Aku Menikah Denganmu

/
0 Comments

Dengan judul awal 'Aku jatuh cinta dengan sahabat kekasihku' dan akhirnya harus rela hanya menjadi sub judul dengan judul baru 'Aku Menikah Denganmu'



Namaku Dinda. Dinda Resita. 26 tahun, wanita karrier dan istri bahagia dari seorang laki-laki hebat, suamiku. Pernikahan dengan suamiku ini terjadi empat tahun yang lalu. Ketika itu sesuatu yang besar terjadi dengan hidupanku….

4 tahun lalu

Diusiaku yang ke 22 tahun, aku lulus kuliah dengan predikat prestasi terbaik di jurusanku, Hubungan Internasional. Untuk urusan percintaan, tak perlu diragukan lagi. Empat tahun pacaran dengan Alfian Adi Putra membuatku cukup matang untuk siap melangkah ke jenjang yang lebih serius.
“Sayang aku lulus,…” aku berbisik di telinga Fian dengan rasa haru dan ada maksud yang menggantung di ujung kalimatku.
“Iya sayang. Selamat semoga ilmu yang kamu dapat, bermanfaat ya.” Jawabnya dengan haru biru.
Entah saat itu, apakah dia tak mengerti maksud hatiku entah dia memang tak mau membahas itu, atau memang dia tak sanggup untuk itu? Semua pertanyaan itu tetap dan selalu menggantung di pikiranku saat ini.
***
Aku dan Fian berpacaran sejak kami lulus dari SMA masing-masing. Dua tahun kami LDR karena dia harus mengambil pendidikan teknik pemesinan pesawat di Medan. Medan-Jakarta, jauh bukan main. Tapi aku sanggup, aku mampu dalam kurun waktu dua tahun itu menunggunya pulang.
Dua tahun berikutnya, aku dan Fian bersama. Dia kembali ke Jakarta lalu ingin memantapkan pendidikan lagi dan mengulang dari tahun pertama di Jogja. Tapi kali ini berbeda. Bukan penerbangan lah yang ingin ia ambil. Dia mengambil pendidikan S1, Teknik Informatika di Universitas ternama di Jogja.
“Sayang, kamu yakin mau kuliah dengan jurusan berbeda seperti ini? Kamu gak mau melanjutkan pendidikan teknik pemesinan pesawatmu dan mencari kerja di sini sembari kamu menemaniku?”
“Enggak sayang, orangtua ku pun juga telah menyetujuinya.”
Sejak saat itu, aku berhenti mengatur hidupnya. Ketika ia masuk ditahun pertama, aku telah duduk di semester 5. Semester yang cukup matang untuk memikirkan skripsi.
Senja mulai menampakkan dirinya di garis cakrawala di ufuk barat. Sore itu Fian tiba-tiba mengetuk pintu kamar kosku.
“Dinda, …” dia terus mengetuk
“Siapa? Iya sebentar.” Jawabku buru-buru merapikan diri. Lalu ku buka pintu kamarku dan ada dua orang sosok laki-laki. Pertama Fian pacarku dan satu lagi Rizal sahabat Fian.
“Ada apa?”
“Rizal boleh aku tinggal sebentar di sini, ajak lah dia ngobrol aku ada kepentingan di sekitar sini sama temen kampus.”
“Oh…yaudah. Rizal, tunggu depan ya.”
“Ok Din.” Jawabnya mafum.
Sementara Rizal duduk di halaman depan kos-kosan, aku dan Fian ngobrol sebentar meskipun dia terlihat terburu-buru tapi Fian tidak pernah lupa mencium keningku sebelum ia pergi.
“Hati-hati ya sayang.” Sambil ku pegang tangannya. Fian tersenyum sambil mengangguk.
Aku segera duduk di samping Rizal. Kita mengobrolkan banyak hal, hingga aku lupa bahwa Rizal sahabat kekasihku. Aku bercerita padanya tentang suka dukaku menjalin hubungan dengan Fian. Rizal mendengarkanku dengan bijak dan sesekali tangannya mengusap pundakku, “Sabar ya Dinda. Fian memang dari dulu seperti itu.”
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang membuatku lupa dengan masalahku. Senja mulai habis dimakan waktu. Hingga petang pun menyapa. Aku lupa bahwa aku telah mempunyai Fian, aku lupa semuanya. Hingga pada akhirnya aku bercerita tentang sesuatu yang pernah Fian lakukan dan membuatku sakit. Itulah puncaknya; aku menangis.
“Dinda, kamu jangan menangis.” Sambil dia menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Zal, aku gak tau apakah aku sama Fian bisa berakhir indah. Kamu tahu kan, setiap aku menyinggung tentang pernikahan dia selalu menghindar.”
“Din, Fian hanya belum siap,” belum selesai dia berbicara aku sudah memotongnya.
