Untitle

/
0 Comments
"Dikala hati tak ada tempat untuk berbagi. Aku merasa kehilangan segalanya, aku kehilangan kau yang dulu selalu ada untuk aku, aku kehilangan perhatian yang selalu kau berikan, aku kehilangan kasih yang selalu kau lontarkan. Aku bak berteman sepi. Aku tiada arah, aku sepi, sunyi. Seakan tak satupun dari mereka peduli.
Aku tertunduk, aku menangisi semua ini. Apa salahku Tuhan, mengapa Kau seakan murka kepada hamba-Mu ini? Apakah ada kesalahan di masa lalu, hingga aku pantas mendapatkan semua ini? Aku terus menangis. Aku tak mampu mengangkat kepalaku, aku tak mau melihat kedepan. Rasanya tak adil apa yang aku dapatkan saat ini. Semuanya suram, hitam.
Masa depan yang dulu indah, aku ukir semuanya di atas kertas berwarna-warni, kini semua tak ada artinya lagi. Aku bakar, aku robek, aku coret. Buat apa pikirku dalam hati. Toh orang-orang seperti aku sudah tidak diharapkan lagi didunia ini. Aku benar-benar sendiri Tuhan. Aku hanya tertunduk malu, menangisi keadaanku dikamar kos berukuran  4x6. Orang-orang tak ada yang mau menerimaku. Bagaimana dengan keluargaku yang di kampung nan jauh disana? Ahh rasanya tak mungkin aku pulang membawa aib seperti ini. Hanya akan membuat malu seluruh keluarga besarku. Tidak. Sekali lagi tidak."
Namaku Rina 20 tahun, aku mahasiswi disalah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Aku gadis kecil yang berasal dari kota Medan, tepatnya di daerah Berastagi. Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di Yogyakarta ketika aku lulus dari sebuah SMA Negeri di Medan. Aku salah satu anak yang cerdas ketika duduk di bangku SMA. Guru-guruku menyarankanku untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta, karena mereka menganggap Yogyakarta adalah kota yang cocok untuk mengembangkan kemampuan yang aku miliki. Akhirnya, Juli 2010 aku memutuskan untuk mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkemuka di kota pelajar ini. Seperti saran guruku sebelumnya, aku mengambil prodi Psikologi. Tuhan sayang dengan aku, aku diterima di prodi tersebut.
Aku mendapatkan banyak pengalaman di sini, aku belajar banyak dari orang-orang di seluruh penjuru nusantara. Aku juga mempunyai banyak teman di sini, aku sendiri memang orang yang mudah akrab.
Satu tahun berlalu, perkuliahanku berjalan lancar. Selama setahun ini aku belum bisa kembali ke kampung halamanku di Medan. Aku telah berjanji dengan amak dan bapak dan diriku sendiri, aku tidak akan pulang sebelum membawa gelar sarjana. Itu janjiku pada mereka. Alhamdulillah lingkungan tempat tinggalku semuanya mendukungku untuk menjadi wanita yang baik. Aku menempati kost tak jauh dari  kampusku. Dengan kamar berukuran 4x6 dengan kamar mandi di dalam. Lumayan bagus untuk ukuran mahasiswa.
Namanya Dimas, anak muda asli kota pelajar ini pacarku. Dia kakak tingkatku. Aku bertemu dengan dia, ketika masa-masa OSPEK. Dia laki-laki yang tampan, baik kepada semua orang, pintar dan tidak sombong. Aku beruntung memiliki Dimas, bagaimana tidak, banyak teman-temanku yang mengidolakan dia. Awalnya aku biasa saja melihat Dimas, seperti cowok yang lain, itu menurutku. Tapi, entah darimana rasa ini lambat laun muncul dengan sendirinya, ketika suatu hari aku dan Dimas tak sengaja bersamaan di perpustakaan. Karena aku mahasiswa baru di sini aku belum begitu tahu dimana letak buku yang aku perlukan. Tiba-tiba Dimas menghampiri aku yang terlihat bingung. Syukurlah ucapku dalam hati. Dimas bertanya kepada ku apa ada yang bisa ia bantu, aku menjawab tentu saja. Dari situlah mulai kedekatan ku dengan Dimas. Anak muda yang aktif dalam organisasi juga memiliki akademis yang tidak perlu diragukan lagi ini.
