Ketulusan Demi Perubahan

/
0 Comments


“Nadia, sudah mengerjakan tugas History of English Literature belum?”
            Itu sedikit ucapan dari Aini teman karibku yang telah menyambutku di kampus. Namaku Nadia Khairunnisa, 18 tahun, mahasiswi jurusan sastra inggris di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Ini semester kedua memasuki bangku perkuliahan dengan jurusan yang aku minati. Aku satu-satunya gadis di kampungku yang merantau demi pendidikan. Di desaku anak perempuan seusiaku tidak diizinkan orangtua mereka untuk merantau jauh—apalagi untuk hal pendidikan. Di desaku anak perempuan yang duduk di bangku sekolah menengah atas telah jarang di temui, kebanyakan dari mereka hanya berhenti di bangku SMP atau bahkan SD, tidak sedikit pula orangtua yang tidak menyekolahkan anak perempuannya. Orangtua yang sedikit pengetahuan tentang pendidikan, memilih menikahkan anak gadisnya kepada laki-laki kaya di desa. Tapi, aku tidak ingin bernasib seperti mereka. Aku ingin mengubah desa tempat kelahiranku 18 tahun yang lalu, Kampung  Tengah, Tanjung Uban.
            Minggu demi minggu perkuliahan semakin padat, aku disibukkan dengan berbagai tugas. Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan terhitung satu minggu dari sekarang. Disamping harus mengerjakan berbagai tugas dari dosen, aku juga harus mempersiapkan untuk ujianku pekan depan. Pun teman-temanku juga tengah mempersiapkan untuk ujian mereka. Meskipun tak sedikit dari mereka yang hanya berongkang-ongkang kaki untuk menghadapi ujian. Riski teman sekelasku salah satunya. Dia asli Yogyakarta, pantas saja dia tidak begitu memikirkan nilai ujiannya dan menganggap enteng arti pendidikan. Tidak seperti aku yang jauh-jauh harus menyeberang pulau demi mendapatkan pendidikan terbaik. Jadi, aku tidak ingin hanya sekadar lulus dari kampus ini dan mendapatkan gelar sarjana begitu saja. Aku ingin mendapatkan berbagai pengalaman diperkuliahan. Disamping kuliah, aku juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus demi menunjang jurusanku.
Cita-citaku yang paling utama ialah membuat orangtua bahagia, dan yang kedua ialah mengubah desaku. Lulus cepat, terbaik, dan mendapatkan banyak pengalaman adalah impian setiap mahasiswa. Namun, semua itu tidak bisa sekadar di tulis di kertas berwarna-warni kemudian di tempel di dinding kamar begitu saja. Buktikan. Aku ingin melakukannya, demi orangtuku, dan demi desaku. Tidak mudah bagiku membagi waktu antara perkuliahan di kelas dan organisasi di luar kelas. Tetapi setiap aku merasakan kurang adanya semangat dalam diriku, aku selalu mengingat tujuan utamaku merantau jauh di sini. Aku tidak ingin setiap kali pulang ke kampung halaman tidak ada yang dapat aku berikan untuk desaku. Meskipun hanya hal kecil, aku harus dapat membagikan apa yang aku peroleh di kampus saat ini.
Hari ujian semakin dekat. Aku belajar lebih giat dan hampir setiap hari menghabiskan waktu di perpustakaan bersama teman-temanku. Perpustakaan adalah tempat kedua setelah masjid yang paling aku sukai. Di perpustakaan aku mendapatkan berbagai ilmu, baik itu berkaitan dengan jurusan maupun pengetahuan umum. Lantai empat adalah tempat favoritku karena di lantai itu terdapat buku-buku yang paling sering aku cari. Rak 800 tertuliskan “KESUSASTERAAN” dimana terdapat buku-buku mengenai sastra. Hampir setiap hari aku dan teman-temanku mengunjungi perpustakaan disela-sela jam kuliah. Aku tidak ingin membuang waktu mudaku hanya untuk hal yang tidak bermanfaat. Sedapat mungkin aku akan menggunakan waktuku untuk hal-hal positif bagi diri sendiri maupun oranglain.
Tidak terasa hari ini ujian akan segera dimulai. Ujian akhir semester akan berlangsung selama lima hari. Sehingga, aku akan terfokus pada ujianku kali ini. Teman satu kamarku yang mengambil jurusan pendidikan guru juga tak kalah sibuknya mempersiapkan ujiannya.
Hari demi hari, ujian berlangsung. Alhamdulillah segalanya lancar. Jum’at ialah hari terakhir ujian. Jadwal untuk hari ini Reading 2, Writing 2, dan bahasa Indonesia. Aku berharap ujian pamungkasku hari ini lancar seperti kemarin.
Setelah ujian selesai, aku dan teman-teman satu kelas berkumpul di taman fakultas untuk bercerita tentang rencana liburan semester masing-masing. Teman satu kelasku yang berasal dari Jogja hanya lima orang. Selebihnya mereka anak rantau—sepertiku—bedanya mereka tidak sejauh aku yang harus berjam-jam sit di pesawat.
