Millennials (sumber: https://kuaskaca.wordpress.com/)

Indonesia tahun 2017 didominasi oleh para generasi Millennial pada hampir semua lini pergerakan ekonomi. Salah satu yang paling berpengaruh dalam perekonomian Indonesia ialah bidang pariwisata. Pariwisata di Indonesia tengah meningkat dengan pemanfaatan destinasi wisata, akomodasi seperti hotel dan penginapan lain, dan transportasi seperti bus, kereta, dan pesawat. Ketiga komponen tersebut menjadi hal pokok yang bisa berpengaruh terhadap mood. Generasi Millennial adalah generasi yang sangat mudah untuk berubah-ubah moodnya. Mereka adalah generasi yang mudah bosan dengan satu hal dan akan berganti dengan hal baru yang lain.
Tren wisata dalam lingkup generasi Millennial berdampak hebat dalam perekonomian di Indonesia. Pengguna internet yang merabak luas yang didominasi oleh generasi Millennial adalah faktor utama dalam hal ini. Millennial menciptakan tren wisata melalui social media. Generasi ini mudah terpengaruh oleh apa yang telah dilakukan orang lain. Pengalaman orang lain menjadi ukuran yang harus diikuti juga. Arus media yang hebat membuat generasi Millennial terkadang kewalahan. Mereka berlomba-lomba untuk exist disetiap media sosial pribadi masing-masing. Mencari like dan pujian paling banyak adalah tujuan untuk pencarian kepuasan generasi Millennial.
Destinasi wisata yang sedang happening atau menjadi trending topik akan diburu oleh generasi ini. Tidak tanggung-tanggung dengan biaya yang mesti dikeluarkan. Kepuasan dan eksistensi diri adalah dua hal yang melekat pada mereka. Mengunjungi sebuah destinasi wisata, mengambil foto terbaik menggunakan kamera dengan spek tinggi dan harga mahal agar mendapat kualitas jernih dan terbaik selalu dilakukannya untuk setiap piknik gen ini. Sudah menjadi hal wajar bahwa arti piknik bukanlah berwisata untuk beredukasi atau mendapatkan pengalaman. Tetapi, untuk generasi ini piknik adalah tentang mendapatkan gambar terbaik, mengunggah di sosial media, kemudian mendapat like dan pujian sebanyak-banyaknya. Lalu, apakah kamu termasuk tipe wisatawan generasi Millennial?
Wisata belanja adalah alasan bagi shopaholic untuk berkunjung ke kota atau bahkan Negara yang memiliki fashion terkenal. Salah satu Negara yang menjadi "Kiblat Mode" yang tersohor di seluruh dunia ialah Perancis. Akhir-akhir ini, negara Perancis menjadi perbincangan hangat di Nusantara. Hal ini dikarenakan salah satu aktor terbaik Nusantara kecanthol dengan salah satu gadis asal Negara Mode tersebut. Ario Bayu, pemain Soekarno resmi menikah dengan gadis asal Perancis, Valentine Payen. Banyak netizen yang terkejut dengan pernikahan Ario Bayu sebab tidak ada kemesraan atau proses pacaran kedua mempelai ini yang diumbar di sosial media. Warga net mengetahui pernikahan Ario Bayu dengan Valentine dari postingan Instagram Wulan Guritno @wulanguritno, sepupu Ario Bayu. Lewat akun Instagramnya, Wulan Guritno mem-posting ucapan selamat kepada sepupunya ini.
Pernikahan Ario Bayu berlangsung sederhana tetapi hangat nampak pada keluarga yang turut hadir ke Perancis demi pernikahan pria berkelahiran Jakarta 32 tahun silam.  Sementara sosok sang istri, Valentine Payen, adalah gadis berasal dari Poitou-Charentes salah satu kota kecil di Perancis. Prosesi pernikahan ini berlangsung di Gedung Balai Kota Corme Royal dan kabarnya wali kotanya pun turut hadir dalam acara bahagia tersebut.
Perancis menjadi Negara yang penting bagi sepasang mempelai ini. Di Negara Mode yang memiliki berbagai macam fashion mendunia, janji suci sakral sehidup semati diucapkan oleh aktor tampan ini. Sebagai Negara yang menjadi "Kiblat Mode Dunia", tentu saja Perancis memiliki banyak tempat wisata yang unik dan menarik. Berikut 3 ulasan menariknya:

