang akan menyudahi kepedihan.

Biarkan sesuatu yang pernah kita sebut ‘cinta’ luruh,
meluluh lantakan anggunnya bumi.

Tak apa kita menjadi dua orang yang tak saling bicara,
tak saling kenal, tak saling menyapa,
dan tak saling membunuh waktu.
Seperti yang dulu sering kita lakukan.
Tak apa, sungguh.

Biar pelangi itu bersinar mengalahkan malam
meski manusia bilang—itu mustahil.
Karena angkasa raya akan berkonspirasi
Untuk membantunya.


Merindumu pernah sesejuk dan semenawan embun yang merajuk
Merindumu pernah selugu wajah tenang terbalut air wudhu
Merindumu pernah sedamai kicauan burung fajar dini hari
Dulu merindumu semenarik dan semenyenangkan itu
Tapi itu dulu kasih
Kini, merindumu sepahit dan sehitam pitam
Merindumu kini begitu menyesakkan
Hingga aku tak tahu ini rindu ataukah iblis merasuk di hati dan pembuluh
Pertanyaan macam apa ini, ketika sanak familiku bertanya tentangmu.
Tentang kabarmu, yang aku sendiri tak tahu rimbanya.
Harus dengan kalimat apa aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang mereka berondongiku ke telingaku.
Aku terlalu sakit untuk mengatakan, "Aku tak ada hubungan lagi dengannya".
Namun, seketika kalimat itu terngiang di benakku, saat itu juga lidahku kelu.
Aku tak kuasa mengatakannya.
Aku sengaja berbohong.
Berbohong demi menyenangkan hati mereka.
Menutupi kegagalan perjalanan ini yang pernah kita sebut--cinta.

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.