“Belum siap apa? Dia itu memang mencari alasan saja. Aku lelah Zal, aku lelah selama ini dalam diam.” Hingga baju Rizal basah oleh air mataku. “Maaf Zal, maafkan aku.”
Kurang lebih lima detik kita berpandangan, salin tatap, dan ada sesuatu yang aneh yang terjadi padaku. Dan kita saling menghindar.
“Gak masalah Din. Oh iya, kamu kalau ada apa-apa ngobrol sama aku. Aku pasti bantu kamu.”
“Thanks ya Zal.”
***
Dua minggu setelah kejadian di kos-kosan itu, aku mengajak Rizal untuk makan di luar; tentu saja tanpa sepengetahuan Fian. Dia sibuk mengurus perkuliahan di awal tahun. Rizal dan aku sesama duduk di semester 5, dengan kampus yang berbeda.
“Zal,…” disela-sela makan malam itu aku memulai pembicaraan yang ingin aku sampaikan.
“Kenapa Din.” Sambil dia meletakkan garpu di piringnya dan memperhatikanku.
“Zal, bagaimana kalau akhirnya wanita yang saat ini mempunyai kekasih tapi ia lelah terus menerus disakiti oleh sikap kekasihnya dan akhirnya dia jatuh cinta dengan sahabat kekasihnya?”
“Maksud kamu? Aku gak ngerti Din.”
“Zal, aku jatuh cinta padamu. Mungkin kamu berpikir aku gila. Tapi aku hanya ingin mengungkapkan, untuk selanjutnya aku gak berharap lebih karena aku sadar akan Fian diantara kita.”
“Dinda, aku gak bisa. Fian sahabatku dan dia sangat baik denganku, aku gak mungkin bisa sperti ini.”
“Tapi Zal, aku bisa bicara dengan Fian kalau aku ingin semuanya berakhir.”
“Aku tahu, tapi kamu yang bilang sendiri kamu sudah berkali-kali meminta hubungan kalian berakhir tapi Fian gak pernah menyetujui itu kan? Dinda aku gak bisa apa-apa. Kamu tahu? Bukan sore itu saja aku menginginkan berdua denganmu, aku sudah lama mengagumimu tapi aku gak pernah bisa memulai. Karena kamu terlalu indah untukku yang seperti ini. Aku tahu kamu yang pernah jadi kekasih teman SMA ku dulu, dan saat ini kamu menjadi kekasih sahabat baikku. Tapi dengan melihatmu bahagia, itu lebih dari cukup bagiku Din. Sungguh.”
“Tapi Zal, kita bisa bilang sma Fian. Sekarang kalau perlu dan kita bisa menjadi sepasang kekasih.”
“Dinda, kita sudah dewasa. Aku gak mau bermain-main lagi. Biarlah kamu berpacaran dengan Fian, tapi saat itu juga aku menata hidupku untuk pantas di depanmu nanti.”
“Maksud Rizal apa?”
“Suatu hari kamu akan tahu Din. Sudah ya, mari kita pulang aku antar kamu sekarang. Sudah terlewat malam untuk wanita sepertimu. Aku gak mau hal buruk terjadi.”
Sesampainya di kamar kos. Aku melihat ponselku, ada chat dari Fian. Dia seperti orang kebingungan mencariku.
Ditempat lain, Rizal menemui Fian di kosnya.
“Hey man, ngapain malem-malem ke kos. Tumben banget.”
“Mau numpang di kos lo boleh ya bro.”
“Haha…sok ahh lo, ya udah masuk sini. Lo darimana emang tumben jomblo jam segini baru pulang.” Ledek Fian dengan tawa terbahak-bahaknya.
“Anjirrr lo, gue juga punya gebetan kali emang jomblo sendiri-sendiri aja.”
“Haha canda men. Eh Zal, gue kenapa ya akhir-akhir ini gue berasa aneh sama sikap Dinda. Dia kayak bukan Dinda yang manis yang dulu gue kenal. Dia jarang ada waktu buat gue.”
“Gaya lo, bukannya elu yang gada waktu buat dia. Nah lo sibuk mulu sama kampus baru haha.”
“Iya sih. Tapi itu dulu men, sekarang udah enggak. Lah giliran Dinda yang sibuk kali ya.”
“Iya Yan, ya udah kalian positive thinking aja kenapa.”
“Gue chat dia daritadi, barusan juga di balas. Dan sekarang udah tidur kan njiir banget cewek gue satu itu.”
“Hahaha mampus gak kalau digituin haha.”
Tawa mereka berdua pecah di kamar berukuran 3x3m. Mereka sahabat yang mampu tertawa dalam situasi apa pun. Bahkan keadaan hati masing-masing yang mengkhawatirkan satu wanita yang sama-sama mereka cintai.
Rizal mengurungkan niatnya.
Setelah kejadian makan malam itu, Rizal dan Dinda sering jalan berdua. Siang itu Rizal mengajak Dinda makan siang di sebuah restoran. Karena kampus Dinda dan Rizal lumayan cukup dekat mereka memiliki banyak waktu bersama. Mereka seperti sepasang kekasih bahagia yang baru saja mengikrarkan hubungan mereka.