Sebulan setelah kejadian di perpustakaan itu, Dimas mengatakan bahwa dia menyayangiku, dia ingin aku menjadi pacarnya. Siapa yang menolak seorang laki-laki tampan seperti Dimas, bodoh sekali wanita itu. Tepatnya Hari Sabtu, tanggal 13 November 2010 aku jadian dengan Dimas.
Setahun sudah hubungan ku dengan Dimas. Itu artinya semakin dekat waktu yang akan aku habiskan bersama Dimas. Dia sibuk dengan skripsi. Baiklah sebagai pacar yang baik, aku tidak akan mengganggu kesibukannya. Aku dan Dimas sudah jarang sekali pergi berdua, nonton berdua, makan bareng berdua. Entahlah seakan Dimas yang sekarang bukanlah Dimas yang aku kenal satu tahun yang lalu. Aku coba bicara padanya empat mata, tapi dia selalu menghindar dengan berbagai alasannya. Lama-lama aku tak tahan dengan sikap Dimas yang seperti ini, aku coba mebuat janji untuk bertemu bahwa ada hal yang ingin aku katakan padanya penting sekali, ternyata Dimas juga ingin bicara sesuatu padaku. Kita bertemu di caffe biasa kita menghabiskan waktu berdua, kita berangkat sendiri-sendiri tidak ada jemput seperti setahun silam.
Di situ Dimas memulai pembicaraan. Inilah awal penderitaanku.
Entah apa yang ada di benak laki-laki yang selama setahun ini aku cintai. Dia mengatakan bahwa dia sudah bertunangan. Aku shock, aku tak bisa menahan air mata ini. Aku sesenggukan dihadapan Dimas. Dia mengatakan bahwa itu semua perjodohan dari orangtuanya. Peduli apa aku, masih adakah zaman seperti ini perjodohan. Ya Tuhan hatiku tercabik-cabik, aku ingin mati saja, sakit sekali rasanya, aku tak tahan Tuhan. Aku tak mampu berkata sepatah kata pun. Dimas yang sedari tadi terus mencoba menjelaskan mengapa akhir-akhir ini ia menghindariku mengatakan bahwa dia tidak ingin membuat aku terlalu dalam menyayanginya, dia juga mengatakan bahwa janji yang dulu pernah kita ucap untuk selalu bersama dan membina keluarga bersama agar dilupakan saja. Dimas juga mengatakan bahwa setelah wisuda nanti, ia akan melangsungkan pernikahan dan dia juga akan pergi keluar kota membawa calon istrinya itu untuk menempati rumahnya di Bandung. Dimas mengeluarkan undangan berwarna merah marun dengan pita kuning emas, manis sekali. Di halaman depan undangan itu terpampang foto Dimas dan Putri calon istrinya. Putri sangat anggun mengenakan gaun warna putih bersinar, begitu pula Dimas terlihat gagah mengenakan jas warna hitam. Mereka berdua mesra sekali, terlihat dari kedua wajah mereka terlukis senyum bahagia yang tulus. Aku coba tersenyum melihat undangan itu, aku sempat mengatakan selamat kepada Dimas, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan caffe tersebut.