  1. Menara Eiffel
    Menara Eiffel (sumber: www.shutterstock.com)
    Siapa yang tak pernah mendengar kata Menara Eiffel? Salah satu World Landmark ini menjadi ikon wisata Perancis. Menara Eiffel telah menjadi warisan dunia yang diresmikan oleh UNESCO. Bangunan ini dibangun pada tahun 1889 oleh seorang arsitektur bernama Gustave Eiffel. Menara ini memiliki 3 bagian, dimana di puncak Tower ketiga pemandangan indah akan terlihat lebih menarik dan terbentang luas. Spot menarik ini selalu menjadi incaran wisatawan yang tidak boleh terlewatkan jika bertandnag ke Perancis.
  2. Arc de Triomphe
    Arc de Triomphe (sumber: http://br.france.fr)
    Dalam bahasa Indonesia Arc de Triomphe artinya Gerbang Kemenangan. Arc de Triomphe adalah sebuah monumen yang dibangun sebagai peringatan atas kemenangan Perancis. Gapura ini tercatat sebagai Gapura terbesar sepanjang sejarah. Monumen ini berada di Place de I'Etoile tepat di tengah-tengahnya. Ketika memasuki tempat ini, wisata sejarah berupa melihat makam-makam tentara yang telah gugur adalah pilihan yang cocok. Selain itu, naik ke puncaknya memungkinkan untuk melihat jalan-jalan di Paris.
  3. Musee du Louvre
    Musee du Louvre (sumber: http://www4.ac-nancy-metz.fr)
    Musee du Louvre adalah bangunan dengan arsitektur khas yang menyimpan banyak seni budaya dan sejarah. Patung dan artefak yang berusia 2.000 tahun sejarah memenuhi kedalaman ruang di bangunan ini. Museum ini juga menjadi museum yang paling sering dikunjungi yang menyimpan lebih dari 35.000 benda bersejarah. Museum Louvre adalah tempat yang layak untuk dikunjungi bagi para pecinta wisata sejarah dan budaya.
Muzzamil & Sonia (Sumber: https://news.detik.com/)
Muzammil Hasballah, pemuda dengan suara merdu yang resmi menikahi gadis Kota Serambi Mekah, Aceh menyedot perhatian netizen. Sonia Ristanti, gadis beruntung yang dinikahi qari' yang sering menjadi imam sholat di banyak masjid ini resmi menjadi Nyonya Hasballah pada hari Jum'at 7717. Kabar gembira ini disambut heboh oleh netizen. Warganet menyebutkan bahwa hari pernikahan Muzammil ini adalah "hari patah hati nasional jilid II", ada juga yang menyebutkan "baper dunia akhirat". Namun, do'a-do'a terbaik juga membanjiri akun sosial media Instagram milik Muzammil @muzzamilhb karena turut berbahagia atas hari pernikahannya.
Pada hari Jum'at (7-7-2017) undangan terbuka untuk mengikuti sholat jama'ah subuh dilanjutkan menyaksikan pernikahan Muzammil Hasballah dengan Sonia Ristanti di Masjid Agung Al-Makmur atau lebih dikenal dengan Masjid Oman, Banda Aceh. Masjid Oman memiliki gaya arsitektur Timur Tengah. Masjid yang menjadi lokasi pernikahan Muzammil dibangun pada tahun 1979 pada tanah dengan seluas 7.571 meter persegi. Bangunan ini memiliki dua menara dengan satu kubah, lantai masjid berlapis permadani, kaligrafi ayat-ayat Al-quran memenuhi dinding di setiap sisi masjid, dan disetiap sudut dalam masjid selalu terdapat tempat wudhu untuk bersuci.
Masjid Agung Al-Makmur (sumber http://www.bandaacehtourism.com/)
Keindahan arsitektur Masjid Oman tidak diragukan lagi. Beberapa kali bangunan ini mengalami renovasi. salah satu renovasi terbesar yaitu ketika gempa dan tsunami melanda Aceh. Masjid Oman mengalami kerusakan parah pada atap dan kubah. Setelah direnovasi, akhirnya pada tanggal 19 Mei 2009, masjid Oman diresmikan pemakaiannya. Masjid yang terletak di Bandar Baru, Kuta Alam, Banda Aceh selain menjadi tempat ibadah umat Islam juga sering digunakan untuk melangsungkan akad pernikahan.