“Kamu mau mudik kapan Nad?” tanya Aini.
“Hari selasa, kamu mau ke Banten kapan Ai?”
“Aku besok Nad, nanti mau langsung packing,”
“Yaah kita gak bisa keliling Jogja dulu dong? Aku pasti merindukanmu Ai,” sahutku sambil memeluk sahabat karibku ini.
“Me too say,” jawab Aini dengan manja—seperti dengan kekasihnya saja.
“Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh khas Banten ya, awas kalau aku gak dibawain,” ancamku sambil melepas pelukan Aini.
“Siap boss. Kamu juga dong, masa cuma aku!” jawab Aini dengan nada ketus.
“Hahaha… iya, besok aku bawakan foto-foto di desaku, biar kamu ada gambaran Tanjung Uban itu seperti apa, dan desaku itu memang ada di peta tidak seperti anggapanmu selama ini.” jawabku sambil bersungut-sungut.
Aku, Nadia dan teman-teman yang lain bercengkrama selama kurang lebih satu jam kemudian kita memutuskan untuk ke masjid melaksanakan sholat ashar. Sore itu pertemuan terakhir bersama teman-temanku sebelum mereka pulang di kampung masing-masing. Kebersamaan yang telah terjalin selama kurang lebih satu tahun bersama kelas sastra inggris-B tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Mereka luar bisaa, mereka teman-teman yang luar biasa.
Waktu berlalu begitu cepat. Dan teman-temanku mulai berpamitan untuk mudik ke kampung halaman mereka masing-masing. Teman satu kamar pun begitu, Zahra. Dia gadis asli Jombang—kota santri. Penghuni semakin sepi. Aku mulai mengepack barang-barang yang akan aku bawa pulang. Tidak lupa aku membeli sedikit oleh-oleh seperti batik asli Jogja untuk ayah dan ibuku di kampung. Uang untuk membeli oleh-oleh itu aku dapat dari hasil menabungku selama ini. Tidak lupa aku membeli souvenir-souvenir untuk anak-anak tetanggaku. Meskipun nilainya tak seberapa namun niatku baik ingin menyenangkan hati mereka.
Hari keberangkatanku pun tiba. Jadwal depart on pukul tiga sore. Aku meninggalkan kamar kost pukul satu kemudian menuju halte Trans Jogja. Perjalanan menggunakan bus Trans Jogja dari halte dekat kampus menuju bandara Adi Sutjipto kurang lebih 40 menit. Sesampainya di bandara, pesawat ternyata delay selama 45 menit. Aku bergegas menuju masjid di bandara untuk melaksanakan sholat ashar. Tepat pukul 15.45—selesai check in—pesawat take off. Tidak lupa aku ucapkan Bismillahirrohmanirrohim untuk mengawali perjalanan menuju desaku yang selama ini aku rindui.
Pukul 18.12 aku sampai di bandara. Aku melaksanakan sholat maghrib di masjid, kemudian menstop taksi untuk mengantarku ke rumah. Desaku telah banyak berubah, itu kesan pertamaku memasuki desa tempat lahirku 18 tahun silam. Jalan yang dahulunya berbatu putih, kini telah berwarna hitam legam oleh aspal. Sesampainya di rumahku aku mengetuk pintu yang terbuat dari kayu yang telah sekian lama tidak diganti.
Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara wanita paruh baya—yang sangat aku kenali—menjawab salamku dari dapur. Tak lama, kemudian pintu terbuka.
“Nadia, putriku!” seru wanita peruh baya ini—yang tak lain adalah ibuku. Beliau langsung memelukku erat sebelum sempat aku mencium tangannya, beliau melanjutkan perkataannya,
“Kamu pulang kok tidak bilang pada Ibu atau Ayahmu. Kalau tahu kamu pulang ibu bisa masak makanan kesukaanmu.”
“Ibu, maafkan Nadia ya. Nadia tidak mau membuat Ibu dan Ayah repot.”
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, suara ayahku manyahuti.
“Ada apa Bu, malam-malam kok ribut. Ada siapa?” suara ayah yang terdengar keluar dari kamar mandi.
“Ini lo Yah, Nadia pulang. Sini cepat. Lihat putrimu sekarang cantik seperti ibunya dahulu.”
“Nadia? Ibu jangan bergurau.”
“Cepat kesini.”
Kalimat ayah dan ibu bersahut-sahutan antara ruang tamu dan kamar mandi. Sementara aku masih berdiri menunduk mencium tangan Ibu.
“Nadia!” seru Ayah dengan suara beratnya.
“Ayah. Assalamu’alaikum.” jawabku kepada sosok ini lalu meraih tangannya untuk kucium.
Wa’alaikumsalam nak, kamu berbeda sekali dengan dahulu. Kamu gadis yang sangat cantik dengan balutan jilbabmu ini.”
“Terimakasih Yah. Ini semua juga berkat Ayah dan Ibu tentunya.”
