Surga Bella

/
0 Comments
Namaku Bella Ayunindya Pratama 16 tahun. Gadis belia yang belum paham apa-apa. Aku anak tunggal dari pasangan Herman Pratama dan Dewi Mukti. Aku hadir di tengah-tengah keluarga yang mapan, bisa dibilang konglomerat. Aku memiliki segalanya, apapun yang aku inginkan pasti bisa aku dapatkan. Aku duduk dibangku SMA, tingkat 3. Umurku memang baru 16 tahun, tapi tinggal beberapa bulan lagi aku sudah tidak mengenakan putih abu-abu ini lagi. Aku mengikuti program akselerasi di SMA ku. SMA paling favorit di kota ini, Jakarta.

Empat bulan menjelang Ujian Nasional, aku sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Aku mengikuti bimbel di beberapa tempat, satu minggu sekali sekolah juga mengadakan try out untuk mengukur sejauh mana siswa-siswa di sekolahku siap menghadapi ujian. Papa dan mama ku mendukung dan memberi semangat untuk ujianku ini. Mereka berdua memang sibuk, papa direktur disebuah perusahaan swasta terkenal yang bergerak dibidang otomotif, dan mama memegang perusahaan keluarga. Mama sebagai CEO di perusahaan bidang interior. Mereka orangtua yang memberikan fasilitas apapun demi kebaikanku.
Usiaku hampir 17 tahun itu artinya sebentar lagi aku menjadi orang dewasa, seperti papa dan mama ku. Sungguh aku ingin sekali merasakan bagaimana dewasa itu. Aku yang terlihat baik-baik saja di depan semua orang, menyimpan pedih hati yang sangat dalam. Tak ada yang tahu kecuali aku, papa dan mamaku. Papa dan mama ku memaksaku untuk bersikap manis pada semua orang, termasuk mereka berdua, orangtuaku. Mamaku tak pernah menyiapkan sarapan pagiku,  papaku tak pernah menemaniku sarapan pagi, mereka berdua sibuk mengurusi pekerjaan mereka.
Hidupku tak seindah yang kalian pikirkan juga kedua orangtua itu. Aku tak pernah mendapatkan pujian ketika aku mendapat nilai bagus, aku tak pernah berlibur ke pantai atau puncak bersama. Aku iri dengan teman-temanku, mereka hidup dikeluarga yang biasa, tidak berkecukupan seperti aku. Tetapi justru kasih sayang yang mereka terima lebih dari aku. Setiap pulang dari sekolah yang aku temui hanya mbok yem, pembantu rumah tangga yang telah bekerja selama seperempat abad untuk keluargaku. Mbok yem lah teman ketika aku ingin nonton film, mbok yem lah teman ketika menemani aku makan malam, dan mbok yem juga lah yang menyiapkan kebutuhanku sehari-hari.
Aku serasa tak punya orangtua. Apa yang mereka cari sebenarnya dengan bekerja terus-menerus tanpa berhenti seperti ini, apakah mereka todak pernah memikirkan aku, aku butuh kasih sayang mereka. Rasanya aku ingin pergi jauh, jauh sekali, meninggalkan gelimangan harta ini. Toh tak ada gunanya aku memiliki ini semua, jika hati aku kering tanpa ada kasih sayang dari orang di sekitarku, orangtua.
Aku sempat mempunyai pacar beberapa bulan lalu. Aku mengenalkan dika kepada papa dan mama. Sudah bisa ditebak, mereka langsung menolak Dika mentah-mentah. Dika diusir dari rumahku, aku kena marah sepanjang malam itu. Aku dikurung di kamar, di kunci dari luar. Aku hanya tertunduk, menangis sepanjang malam. Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Entah iblis darimana yang mampir di otakku terbesit pikiran untuk mengakhiri hidup ini. Aku mengambil pisau yang ada di meja. Aku goreskan di tangan kiriku, berkali-kali, tapi Tuhan berkehendak lain. Sekuat apa pun aku coba bunuh diri, ternyata Tuhan masih ingin aku tetap hidup, apapun yang aku lakukan tidak berbuahkan hasil.
Aku menyerah mencoba bunuh diri, itu hanya akan melukai diriku saja dan tak membuat semua menjadi lebih baik. Kamar yang mewah, dengan seluruh isinya ini nampak hampa dan kosong. Tak ada yang mampu aku lihat kecuali kegelapan di depanku. Keluarga yang aku inginkan tak pernah aku temukan disini. Aku seperti boneka yang menuruti semua perintah si empunya. Mereka bawa aku terbang tinggi, kemudian mereka hempaskan aku begitu saja. Aku harus menuruti semua perintah mereka. Mereka pikir aku ini mainan. Sadarkan mereka Tuhan, sebelum aku sendiri yang akan pergi dari hidup mereka untuk selamanya. Pa, Ma Bella hanya ingin seperti anak seusia Bella yang lain, mereka mendapat kasih sayang penuh dari orangtua mereka. Mereka tidak di tuntut macam-macam, mereka sesuka hati mereka mengambil keputusan apa pun asalkan bertanggungjawab. Sedangkan aku, aku masih kalian anggap anak kecil yang apa-apa harus serba di atur. Bella capek pa ma. Bella seperti hidup sendiri di dunia. Tidak ada yang bisa menjadi tempat untuk Bella berkeluh kesah, berbagi, bercerita tentang banyak hal sepanjang hari.