“Dinda, kita ngomong ke Fian yuk.”
“Aku gak bisa Zal, aku gak akan bisa membuat hatinya hancur.”
“Tapi Din, semakin kita jauh melangkah, semakin aku gak bisa menusuk sahabatku sendiri dari belakang. Aku sahabatan dengan Fian udah lama Din. Aku gak mau buat dia depresi apa lagi kalau dia melihat kedekatan kita.”
“Kalau kamu gak bisa, besok aku sendiri yang akan bilang ke Fian. Dan ini mungkin terakhir kali kita jalan berdua Din. Tenang aja aku gak akan bua dia marah sama kamu.”
Sore harinya Rizal sudah sampai di halaman kos Fian.
Suara motor Fian masuk ke garasi kos itu. Dan seketika dia melihat Rizal duduk di halaman, “Hey men, udah lama?”
“Belum terlalu,”
“Sini masuk dulu.”
“Gak, gak perlu Yan. Gue mau minta maaf sama lo. Gue selama ini jalan sama Dinda, gue makan sama Dia tanpa sepengetahuan lo, gue jalan ke luar tanpa lo pernah tahu. Tapi gue mohon lo jangan pernah putus atau marah sama Dinda. Gue yang salah Yan, gue yang gak tahu diri. Dan ini terakhir gue di Jogja. Gue mau ke Makasar tempat abang gue, gue mau lanjutin kuliah di sana. Maafin gue yang udah nyusahin lu Yan. Dan thanks buat persahabatan kita selama ini.”
Fian hanya terduduk diam di bangku halaman kosnya.
“Hajar gue Yan, hajar gue. Biar lo puas.”
“Gue gak bisa lanjutin hubungan gue sama Dinda Zal.”
“Kenapa Yan, Dinda sayang banget sma lo. Dia mau bertahan selama ini demi lo Yan. Dan lo bakal nyerah gitu aja? Gue berani sumpah, gue gak apa-apain Dinda. Dinda wanita baik-baik, gue percaya lo juga gak mungkin lakuin hal bodoh. Yan, maafkan kekhilafan kita berdua. Dan ini ada tiket nonton konser, gue tahu Dinda suka banget sama Payung Teduh. Lo ajak dia nonton ya.”
“Thanks Zal, lo udah jadi sahabat terbaik gue. Kenapa lu harus pindah di Makasar?”
“Gue pamit sekalian ya bro, salam buat Dinda. Titip dia Yan, jaga dia. Dia wanita baik dan lo berhak bersamanya. Abang gue yang minta, katanya dia masukin gue di kampus tempat dia jadi dosen. Daripada katanya gue di sini cuman ngabisin duit dia aja.”
Sore yang haru itu, terakhir dua sahabat berpelukan saling menguatkan dan mensupport. Sampai akhirnya hari ini mereka bertemu lagi, di acara sacral. Akad nikah.
Pagi ini Dinda, calon mempelai wanita berdandan cantik bagai ratu sehari bersama calon mempelai laki-laki yang gagah.
“Saya terima nikahnya Dinda Resita binti Bima Anggara dengan mas kawin tersebut tunai.”
Suara ‘sahhh’ menggema di ruang utama masjid itu. Tempat kedua mempelai dan para saksi haru biru.
“Selamat ya bro. Akhirnya lo sama Dinda nikah juga. Kalian hebat, berhasil bertahan meski LDR.”
“Selamat ya Dinda, buat Rizal bahagia. Kalian serasi dan aku berharap, aku segera menyususl seperti kalian.”
Tawa mereka meledak.
***
Ya. Pagi itu akad nikah Dinda dan Rizal. Rizal memang sengaja menghindar dan menajuh darinya karena dia tidak mau melihat Dinda yang selalu menyakiti Fian. Dan akhirnya sepulang dari pendidikan Rizal di Makasar, Dinda telah menjadi wanita karier, pintar, cantik, single, dan tentu saja hubungannya dengan Fian telah kandas. Apalagi masalahnya kalau bukan, Fian yang belum siap melangkah ke depan. Sedangkan itu, Dinda telah menjadi wanita muda yang sukses. Karena Fian jujur belum mampu mengajak dia ke jenjang yang lebih serius dan Fian masih belum lulus juga.
Takdir tak pernah slaah dan selalu tepat waktu. Begitu halnya Dinda dan Rizal kala itu. Mereka merencanakan untuk bertemu. Hari itu juga, Rizal mengatakan bahwa dia ingin segera melamar Dinda. Rizal ingin menadikan Dinda wanitanya.
Hingga pagi ini semua penantian Rizal terawab sudah. Dinda dan Rizal bahagia tanpa harus menjadi sepasang kekasih, tak perlu tersakiti karena hal-hal kecil, tak pernah sekalipun berpacaran laiknya muda mudi. Mereka memantaskan diri masing-masing hingga halal menjemput keduanya di akad tersebut. Hingga Dinda halal untuk Rizal.
--END--


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.