Tentang BIE

/
4 Comments
Cerita tentangmu selalu menarik. Bahkan cerita tentangmu yang sering menyakitiku, kasar, penuh emosi, tapi bagiku itu tidak ada apa-apanya dari romantisme yang pernah kamu berikan. Inilah cerita itu, antara aku dan sebut saja Alfat…

Aku mengenalmu kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika aku duduk di bangku SMK kelas 1. 16 Mei 2011, ketika kelulusan kelas 3 tingkat Sekolah Menengah Atas/sederajatnya, aku memutuskan meminta no ponselmu ke teman satu kelasku, Septi. Aku dengar kamu dan Septi adalah teman baik semasa SMP. Dengan alasan aku ingin bertanya mengenai Brian, mantan kekasihku—yang juga sahabat baik Alfat— mengapa Brian memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya tanpa alasan satu pun. Itu yang membuatku bertanya-tanya hingga akhirnya aku tahu hal itu dari mulut Brian suatu hari.
Setelah mendapat no ponsel dari Septi, aku mengirim pesan kepada Alfat, bertanya banyak hal tentang Brian yang tidak jelas alasannya memutuskan aku. Alfat menjawab bahwa dia tidak pernah tahu alasannya, karena Brian tidak pernah bercerita tentangku. Kalaupun cerita Brian hanya bercerita satu-dua patah kata, itu juga karena Alfat memaksanya. Aku meminta bantuan alfat agar dia memaksa Brian bercerita kepadanya mengapa selama ini dia memutusku tanpa alasan yang jelas. Aku hanya mampu berdo’a, semoga Alfat berhasil membujuk Brian untuk bercerita kepadanya.
Hari berikutnya aku bertanya kepada Alfat, dia bilang tidak ada perkembangan. Hari berikutnya aku terus memburu pertanyaan-pertanyaan, tidak ada jawaban. Hari berikutnya aku bertanya ada perkembangan apa, Alfat bilang tidak ada. Baiklah aku memutuskan untuk berhenti meminta Alfat mencari tahu, biarkan saja ini terus menjadi rahasia. Entah mengapa hari-hariku diisi oleh Alfat. Dia begitu menyenangkan, dan romantic. Romantic sekali manurutku. Aku melihat Alfat sekadar melalui social media, hanya itu. Hari demi hari dia memberikan perhatian yang membuatku semakin nyaman saja. Suatu hari, dia memutuskan untuk menjemputku di sekolah—dia mengajakku bertemu.
Itu pertemuan pertamaku dengan Alfat. Alfat memintaku menjadi kekasihnya, kalian boleh percaya boleh tidak. Katanya falling in love at the first sight. Aku pun tidak percaya dengan hal itu, ahh mungkin hanya emosi saja. Tapi untuk kali ini, tidak. Alfat benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia memperlihatkan kasih sayang, perhatian, dan seperti kaum muda lainnya yang tengah jatuh cinta.
Sejenak aku merenung di malam yang sunyi. Apa yang aku lakukan? Mengapa aku menerima cinta Alfat, bukankah awalnya aku ingin mencari tahu alasan Brian memutuskan aku, dan kini aku berpacaran dnegan Alfat, sahabat baik Brian. Ya Allah apa yang telah aku lakukan. Aku mencoba berbicara dengan Alfat, bagaimana solusi dari masalah yang tengah kita hadapi. Mulai saat itu, Alfat yang dulu selalu manis denganku kini menjadi mudah marah, emosional, dan kasar sekali terhadapku. Apa yang membuatmu seperti ini, wahai kekasihku yang dulu selalu manis dan romantic?
Ternyata masalah yang datang dalam hubunganku dengan Alfat tak cukup sampai di situ. Orangtua dan kakakku tidak menyukai Alfat, mereka tidak menyetujui hubungannku dengannya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku mencoba berbicara pada Alfat, tapi itu justru tidak menyelesaikan persoalan malah menambah rumit. Alfat selalu marah-marah dan tidak bisa menerima ini semua. Dia seakan-akan ingin membunuh kakakku yang menghalangi hubunganku dengannya. Hari demi hariku bersama Alfat semakin sulit. Kita mencoba bertahan satu sama lain, tetapi seolah-olah tembok pemisah antara kita semakin menjulang tinggi. Alfat semakin tidak bisa menerima, dan selalu emosi, setiap malam aku dibuatnya menangis. Tidak ada malam tanpa air mata setelah masalah yang kita hadapi terus datang. Sebelumnya Alfat juga bercerita kepadaku bahwa Brian tidak sedekat seperti dulu, itu penyebabnya adalah hubunganku dengan Alfat. Itu semua karena aku. Aku membuat dua sahabat menjadi renggang, bermusuhan. Akhirnya September 2011, terhitung empat bulan hubunganku dengan Alfat, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Alfat sebelumnya tidak bisa menerima itu, tapi aku ngotot aku berkata “Ini terbaik untuk kamu bie, untuk hun juga. Hun ingin bie kembali damai dengan Brian, dan Hun tidak mau membuat bie emosi setiap hari. Hun yakin ini terbaik untuk kita bie.” Itu kata terakhir ketika kau dan Alfat putus. Hun adalah panggilan sayang yang diberikan Alfat untukku, dan Bie adalah panggilanku untuk Alfat. Hun artinya bodoh, Bie artinya tolol. Kata itu Alfat dapat dari temannya. Memang konyol kedengarannya, tapi manis, sungguh manis sekali. Alfat juga pernah membuat tattoo temporary di jari tangannya yang bertuliskan namaku “HSTY”.
Setelah hubunganku dengan Alfat berakhir, aku mendengar dari temanku bahwa Alfat dan Brian telah kembali baik seperti dahulu. Syukurlah.
Alfat dan aku masih menjaga hubungan baik. Bahkan kita pernah beberapa kali memutuskan untuk bertemu. Aku pernah melihat jari tangannya yang di tattoo dengan tulisan “FOOL” yang memiliki arti bodoh. Itu artinya itu… aku juga kini memiliki hubungan yang baik dengan Brian, aku beberapa kali membuat janji dengan Brian. Pada suatu ketika aku bertemu dengan Brian, dia mengatakan alasan mengapa dulu dia memutuskan mengakhiri hubunganku dengannya, karena dia tidak ingin aku melihat Brian yang sedang memiliki masalah dengan Fery—mantan kekasihku sebelum bersama Brian. Kata Brian dirinya ditantang Fery menyelesaikan urusan dengan cara jantan. Aku tidak menahu akan hal itu. Sampai hampir setahun kau akhirnya tahu, dari mulut Brian sendiri.
Itu cerita tentangmu, yang selalu menjadi kawanku untuk mengingat kembali kenangan yang pernah kita lewati berdua. Indah bukan, manis bukan, romantic bukan ketika kamu menyayangiku tanpa hambatan dan masalah yang menimpa kita. Ini hanya sekadar menulis ulang apa yang sudah aku dan Alfat pernah lalui, tidak ada maksud apa pun. Aku seolah menjadi talent sekaligus sutradara dalam cerita ini.
           




You may also like

4 komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.