“Ayah bangga padamu nak. Kesini duduk. Ibu ini bagaimana anaknya pulang tapi tidak disuruh duduk,” ucap ayah kepada Ibu dengan nada agak kesal.
“Ibu saking senangnya Yah, tidak sempat mempersilakan Nadia duduk.”
Aku dan kedua orangtuaku duduk di kursi sambil aku menceritakan perihal kuliahku di Jogja, kegiatanku, kamar kostku, orang-orang Jogja yang terkenal ramah, masakannya, dan lain-lain.
Libur semester dengan pulang kampung ini aku manfaatkan sebaik mungkin. Aku membuka perpustakaan kecil di rumahku yang sederhana. Anak-anak di sekitar rumahku berbondong-bondong datang untuk sekadar melihat-lihat buku cerita yang telah aku bawa dari Jogja maupun membacanya. Di rumahku yang sederhana, aku uga memberikan semacam kursus bahasa Inggris kepada anak-anak yang mengunjungi perpustakaan miniku—tentu saja tidak aku pungut biaya—aku melakukannya ikhlas.
Tak terasa ini minggu terakhir aku liburan bersama anak-anak di desaku.
“Kak, besok kak Nadia sudah kembali ke Jogja lagi ya?” tanya seorang anak kecil berumur tujuh tahun.
“Iya Sita, memangnya ada apa?”
“Yah. Lalu yang mengajari kita bahasa Inggris siapa?” ucapnya dengan nada sedih.
“Tenang saja. Ada Kak Lina, dia akan kakak suruh mengajari kalian di sini. Pasti dia tidak keberatan,” jawabku mencoba menenangkan hatinya.
Tidak cukup penjelasanku, anak ini membrondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan lain, “Tapi Kak Lina jauh, apa mau dia jauh-jauh kesini? Kak Lina juga harus sekolah? Bagaimana kita belajar bahasa Inggris seperti yang diajarkan Kak Nadia?”
“Sita sayang, pertanyaanmu sudah seperti orang dewasa saja,” jawabku sambil membelai rambut si bocah “Kak Nadia akan bicara dengan Kak Lina, dia pasti bisa membantu kita. Oke? Jangan khawatir.”
“Oke deh, aku percaya sama Kakak.”
Dua hari setelah kejadian Sita yang takut kehilanganku karena tidak akan ada yang mengajari anak-anak bahasa Inggris lagi, aku akan segera kembali ke Jogja.
Aku berpamitan dengan tetangga-tetanggaku dan anak-anak kecil yang sedari subuh telah memenuhi rumahku. Aku tidak habis pikir pada anak-anak ini.
“Kak, kita punya ini untuk Kak Nadia,” kata Sita mewakili teman-temannya sambil menyodorkan kotak kecil yang dibalut dengan kertas pembungkus kado.
“Ini apa sayang?” jawabku.
“Bukanya nanti kalau di Jogja Kak, ini kita buat bersama-sama. Maaf kalau jelek ya Kak?”
Kemudian mereka satu per satu memelukku.
Dengan nada terbata-bata aku berusaha mengeluarkan kata-kata, “Terimakasih ya sayang, kalian anak-anak yang baik. Kak Nadia pasti merindukan kalian.”
Tak terasa air mataku jatuh melihat anak-anak ini yang semakin erat memelukku, beberapa anak perempuan dari mereka menangis tersedu-sedu—Sita salah satu dari mereka.
Ayah dan Ibuku mengantarku ke depan rumah dan beberapa tetangga juga turut melepas kepergianku untuk kembali ke Yogyakarta. Desa ini akan aku ubah menjadi sesuatu bukan tidak mungkin aku seorang anak desa terpencil mampu membawa nama desaku. Aku akan buktikan. Suatu hari nanti. Desa ini membutuhkanku lebih untuk masa depan. Rasanya berat meninggalkan Ayah Ibu yang raut wajahnya sedih namun terlihat bangga, karena tetangga-tetangga memberikan sumbang kasih padaku.
“Ayah Ibu, Nadia berangkat dulu ya. Angkotnya sudah menunggu,” kataku pelan
“Iya nak, Ayah dan Ibu hanya bisa mendo’akan dari jauh. Semoga kamu disana sehat dan sukses untuk semester ini ya. Tetangga-tetangga juga pasti turut mendo’akanmu.”
“Terimakasih Yah, Nadia akan menjadi kebanggaan kalian dan tentunya desa ini. Nadia akan mengubah desa ini lebih baik dan maju lagi. Nadia pamit Yah, Bu Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumsalam.”
Sambil aku melambaikan tangan dari angkot yang aku tumpangi menuju bandara, tetangga-tetangga yang sedari tadi berkumpul di depan rumah sederhanaku berseru-seru, “Hati-hati Nadia, semoga kuliah kamu sukses dan membawa nama desa kami.”
Aku meneguhkan niat untuk menjadi orang yang berguna. Aku akan menjalani kuliahku lebih baik lagi dan aku yakin aku pasti bisa.






             


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.