Sesampainya di halaman caffe aku berharap Dimas menyusulku seperti setahun silam, lima menit aku tertegun disana, aku baru menyadari bahwa ini mustahil. Tidak mungkin Dimas mengejarku seperti saat aku dan dia bertengkar ketika pacaran dulu. Tukang parkir yang kerap aku dan Dimas sapa bertanya kepadaku mengapa aku menangis, bukankah Dimas bersamaku, mengapa Dimas tidak menyusulku seperti sebelum-sebelumnya. Aku hanya tersenyum kepada bapak paruh baya itu. Kemudian aku memutuskan untuk naik taksi, pergi kemana pun untuk menghilangkan sakitku ini. Sopir taksi yang sedari tadi melihat ku dari dalam kaca mobilnya terlihat bingung, sopir taksi itu juga sempat bertanya kemana arah tujuanku. Namun aku hanya diam tak menjawabnya. Setelah hampir dua jam aku berada di taksi itu, sopir taksi itu memberhentikan mobilnya di caffe tadi. Sopir taksi bingung mau membawa ku kemana lagi karena aku hanya diam dan sebentar-sebentar menangis, akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan aku di tempat dimana aku menyetop taksi tadi.
Pukul 23.45. Caffe itu tampak sepi, tukang parkir yang aku lihat dua jam yang lalu masih sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk caffe sudah tidak terlihat lagi. Aku masih duduk termenung di situ, aku mulai mengusap air mataku yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. Tiba-tiba ada mobil mendekatiku, sepertinya sering aku lihat mobil itu ketika di kampus. Tepat sekali itu Mila teman satu kelasku, aku tidak terlalu akrab bergaul dengannya karena Mila hanya mau bergaul dengan orang-orang yang keren dan modist. Mila menjulurkan kepala dari balik kaca mobilnya, ia mencoba menyapaku yang hanya duduk sendiri larut seperti ini. Mila mengajakku untuk menaiki mobilnya bersama. Aku mengiyakan ajakan Mila. Mila ternyata baik sekali, ia bersimpati kepadaku. Aku menceritakan semua kejadian yang baru saja aku alami di caffe tadi. Mila memberi solusi agar aku ikut bersamanya, ia bilang aku takkan menyesal ikut bersamanya. Aku pun percaya dengan apa yang Mila ucapkan.
Sampai Mila memarkir mobilnya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi di situ sudah terparkir banyak mobil-mobil mewah. Terlihat dari mobilnya sepertinya bukan orang dari kalangan biasa pemilik mobil-mobil mewah ini. Kemudian aku melangkahkan kaki di rumah yang sama sekali belum pernah aku kenal itu. Di situ terdapat banyak sekali laki-laki dan gadis-gadis seksi. Aku dibawa ke ruangan Mila, entahlah ruangan apa ini. Rina mengajakku untuk bergabung bersamanya menjalankan bisnis prostitusinya. Aku kaget, aku tidak pernah menyangka akan dibawa ke tempat seperti ini. Sepanjang sejarah hidupku aku tidak pernah punya keinginan untuk berbuat seperti ini. Aku bilang tidak, aku berlari keluar. Di ruang tamu itu ada om-om yang mencoba menahanku, aku melepas tangannya dari tanganku. Aku terus saja berlari, aku mencari taksi, aku berharap Tuhan masih sayang denganku dan masih melindungiku. Alhamdulillah aku langsung menaikki taksi itu dan mengatakan alamat kostku.
Pagi itu aku bangun terlambat, aku tidak berangkat ke kampus. Beberapa detik setelah aku membuka mataku, handphone ku berbunyi tanda pesan masuk. Aku melihat ini dari amakku yang di kampung. Setelah aku buka dan aku baca sms itu, tiba-tiba... Tidak. Aku menangis, membaca isi sms itu, amak bilang rumah dan toko ku yang di kampung terbakar, tak ada barang yang bisa diselamatkan lagi. Untungnya amak, bapak dan kedua adikku masih bisa terselamatkan. Amak bilang untuk beberapa bulan kedepan, tidak mungkin aku mendapat kiriman uang dari kampung. Amak dan bapak sudah tidak punya apa-apa. Satu-satunya mata pencaharian keluargaku hangus dilalap si jago merah. Amak bilang ada sekelompok orang yang sengaja membakar rumah dan toko kami di sana, karena mereka tidak suka dengan kesuksesan yang telah kami capai.