Sedari fajar, Masjid Agung Al-Makmur telah dipadati orang-orang yang ingin turut mendoakan kebahagiaan pemuda qari' di hari yang Barakah ini. Muzammil nampak bahagia dengan jas biru dan dasi kupu-kupu. Begitu pula Sonia Ristanti, mempelai perempuan dengan gaun putih lengkap dengan cadarnya. Kebahagiaan kedua mempelai berlangsung ketika melakukan sesi foto di halaman Masjid Oman. Jika, berkunjung ke kota Aceh jangan lupa singgah di Masjid Agung Al-Makmur untuk melihat keindahan dan kesejukannya.
In the modern era, people want to be avowed his/ her existentialism. Nowadays, technology is the key to acquire the self-existentialism from others. Many people think about the more sophisticated technology they have the more they gain the social avowed. It may happen in almost people. However, who knows that there are group of people that still keep the tradition as a way of life in this modern era. They are Baduy Ethnic.


Singkat tapi sungguh berbekas. Ya, mungkin itu frasa yang tepat untuk men-juduli tulisan saya kali ini. Pernah saya merasa hal-hal seperti ini dipenghujung tahun pembelajaran. Di masa putih-abu abu, saya merasakan kedekatan dan keseruan memilki guru seperti beliau pak Langgeng Ari Wirayudha.

Tahun-tahun kuliah saya selama kurang dari empat tahun, saya memilki dosen istimewa sekali. Saya sering memuji beliau dengan “the awesome lecture”. Ya, kejadian yang saya alami sewaktu masa putih abu-abu terjadi lagi. Saya merasa beruntung pernah menjadi mahasiswi beliau. Terlebih, saya dibawah bimbingan beliau selama proses skripsi. Beliau adalah Bapak Danial Hidayatullah. Saya tak henti-hentinya bersyukur memilki dosen luar biasa seperti beliau. Meskipun saya sadari, banyak kekurangan saya dan banyak perilaku saya yang membuat beliau jengkel. Tapi sepeti yang saya alami selama prosea skripsian, beliau dengan sabar membimbing hingga memberikan ACC pada skripsi untuk disidangkan di depan dua penguji lainnya.

Tahun-tahun terakhir perkuliahan adalah saat dimana perjuangan sendiri terasa sekali. Teman yang dari semester awal bersama, satu kelas, maen bareng, belajar bareng, merpus bareng dan sebagainya dan sebagainya. Dan ketika sampai di masa perkuliahan akhir, setiap mahasiswa akan ambil jalannya masing-masing. Jalan yang saya ambil ialah literature dari dua jalan lain yang ditawarkan jurusan Sastra Inggris di tempat saya menimba ilmu: linguistic dan translation.

