Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Sadarkah kita bahwa;
Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat sesuatu yang ada di depan, kita lahir dengan dua telinga, satu kiri satu kanan sehingga kita dapat mendengar dari kedua sisi. Menangkap pujian maupun kritikan kritikan. Dan melihat mana yang benar.
Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Tak seorang pun yang dapat mencuri isi otak kita, yang lebih berharga dari segala permata yang ada.
Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan mmbunuh. Lebih baik sedikit bicaa, tapi banyak mendengar dan melihat.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai, tetapi jangan mengharapkan oranglain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan. Berikanlah cinta tanpa mengahrapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini akan menjadi lebih indah.

Dikutip dari KeeBook karya Ir. Andi Muzaki, SH, MT

Ya Allah aku tersadar dalam renunganku malam ini (Sen 23/12)
Setiap saat seseorang datang dan pergi dari kehidupanku
Tanpa pernah aku tahui
Mereka meninggalkan berbagai pelajaran berharga
Aku selama ini telah meremehkan mereka
Aku tak pernah pedulikan mereka
Tapi detik ini
Seakan dunia berbalik 180⁰
Aku tersadar akan sikapku yang pasif
Hanya mampu menerima menerima dan menerima
Tanpa pernah menahan mereka agar tidak pergi
Aku bukanlah malaikat
Aku bukan pula Nabi
Aku hanya manusia biasa
Yang tak pernah jadi sempurna
Keegoisan kesombongan dan kebanggaanku selama ini
Tak berarti apa-apa
Jika aku mampu memutar kembali waktu
Aku tak akan menyia-nyiakan kalian
Kalian yang pernah menjadi bagian hidupku
Yang telah mmberi banyak pelajran berharga untukku
Terimakasih dan maafkan aku sahabat
Ibu. Siapa yang tidak mengenal kata itu. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan untuknya. Banyak bahkan tak terhitung jika itu dapat dituangkan dalam kata-kata. Ibu, orang yang paling mulia dalam hidup kita. Beliau pahlawan dalam hidup kita. Perjuangannya ketika mengandung kita. Sembilan bulan lamanya beliau membawa kita kemana pun mereka pergi. Mereka memberikan asupan gizi yang cukup untuk kita, agar kita tidak menangis kelaparan di tempat yang hangat di dalam perut Ibu. Jemari lembutnya mengelus kita yang tengah tertidur lelap di dunia kita. Kita semakin terlelap. Tapi, terkadang kita bandel, menendang-nendang perut Ibu, yang kita tidak tahu bahwa beliau tengah sibuk mengurus kamar untuk menyambut kelahiran kita di dunia nanti. Beliau sudah tidak sabar menunggu kita hadir di tengah-tengah mereka. Terkadang kita malas-malasan, kita tidur sepanjang hari. Itu yang membuat Ibu kahawatir jangan-jangan terjadi apa-apa dengan kita. Beliau panik, dan sesegera mungkin memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan. Padahal tak terjadi apa-apa dengan kita. Syukurlah bidan itu menjelaskan pada Ibu bahwa tak terjadi apa-apa dengan kandungannya. Hari demi hari kita tumbuh semakin sempurna di perut Ibu, sudah saatnya kita terlahir ke dunia. Orang pertama yang ingin sekali kita lihat ialah Ibu, seperti apa orang yang telah berjuang demi kita selama ini.
Dalam hari dan jam yang telah Tuhan tentukan, kita terlahir kedunia. “Terimakasih Tuhan aku telah melihat wajah orang yang selama ini merawatku dengan kasih sayang di tempat indah yang Engkau berikan, aku janji aku akan menjadi putra/putri yang membahagiakan mereka, aku tidak akan bandel”. Itu janji mungkin yang pernah kita ucapkan kepada Sang Khalik. Ketika kita pertama membuka mata kita menangis sekencang-kencangnya. Tangis bahagia. Ayah kita yang sedari tadi menunggu kita langsung menyerukan adzan ditelinga kita. Ibu kita menangis bahagia melihat kita yang telah terlahir. Beliau menggendong kita, dan memberikan makanan pertama kita di dunia, ASI. Di pelukan Ibu kita rasakan hangat sekali, tak pernah kita rasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Tak terasa kita tertidur di pelukan Ibu.