Aku terdiam. Pikiranku runyam, rasanya kepalaku ingin pecah. Mengapa masalah datang bertubi-tubi menimpaku seperti ini. Setelah semalam aku mengetahui Dimas akan menikah dengan wanita lain, pagi ini aku mendapat kabar bahwa keluargaku di kampung halaman terkena musibah.
Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk mandi kemudian bergegas ke kampus. Untuk apa lagi kalau bukan bertemu dengan Mila menerima tawarannya tadi malam. Di sinilah awal dari cerita suram hidupku.
Sesampainya di kampus, aku menemui Mila. Aku mengatakan aku butuh pekerjaan itu, aku butuh uang untuk membantu orangtuaku di kampung. Tentu saja Mila ragu, bisa-bisa aku kabur seperti tadi malam. Aku berjanji pada Mila, aku takkan kabur, aku akan profesional, aku benar-benar butuh pekerjaan itu, aku butuh uang segera. Mila setuju aku bergabung bersamanya.
Malam itu kali pertamanya aku terjun didunia prostitusi ini. Aku rela melakukan apa saja asalkan orangtuaku di kampung tidak kesusahan. Satu minggu berlalu, aku menikmati pekerjaan baruku. Dua minggu, tiga minggu, satu bulan. Aku memberikan uang hasil kerjaku kepada orangtuaku di kampung, aku bilang kepada mereka bahwa aku disini kerja part time dan ada sedikit uang untuk mereka. Mereka senang sekali, bahagia, ketika suara terdengar dari balik telephone. Aku tersenyum sambil menahan air mata ini. Dalam hati aku berkata maafkan Rina mak, pak, Rin melakukan ini demi kalian di kampung. Setelah dua tiga kalimat terucap, percakapan anak dan orangtua ini ditutup.
Pekerjaanku ini sudah berjalan enam bulan, setiap bulannya aku pun rutin mengirim uang ke kampung. Amak dan bapak bilang mereka perlahan sudah bisa membangun rumah, dari uang hasil pemberianku tersebut.
Soal kehidupanku di kota ini, aku tak pernah bercerita ke amak dan bapak. Kuliahku yang terbengkalai juga tak pernah aku ceritakan ke mereka. Jika mereka bertanya aku menjawab semuanya baik-baik saja tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana tidak, aku kerja dari pukul sebelas malam hingga tiga pagi untuk menemani om-om hidung belang. Setelah itu aku pulang ke kost tidur hingga siang terkadang sore baru aku bangun. Aku tak pernah lagi sholat, aku tak pernah lagi mengingat Allah. Sepertinya aku sudah bahagia dengan ini semua. Perlahan aku bisa membeli kendaraan pribadi, setelah sebelumnya aku kemana-mana naik taksi atau ojek, kini aku bisa membeli mobil sendiri. Soal mobil ini aku tak pernah cerita kepada amak dan bapak. Hanya Mila lah orang terdekat yang kini aku punya. Dimas pun sudah entah bagaimana kabarnya, aku tak peduli. Aku tak peduli pada semua yang telah membuatku sakit.