Sastra adalah keputusan yang bulat setelah megalami kegalauan kurang lebih selama setahun. Dan akhirnya saya memutuskan untuk ambil teori sastra, kritik sastra dan segala macam makul yang berbau sastra. Saya tekuni itu semua agar saya tidak menyesal dikemudian hari. Karena, pikir saya, kalau saya tidak belajar sedini mungkin akan banyak kesulitan yang menghampiri saya di masa yang akan datang.
Baiklah lanjut ke topik awal saya menulis tulisan ini.

Singkatnya saya mendapat pemimbing beliau, dosen yang luar biasa yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Saya mulai menemui beliau untuk bimbingan ialah pada bulan Juni, sebelum saya menempuh KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama satu bulan. Sepualng dari KKN saya meminta PR bimbingan. Selepas itu, bulan September mulai intensif bimbingan skripsi. Dari bulan September hingga Januari adalah waktu dimana saya berjuang, lelah, dan menghadapi apa-apa berusaha se-dinging dan se-tenang mungkin. Bahkan untuk berpacaran atau menjalin hubungan dekat dengan lelaki pun saya urungkan. Karena saya percaya, hal kurang penting seperti itu hanya akan mengganggu proses saya menyusun skripsi, menyita waktu saya, membuang banyak energi dan pikiran saya. Karena, tanpa pacar pun saya masih sangat mampu menjalani keseharian saya dengan bahagia dan gelak tawa.

Maka, selama bulan-bulan itu saya fokuskan skripsian. Saya baca-baca berbagai macam buku referensi, jurnal, skripsi kakak tingkat, dan sumber internet lainnya. Sejujurnya, saya tidak begitu fokus juga. Karena saya juga tergabung disebuah komunitas di jurusan saya. Ada acara di bulan Desember yang tentu saja persiapannya tidak singkat. Maka, saya turut serta mempersiapkan acara tersebut tentu dengan tidak menelantarkan kewajiban menyusun skripsi. Dan, baru-baru ini saya terpilih menjadi ketua, ya semacam beban dan tanggungjawab yang harus dipikul. Tapi saya menikmati. Saya masih fokus dan tetap memeluk skripsi saya untuk selalu saya timang-timang ketika malam menjelang. Ya ya ya, bagi saya perjuangan itu tidak ada ujungnya. Sebab proses itu adalah sebuah tujuan tersendiri. Bagaimana jika saya tidak menempatkan proses sebagai tujuan? Setelah saya berhasil berproses dan menemukan tujuan saya dan lalu setelah itu apa? Selanjutnya? Itulah kenapa, saya ingin selalu berproses, bukan berambisi mencapai suatu tujuan. Itu saja. Sesederhana itu bagi saya.

Proses penyusunan skripsi itu pula merupakan satu tujuan yang saya nikmati. Terlebih, Tuhan telah memberikan dosen pembimbing yang tidak pernah lelah membimbing saya dan menjawab pertanyaan saya yang kadang tak masuk akal, kadang retorik, kadang aneh dan lain sebagainya. Jadwal bimbingan bersama Pak Danial adlah setiap hari Rabu bersama teman-teman seperjuangan lainnya. Tentu saja dari awal sekali, dari background of study, analysis sampai akhirnya ke kesimpulan. Jangan dikira itu semua mulus. Tidak. Masih banyak jalan yang harus saya lalui. Revisian adalah pasti. File-file yang semula bernama Chapter I, akhirnya menjadi Chapter I-10. Artinya, file Chapter I (introduction) dengan revisian sebanyak sepuluh kali. Kebayang seperti apa? Ya seperti itu. Seperti yang sudah saya bilang, melelahkan tapi saya menikmatinya. Hingga revisi terakhir tentang hypogram, Pak Danial masih memberikan arahan seperti apa dan bagaimana.