Hari, bulan kita semakin tumbuh besar. Ibu selalu membimbing kita agar menjadi anak yang berbudi pekerti tinggi dan berbakti terhadap orangtua. Hari demi hari kemampuan kita semakin tumbuh, semakin nakal saja, dan semakin membuat Ibu repot saja. Tapi kerepotan yang Ibu alami tidak berarti apa-apa bagi beliau, Ibu dengan wajah sumringah tersenyum merawat dan mengatasi kenakalan-kenakalan kita yang dari hari ke hari semakin aneh-aneh saja. Pada suatu siang kita tengah tidur lelap sekali ketika itu Ibu sedang makan siang, tiba-tiba kita menangis keras karena merasa tidak nyaman. Kita tengah buang kotoran, disaat Ibu kita makan. Ibu dengan sabar berkata “Ohh… kamu buang air besar ya Nak, tidak nyaman ya. Biar Ibu bersihkan dulu ya, nanti kamu bisa tidur dengan lelap lagi”. Subhanallah beliau benar-benar malaikat yang Tuhan kirimkan untuk kita, “Tuhan kenapa ada orang sebaik dia Tuhan” itu terkadang pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak kita.
Ketika menginjak bulan ke-10 kita belajar berjalan. Ibu lah guru pertama kita yang dengan senang hati mengajari kita cara berjalan. Saat itu kita coba berdiri dengan berpegangan kursi, Ibu yang sedang asik memasak di dapur ingin rasanya kita kejutkan dengan cara “Ini lo bu, aku sudah berjalan sendiri tanpa bantuan alat”. Tiba-tiba brukk… kita terjatuh, Ibu kita langsung berteriak memanggil nama indah pemberian beliau dan Ayah kita. Kita terjatuh, seraya Ibu langsung meraih kita dengan cekatan. Bahkan masakan yang sudah sedari tadi beliau masak, beliau tinggalkan begitu saja. Ibu panik, beliau mengambil minyak mencoba melumatkan minyak itu ke anggota tubuh kita yang terkena benturan lantai. Dalam tangis kita yang meraung-raung ingin kita bicara “Bu, aku tidak kenapa-kenapa, aku hanya ingin memperlihatkan pada Ibu aku bisa berjalan sendiri, tapi kakiku ternyata belum sekuat yang aku kira. Ibu tidak usah khawatir”. Tapi Ibu menangis, dengan menyesal telah meninggalkan kita begitu saja. Ibu langsung menelephon Ayah kita yang tengah sibuk bekerja, entah di kantor, atau di lapangan. Ibu meminta Ayah segera pulang dan mengantarkan kita ke dokter memeriksakan tubuh kita. Beberapa menit kemudian Ayah kita sampai di rumah. Ayah  menggendong kita, beliau bertanya kepada Ibu kenapa kita bisa terjatuh seperti itu. Ayah memarahi Ibu, Ibu hanya menangis. Ingin kita melakukan pembelaan kepada Ibu “Ayah jangan marahi Ibu dong, Ibu tadi baru masak di dapur dan aku ingin memperlihatkan padanya kalau aku sudah bisa berjalan. Udah Yah jangan marahi Ibu ya, kasian Ibu seharian lelah mengurusku”. Tapi kita hanya bisa menangis, tanpa mengeluarkan kata itu.
Beranjak tahun pertama usia kita. Ibu dan Ayah sibuk sekali mempersiapkan keperluan untuk menyambut ulangtahun kita. Ruang tamu rumah kita mereka hias dengan cantik sesuai karakter kita. Ada banyak balon-balon dan kertas crape berwarna-warni di sana-sini. Rasanya ingin turut membantu mempersiapkan itu, tapi justru kita mengganggu mereka. Keesokan harinya kita didandani Ibu dengan baju yang bagus terlihat cantik/tampan sekali, di rumah ramai sekali, banyak anak-anak seusia kita, banyak tumpukan kado-kado, terdapat kue dengan lilin berangka satu dan di situ terukir nama indah kita. Banyak orang-orang menyanyikan lagu Happy Birthday dalam acara inti ulangtahun kita. Ayah menggendong kita untuk meniup lilin di kue itu. Tapi yang kita lakukan hanya diam tak mau meniupnya. Alhasil Ayah dan Ibu kita yang meniupkan lilin untuk kita, seraya tepuk tangan riuh rendah di ruang tamu.