Tuhan, Kau tak adil padaku. Aku tak pernah meraskan kebahagiaan yang utuh, hanya sedih yang selalu aku rasa selama ini, dimana keadilan-Mu. Bukankah Engkau Maha Adil? Terkadang aku ingin hidup dikolong jembatan sekalipun, asalkan aku mendapat kebahagiaan dari kedua orangtuaku. Meskipun sulit untuk mencari sesuap nasi, tapi palah arti semua itu, jika kebahagiaan telah kita dapat dari orang sekitar kita.
Orangtuaku tak pernah memberikan sedikit saja ruang gerak untuk ku memilih suatu tujuan. Seperti perguruan tinggi dan jurusan yang akan ku ambil nanti. Aku belum melaksanakan ujian nasilnal pa, ma, tapi kenapa segala sesuatunya sudah kalian atur sesuka kalian. Padahal aku juga punya pilihan sendiri yang aku rasa itu terbaik untukku.
Menjelang tiga hari ujian nasionalku berlangsung, entah apa yang aku pikirkan. Aku sama sekali tidak memikirkan ujian nasonalku, aku tak punya kesiapan yang selama ini aku cari. Ketika itu, aku memberanikan diri mengendarai mobil pribadi papa, aku pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Di tengah perjalanan aku mendapati ponselku berbunyi, aku mencoba mencari ponsel itu. Aku meraba-raba di dasbor mobil. Di pertigaan yang tak jauh dari rumahku, ada truk yang membawa material bangunan, aku tak bisa mengontrol mobilku. Aku coba menghindari truk itu, tapi… Aku terlambat, truk itu melaju kencang dan seketika truk itu menabrak mobil papa ku dan aku. Entah siapa yang menolongku, tiba-tiba aku dibawa ke rumah sakit.
Di ruang ICU saat itu. Setelah selama berhari-hari aku megalami masa kritisku disitu, aku sadarkan diri. Papa dan mamaku disampingku, dari suaranya mama menangis tersendu-sendu melihat tubuhku yang penuh dengan perban. Dan papa mungkin sangat terpukul ketika itu ia hanya diam tak bersuara. Aku tak tahu kenapa, kaki ku serasa tak bisa digerakkan. Mata ku buka perlahan, tapi aku tak bisa melihat cahaya apa pun. Yang aku lihat hanya gelap. Yah… mama bilang aku kehilangan penglihatanku, dan kaki ku diamputasi karena luka parah yang aku derita.
Yang aku tanyakan pertama kali kepada mereka adalah, “bukankah hari ini kalian bekerja, kenapa tidak ke kantor, kenapa masih disini?” terdengar suara mama yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk papa. Mama terbata-bata mengeluarkan kata-kata sambil menangis. Mereka berdua meminta maaf padaku. Aku bilang kalian sudah terlambat. Kalian puas melihat aku sekaranag, kehilangan penglihatan dan kaki ku. Boneka yang selalu bisa kalian atur kini telah cacat. Kalian khawatir, kalian tidak punya mainannz untuk bisa dimainkan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang mereka lakukan dengan kaki kanan ku yang hilang, mereka mencoba menangis dikakiku. Tapi itu tidak akan mengembalikan semuanya bukan.
Selama tiga minggu aku dirawat di rumah sakit. Aku dibawa pulang kerumah yang dulu seperti istana bonekaku itu. Tapi entahlah, toh aku tidak bisa melihat itu lagi. Seharian aku berbaring di tempat tidur, dengan soft bed yang sama aku rasakan sebelum aku kehilangan penglihatanku dulu. Makan, minum, mandi dan apa pun selalu dibantu dengan suster khususku. Papa mama? Aku tidak tahu, aku tak pernah tahu apa yang mereka lakukan kini dan aku tidak mau tahu lagi.
Berhari-hari aku hanya terbaring lemah di kamar tidurku. Aku bilang kepada perawatku bahwa aku ingin kepantai. Tapi kata perawat muda itu, aku tidak boleh keluar terlalu jauh seperti pantai, karena lukaku belum sepenuhnya kering. Tapi aku ingin ke pantai, aku ingin suasana indah pantai. Akhirnya perawat memperbolehkan aku untuk ke pantai setelah aku mengamuk apa pun yang ada di sekitarku.
Hari jum’at 6 september 2013 aku, papa, dan mamaku pergi kepantai bersama. Baru kali ini, ya baru sekali ini aku dan orangtuaku berlibur bersama. Di sana aku yang duduk dikursi roda, menatap kosong ke depan. Mama menceritakan keindahan pantai itu, begitu pula papa yang ikut menyahuti cerita mama. Aku meminta papa dan mama memelukku, mereka memelukku. Hangat dan penuh kasih sekali. Pelukan terakhirku. Ya, pelukan terakhir dan liburan prtama sekaligus terakhir. Aku menutup mataku, sebelum ini aku meminum racun yang membunuhku beberapa kemudian. Racun itu aku simpan d ilaci meja kamarku, jauh sebelum aku seperti ini. Ketika aku masih memiliki segalanya. Aku bahagia, bahagia sekali ketika itu.

Sudah saatnya Bella istirahat. Pa, Ma terimakasih untuk semuanya. Terimaksih untuk selama ini, Bella beruntung telah memiliki orangtua hebat seperti kalian berdua. Maafkan Bella jika Bella hanya menyusahkan kalian berdua. Bella beruntung pernah terlahir dari keluarga ini. Bella ingin istirahat. Lihatlah ! Bellla kembali memiliki penglihatan dan kaki. Papa dan mama baik-baik, selalu do’akan Bella ya. Bella sayang papa dan mama. Bella istirahat dengan tenang di pangkuan Tuhan. Salam sayang dari Bella di surga.


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.