Banyak hal yang saya dapatkan bisa mengenal dan menjadi mahasiswi beliau. Tentang apa pun itu. Mungkin, beliau tak secara eksplisit memberikan nasihat atau berbagi tentang suatu hal, tapi saya sering mengambil beberapa point yang menurut saya itu suatu bekal yang baik untuk saya. Dengan kesabaran dan keilmuwan beliau kadang membuat saya iri, saya ingin menjadi orang baik seperti beliau. Banyak teman-teman saya yang iri karena bisa menjadi mahasiswi bimbingan beliau. Dari situ saya selalu menanamkan dalam diri saya baik-baik, bahwa saya tidak boleh mengecewakan Pak Danial. Apa pun yang terjadi saya harus berusaha menyusun skripsi sebaik-baiknya. Beliau memang idealis, dan melalui idealisme nya itu saya terdorong untuk tidak puas dengan hasil yang biasa.

Beliau adalah dosen paling kontroversial di fakultas saya. Karena walaupun begitu pasti ada saja haters. Karena setiap individu tidak lepas dari lovers dan haters. Begitu pula Pak Danial. Banyak mahasiswa yang mengagumi keilmuwan beliau, tapi tak sedikit pua yang kurang suka karena hal apa, saya juga tidak tahu. Bahkan, tidak hanya mahasiswa, dosen dari jurusan lain juga ada yang kurang suka dengan beliau. Mungkin karena berbeda pandangan, atau karena iri dengan kehebatan beliau? Saya juga kurang tahu. Tapi, setahu saya Pak Danial tidak pernah menganggap orang lain musuh karena kerendahan hati dan open-minded yang beliau miliki.

Setelah beberapa bulan menjadi mahasiswi bimbingan beliau kurang lebih satu semester, sekarang saatnya saya memberikan kursi saya untuk orang lain, mungkin teman saya yang ingin sekali menjadi mahasiswa bimbingan beliau. Ya, waktu saya menjadi mahasiswi bimbingan beliau sebentar lagi habis. Ini tahun penghujung saya, dan ada suka duka tersendiri. Bahagia, tentu saja karena sebentar lagi kehidupan baru saya akan segera dimulai. Berproses lagi tentu saja. Duka, itu pasti karena saya tidak bisa setiap Rabu bimbingan dan bertemu dengan teman-teman dan beliau. Tidak bisa bertanya tentang hal A-Z. Satu hal yang pasti akan membuat saya rindu adalah bully-an beliau. Beliau pernah mengatakan bahwa saya ini “wonderfully bully-able”. Mungkin memang benar begitu. Dan waktu yang singkat ini tidak akan pernah saya lupakan. Singkat namun ini sungguh membekas. Sebab ingatan selalu rentan untuk bisa dilupakan.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan maaf untuk beliau, dosen terhebat yang pernah saya temui. Terima kasih untuk waktu yang selama ini telah saya repotkan. Dan maaf untuk kesalahan dan kejailan saya selama menjadi mahasiswi bimbingan beliau. Setangkup do’a tidak pernah lupa saya gaungkan untuk Bapak, semoga dilancarkan dalam menyusun disertasi dan urusan-urusan lainnya. Saya percaya, Bapak orang baik dan akan selalu diberi kemudahan dalam segala hal.



Salam hangat,
Dari mahasiswimu yang “wonderfully bull-able”