Menginjak usia kita yang ke lima, Ibu sibuk menyiapkan peralatan sekolah kita. Ya. Kita mulai sekolah pertama kita. Dengan menggendong tas baru dengan warna favorit kita, sepatu, dan seragam sekolah yang baru, kita diantar Ayah ke sekolah baru bersama Ibu. Tangan lembut  Ibu menggandeng tangan kita menuju kelas, sesekali kita melepaskannya dan berlari-larian sendiri menuju kelas. Hari pertama sekolah yang menyenangkan bukan. Sesampainya di rumah, Ibu tidak lelah mengajari kita banyak pelajaran. Beliau mengajari berhitung, membaca, bernyanyi, dan hafalan do’a sehari-hari. Bahagia sekali dan ingin rasanya kita bilang kepada Tuhan “Tuhan terimakasih karena aku mempunyai Ibu yang baik dan sayang padaku, seperti janjiku awal aku tidak akan nakal kok Tuhan. Janji” dengan wajah lugu kita.
Tahun demi tahun. Kita beranjak remaja. Usia kita kira-kira 16 tahun. Kita lupa akan janji awal kita kepada Tuhan begitu saja. Kenakalan-kenakalan kita membuat Ibu kita sedih. Beliau sudah mencoba menasehati, menegur kita, tapi yang kita lakukan semakin hari justru semakin membuat beliau terpukul dengan kenakalan yang kita perbuat di luar sana. Sosok Ibu yang dulu kita kenal ceria, sumringah, kini telah menua dimakan usia. Keriput di raut muka Ibu semakin terlihat. Beliau semakin lelah mengurus kenakalan yang kita perbuat. Kita yang dulu menuruti apa kata beliau, sudah tak mengindahkannya lagi. Terkadang kita memarahi beliau yang belum sempat menyiapkan makan siang di meja makan ketika kita pulang sekolah. Kita tidak pernah tahu pekerjaan apa saja yang Ibu lakukan selama sehari ini. Tapi kita justru memakinya, tanpa kita bertanya dahulu.
Alangkah mulianya Ibu dimata seseorang. Begitu banyak pengorbanan Ibu untuk kita semua. Apa yang telah kita berikan selama ini kepada beliau? Kebahagiaan? Tak ada yang bisa memberikan kebahagiaan seperti  Ibu berikan kepada anak-anaknya. Kasih sayang seorang anak sepenggal, tapi kasih sayang Ibu sapanjang jalan. Coba bayangkan, jika Ibu kita sakit dan beliau membutuhkan kita di sampingnya. Ketika itu kita sedang bekerja di luar kota. Hanya kita satu-satunya anak beliau. Apa yang akan kita lakukan? Pulang dan merawat Ibu yang tenagah sakit, menelephonnya mengucapkan ‘get well soon Mom”, atau justru melanjutkan bekerja tanpa menghiaraukan kabar yang Ayah kita berikan karena kita tengah sibuk menggarap proyek besar??? Renungkanlah. Tanyakan pada hati kita masing-masing. Jika kita menyanggah “Aku sudah memberikan kebahagiaan untuk Ibu. Aku memberikan rumah yang layak, mobil baru, uang, dsb” coba kita telaah ulang, apakah itu yang dinamakan kebahagiaan, apakah itu yang Ibu inginkan? Tidak. Ibu tidk butuh uang kita atau harta kita. Yang beliau inginkan kita sukses mencapai keinginan kita, memberikan balasan kasih sayang dan merawatnya di hari tuanya, disisa-sisa hidupnya. Tapi kita tidak pernah memahami itu semua. Kita sibuk mencari uang dan harta untuk keluarga baru kita dan kebahagiaan baru kita. Apa pernah kita mengucap satu untaian do’a untuk beliau? Ya Allah berikan umur panjang untuk seluruh Ibu di dunia ini, mudahkan jalan yang mereka tempuh, ridho’ilah di setiap langkah mereka, dan berikan kebahagiaan setimpal untuk mereka. Aamiin… Selamat hari Ibu untuk para Ibu dan calon-calon Ibu di seluruh dunia, semoga Ibu mendapatkan tempat special di hati semua orang 
AKU SAYANG IBUKU

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.