Pada suatu malam, di rumah tempat aku bekerja terdapat razia. Entah darimana polisi-polisi ini datang, untungnya aku belum sampai di tempat kerjaku itu, aku sudah mendapati kabar dari teman seprofesiku yang lain bahwa Mila tertangkap. Aku kehilangan pekerjaanku itu, aku kehilangan uangku. Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku jatuh sakit. Ketika itu aku memutuskan ke kampus untuk sekadar main dan melihat-lihat kondisi kampusku. Ternyata di papan pengumuman terpampang namaku dalam daftar mahasiswa yang di DO alias drop out. Aku kaget, mukaku pucat, aku tak sadrkan diri. Aku dibawa petugas kebersihan ke klinik kampus. Dokter yang memeriksaku menyarankan aku untuk banyak istirahat, dia bilang aku hanya kecapekan. Kecapekan, memangnya aku bekerja apa, aku tak melakukan apa-apa selama seminggu ini.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, kondisiku terus menurun dari hari ke hari. Aku memutuskan menjual mobil hasil kerjaku, kemudian uang itu aku gunakan untuk hidup sehari-hari. Pada hari itu juga aku memutuskan untuk ke Rumah Sakit ternama di kota ini untuk memeriksakan kondisiku. Sesampainya di RS, aku melewati beberapa cek kesehatan. Seperti cek darah. Dari situlah, aku tahu bahwa tubuhku terdapat virus yang telah menggerogoti sistem kekebalan tubuhku yang dari hari ke hari melemas. Aku positif HIV AIDS.
Aku kembali ke rumah kost-kostanku. Hancur sudah masa depanku. Aku kehilangan kuliahku, aku kehilangan kesehatanku. HIV kini menjadi teman baikku. Aku merasa kehilangan segalanya, aku kehilangan kau yang dulu selalu ada untuk aku, aku kehilangan perhatian yang selalu kau berikan, aku kehilangan kasih yang selalu kau lontarkan. Aku bak berteman sepi. Aku tiada arah, aku sepi, sunyi. Seakan tak satupun dari mereka peduli.
Aku tertunduk, aku menangisi semua ini. Apa salahku Tuhan, mengapa Kau seakan murka kepada hamba-Mu ini? Apakah ada kesalahan di masa lalu, hingga aku pantas mendapatkan semua ini? Aku terus menangis. Aku tak mampu mengangkat kepalaku, aku tak mau melihat kedepan. Rasanya tak adil apa yang aku dapatkan saat ini. Semuanya suram, hitam.
Aku baru tersadar, ternyata kehidupan yang beberapa bulan lalu aku banggakan dan aku nikmati inilah hasilnya. Penyakit yang menjijikkan HIV AIDS, begitu pula pengidapnya. Aku lelah, tak bisa mengembalikan segalanya. Masa depan yang dulu indah, aku ukir semuanya di atas kertas berwarna-warni, kini semua tak ada artinya lagi. Aku bakar, aku robek, aku coret. Buat apa pikirku dalam hati. Toh orang-orang seperti aku sudah tidak diharapkan lagi di dunia ini. Aku benar-benar sendiri Tuhan. Aku hanya tertunduk malu, menangisi keadaanku di kamar kost berukuran  4x6. Orang-orang tak ada yang mau menerimaku. Bagaimana dengan keluargaku yang di kampung nan jauh di sana? Ahh rasanya tak mungkin aku pulang membawa aib seperti ini. Hanya akan membuat malu seluruh keluarga besarku. Tidak. Sekali lagi tidak.

Note :
Manusia-manusia seperti Rina tidak seharusnya kita kucilkan, ingat jauhi penyakitnya bukan orangnya. Jangan hanya melihat sisi negatif dari penyakitnya, tapi coba kita telaah lebih dalam. Apa sebenarnya motif itu semua. Kita hidup bersosial, kita rangkul mereka. Masih banyak Rina Rina yang lain di luar sana yang membutuhkan kita manusia yang memiliki jiwa sosial dan simpati. Jangan biarkan Rina sendiri, Rina butuh orang-orang peduli seperti kita. Mari mulai dari diri kita sendiri kita buka tangan kita, kita bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan kita, tidak peduli mereka mempunyai latar belakang seperti apa, yang pasti kita harus mampu menjadi manusia yang memiliki hati yang tulus kepada sesama.

Nb: Cerpen ini aku tulis ketika peringatan Hari HIV Aids sedunia tanggal 3 Desember. Tidak bermaksud apa-apa hanya sebuah cerpen biasa.




You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.