Hari Sabtu, tanggal 11 Desember 2016. Perkenankan saya, mewakili seluruh teman-teman panitia pelaksana Talk Show Indonesia Mengajar Goes To Communities Bersama ECC Jogja berbagi kisah. Semoga menginspirasi dan menggerakkan aku, kamu dan kalian semua....
Indonesia memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan anak bangsa seperti yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV. Salah satu cara untuk mewujudkannya yaitu melalui pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses perubahan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha pendewasaan melalui upaya pengajaran. Melalui pendidikan lah seseorang akan menjadi agen perubahan suatu negeri. Dalam upaya mendidik, peran pendidik dan pengajar menjadi penting. Keduanya memiliki perbedaan, bahwa pengajar adalah proses menransfer ilmu. Sedangkan pendidik tidak hanya sekadar memberikan ilmu untuk seseorang tetapi juga sekaligus memberikan nilai-nilai moral dan akhlak. Pendidikan yang menyejahterakan bukan hanya yang memiliki latar belakang kemewahan dan serba mahal. Tetapi, bentuk pendidikan yang suka rela yang merupakan suatu dedikasi penuh terhadap anak bangsa menjadi kunci utama.
ECC SUKA mengajar merupakan kegiatan yang bergerak dibidang sosial pendidikan yang diinisiasi oleh komunitas ECC. ECC merupakan salah satu komunitas yang ada di jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bermula dengan latar belakang sosial pendidikan ini, komunitas ECC melakukan kerja sama dengan Indonesia Mengajar. Indonesia Mengajar merupakan sebuah gerakan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong memajukan pendidikan Indonesia. Indonesia Mengajar melaksanakan rangkaian roadshow ke komunitas dan kampus, salah satunya yaitu ECC. Dalam hal ini, ECC dan Indonesia Mengajar dapat membentuk sebuah forum diskusi tentang pendidikan.
Forum diskusi tentang pendidikan diwujudkan dengan diselenggarakannya Talk Show Indonesia Mengajar Goes To Communities bersama ECC dengan tema “Dedication in Education: The Spirit for Bright Future”. Talk Show ini berhasil diselenggarakan pada hari Minggu, 11 Desember 2016 di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 50 peserta yang hadir dari 100 peserta yang mendaftar. Peserta Talk Show mayoritas merupakan mahasiswa dari berbagai kampus di Jogja. Meskipun ada beberapa peserta dari umum. Pengisi Talk Show ini adalah Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar berjumlah tiga (3) orang yaitu: Kurnia Widyastuti, Asep Ismail dan Miranda Yasella. Kurnia Widyastuti  merupakan PM angkatan 8 dengan daerah penugasan kabupaten Fakfak, Asep Ismail yaitu PM angkatan 8 dengan daerah penugasan kabupaten Kapuas Hulu sedangkan Miranda Yasella merupakan PM angkata 10 untuk daerah kepulauan Yapen. Acara ini diselenggarakan karena munculnya kekhawatiran mengenai dunia pendidikan. Dunia pendidikan saat ini hanya money oriented. Padahal pendidikan juga mampu diwujudkan dengan cara lain yaitu dalam bentuk dedikasi.
Untuk memberikan kesadaran terhadap anak muda, para Pengajar Muda yang sudah merupakan alumni Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar menceritakan pengalaman mereka. Pengalaman menjadi pendidik di 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) tentu berbeda dari biasanya. Kehidupan daerah 3T ialah daerah yang jauh dari unsur hingar-bingar seperti kota-kota besar, perkembangan teknologi yang tertinggal, dan pendidikan yang masih jauh dari layak. Pahit dan manis pengalaman bertugas di daerah 3T dibagikan kepada seluruh peserta. Hal ini bertujuan agar peserta mempunyai kesadaran untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa yang mana jauh dari jangkauan teknologi maupun kemajuan lainnya.

Dunia pendidikan membutuhkan peran serta anak muda yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian. Agar seluruh anak bangsa mendapatkan hak pendidikan secara merata untuk masa depan yang lebih baik. Dengan berlangsungnya acara ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda dalam pengabdian terhadap dunia pendidikan Indonesia.



Sebelum memulai tulisan saya, pertama saya ingin mengucapkan Selamat Hari Difable Internasional, 3 Desember, untuk teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia dan seluruh dunia. Semoga hak-hak kalian bisa terpenuhi laiknya orang-orang normal lainnya. Sekaligus saya ucapkan Selamat Hari Relawan Internasional , 5 Desember, untuk orang-orang yang merelakan waktunya untuk berbagi terhadap sesama tanpa memandang apa atau siapa. 
Nah, perkenankan saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman saya menjadi seorang relawan melalui tulisan dalam blog ini. Apa itu relawan? Menurut KBBI versi offline yang telah saya unduh dari playstore lalu saya pasang di telepon pintar saya, kata relawan memiliki padanan kata dan juga versi singkat dari sukarelawan. Sukarelawan, menurut KBBI, artinya orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela tidak karena diwajbkan atau dipaksakan.
Lalu, setelah tahu definisi relawan untuk apa selanjutnya? Yup, pertanyaan yang tepat untuk uraian selanjutnya dalam tulisan ini. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 27-30 November 2016, saya bersama ke-sembilan belas teman menjadi relawan dalam Musyawarah Nasional Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) ke IV. Munas ini bertempat di Balai Diklat Kemensos, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.  Peserta Munas ini tentu saja berasal dari seluruh penjuru negeri, dari Sabang sampai Merauke. Peserta Munas ini terdiri dari tiga jenis disbilitas, tuna netra, tuna rungu-wicara, dan tuna daksa. Ketiga jenis disabilitas ini berasal dari bermacam-macam kota di Indonesia yang saya jauhhh, jauuuhhh sekali. Ya Karena memang, saya belum pernah pergi ke luar pulau Jawa. Jadi wajar saja saya bilang itu jauh hehe...
Dari ketiga jenis disabilitas itu, saya mendapatkan ilmu atu di briefing oleh ketua PPDI DPD DIY Bapak Dr. Akhmad Sholeh. Beliau adalah ayahanda dari teman saya Nidatul Khasanah, teman satu kelas di perkuliahan yang menawari saya untuk menjadi relawan. Pak Soleh, beliau akrab disapa, merupakan orang dengan disabilitas tua netra. Pak Soleh memberikan pemaparan untuk ketiga jenis disabilitas yang akan menghadiri Munas tersebut.
Yang pertama, untuk tuna netra. Seperti apa mereka dan bagaimana kita relawan dalam mendampingi mereka? Terkait makan, kita sebagai relawan harus menyebutkan menu apa saja yang tersedia supaya mereka bisa memilih. Kemudian, tunjukan dimana kamar mandi. Karena Munas ini menyediakan penginapan, per kamar untuk 2-3 orang, jadi kamar mandi sudah tersedia di kamar masing-masing. Untuk di aula, atau ketika ada narasumber yang berbicara, relawan harus mengarahkan tuna netra untuk menghadap ke pembicara. Karena, biasanya tuna netra menghadap ke sumber suara (sound system) bukan ke pembicara. Lalu, yang terakhir antar kemana mereka mau. Misalnya, penyandang tuna netra ingin duduk di serambi, relawan harus mengantarkan dan membimbing mereka.
Dalam pendampingan tuna netra ini, saya pribadi mendapat banyak pembelajaran baru bagaimana memperlakukan mereka dengan baik. Misalnya tuna netra yang tidak memakai tongkat bantuan jalan, caranya yaitu kita menuntun mereka. Kita berjalan lebih dahulu di depan mereka. Kemudian penyandang tuna netra dibiarkan memegang lengan di atas sikut kita. Usahakan lengan kita selemas dan sesantai mungkin agar tidak menimbulkan hal-hal aneh dalam benak penyandang tuna netra. Dalam melewati tangga, sebelumnya kita harus berhenti di depan anak tangga lalu menginformasikan bahwa akan melewati beberapa anak tangga. Lalu usahakan kita berjalan satu anak tangga lebih dulu. Sebelum sampai di anak tangga terakhir, kita juga perlu menginformasikan bahwa akan segera sampai di anak tangga terakhir.
Jenis penyandang disabilitas kedua, yaitu tuna rungu-wicara. Sebagai seorang relawan, kita harus berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa oral yang jelas. Hal ini dapat membantu mereka dalam memahami apa maksud kita melalui melihat dari gerak bibir kita. Selain dengan cara itu, kita juga bisa menggunakan Bahasa tulisan. Cara ini juga bisa digunakan oleh relawan atau pendamping pemula seperti saya. Dengan menulis suatu informasi dengan lugas dan sesuai EYD, akan membantu mereka dalam memahami. Jangan pernah menggunakan Bahasa gaul yang mereka sulit paham. Jika, kita memiliki bekal pengetahuan Bahasa isyarat, hal ini akan sangat membantu. Karena komunikasi antar relawan dan penyandang tuna rungu akan mudah. Tidak semua tuna rungu juga tuna wicara, arena ada sebagian dari tuna rungu yang masih tetap mampu berbicara seperti orang normal lainnya. Dalam kasus ini pendampingan akan mudah. Karena, ketika mereka menginginkan sesuatu mereka bisa langsung mengatakannya.
Lalu yang terakhir yaitu tuna daksa. Tuna daksa ialah seseorang dengan disabilitas kehilangan salah satu anggota tubuh, seperti tangan atau kaki. Macam tuna daksa yaitu ada yang sebagian mereka menggunakan kursi roda, ada yang memakai kruk dan ada yang memakai tongkat. Untuk menangani disabilitas tuna daksa yang memakai kursi roda, kita harus selalu stay di belakang mereka. Di Balai diklat Kemensos DIY ini sudah tersedia ram ditempat-tempat tertentu yang sekiranya akan dilalui dengan kursi roda. Ram adalah papan yang biasanya digunakan untuk akses penyandang disabilitas. Dengan fasilitas ini, penyandang disabilitas yang lain seperti tuna netra dengan tongkat bantuan jalan juga lebih mudah. Namun, tidak semua penyandang disabilitas tuna daksa ingin dibantu relawan. Malahan kebanyakan dari mereka mampu melakukan pekerjaan sendiri. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa melakukan itu sendiri. Jadi, mereka sudah bukan orang yang sedikit sedikit harus dibantu. Walau tidak menutup kemungkinan, mereka tetaplah harus kita bantu.
Etika dan sopan santun kita terhadap penyandang disabilitas juga teta harus kita junjung. Tidak semena-mena meskipun mereka difable dan kita sebagai orang normal bisa se-enaknya. Tidak. Tidak bisa seperti itu. Pengalaman menjadi relawan mengajarkan saya bagaimana berbagi, belajar dan berteman dengan orang yang kesehariannya tidak akrab saya temui. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa menutup mata akan hal-hal seperti itu. Pengalaman yang sangat berharga bisa berkenalan dnegan Bang Riko dari Padang, Bang Ucok dan Pak Danial dari Aceh, Pak Limawan Vihien sang penulis buku “Cinta Berkelas Sang Penyandang Disabilitas”, Bu Risna, Pak Gufron selaku ketua umum pusat PPDI dan banyak teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk obrolan bermanfaat dari Pak Daming dosen hukum di Bogor, Bang Butong yang membagikan buku pegangan penyandang disabilitas yang disertai ilustrasi dari tangan dinginnya, Pak Aris dari lampung yang memberi nasehat tentang asmara, Pak Iwan yang sabar, dan bapak-bu peserta Munas yang tidak bisa saya ingat namanya satu per satu dikarenakan keterbatasan mengingat.
Terima kasih untuk waktu dan kerja sama dari seuruh relawan Munas. Kalian orang-orang yang luar biasa. Dan saya bahagia bisa dipertemukan dengan orang seperti kalian. Berjuta ucapan kagum saya terhadap kalian. Saya berharap, teman-teman lain tergerak hatinya untuk selalu peduli terhadap teman-teman difable. Khususnya mereka yang keseharian akrab dengan teman-teman difable, untuk tetap sabar dan terus menebarkan kasih sayang. Jangan sungkan untuk selalu berbagi, karena berbagi bukan melulu soal uang.


Yogyakarta, 4 Desember 2016
© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.