Ingatan itu kembali menyergapku.

/
0 Comments

Ketika aku tidak sengaja melihatmu berlalu di depan teras rumahku. Tampaknya kau sedang gelisah. Aku semakin bertanya-tanya dan aku beranikan diri ini untuk menegurmu lebih dulu.
Aku dan kamu sudah duduk di meja—yang dahulu sering kita berdua ngobrol saat kau mengunjungiku disabtu malam.
            “Sedang ada masalah apa Langit? Kelihatannya kamu gelisah begitu.”
            “Ahh...tidak ada apa-apa kok Senja. Sedang banyak tugas kampus aja. Btw kamu apa kabar sekarang? Aku gak sengaja lewat di depan rumahmu, tadinya aku mau ke rumah temanku.”
            “Oh...aku baik, kamu gimana? Wahh, jadi aku mengganggu waktumu ya?
            “Aku juga baik senja. Tidak, sungguh. Mungkin memang aku merindukan duduk di kursi ini juga.”
            Mata itu kemudian bertabrakan seperti meteor yang saling melesat bersama tanpa kendali. Mereka tersenyum.
♪♪♪
3 tahun yang lalu.
            Tepat di kursi yang kini mereka berdua duduki.
            “Senja, aku ingin teras rumahmu ini menjadi saksi betapa seriusnya cintaku kepadamu.” Langit menggenggam jemari Senja.
            “Langit, aku sangat mencintaimu. Aku harap cintaku ini bukan sekadar kamu jadikan kata indah semata. Namun mampu membuat kita bertahan.”

♪♪♪
            Tiba-tiba ringtone di hp Senja berbunyi. Sum 41-with me.
            Senja buru-buru mengangkatnya dan menjauh dari Lngit setelah melihat nama di led hpnya ‘Reno’.
            Langit masih memperhatikan teras rumah Senja. Ia lalu teringat dengan tanaman kaktus import di pojok timur itu. Langit mendekat dan memperhatikan dengan teliti. Ia teringat, tentang tanaman itu.
            “Langit, kamu ngapain di situ? maaf aku ke sana sebentar tadi Reno telfon.”
            “Eh…anu…maaf Senja aku lancing sampai di sini. Aku melihat kaktus ini. Kamu masih merawatnya? Luar biasa semakin indah, meskipun hanya segelintir manusia yng menyukai tumbuhan yang hidup di gurun pasir ini. Dan orang-orang istimewa seperti kamulah yang masih mendapat keistimewaan merawat kaktus ini.”
♪♪♪
            “Senja, lihat aku membawa apa?”
            “Apa Langit. Cepat buka ikat mataku, aku sudah gak sabar.”
            “Coba tebak dong.”
            “Apa ya… makanan? Boneka? Pena? Tas? Ahhh aku nyerah Langit.”
            “Hahaha kamu lucu ya Senja kalau penasaran dan sifat tidak sabrmu itu muncul.”
            “Kenapa malah ngledek sih.”
            “Iya princess aku buka ikat matanya. Tapi janji satu hal dulu sama aku; kalau kamu akan merawat pemberianku ini sampai kapan pun waktu yang tak terbatas? Janji.”
            “Iya Langit, Senja janji akan merawat pemberin Langit.”
Ikat mata Senja terbuka lantas ia mengucek-ucek matanya.
            “Kaktus… Langit terima kasih banyak, kamu memang selalu tahu apa yang aku minta.” Senja lalu memeluk Langit erat.
♪♪♪

            “Kamu berlebihan Langit. Memang dari dulu aku menyukai kaktus. Lihatlah koleksiku yang lain.”
            “Aku tahu Senja. Maaf mungkin aku memang berlebihan. Maaf kalau lancang, kalau boleh Tanya, Reno itu—“
            “Dia pacarku, lebih tepatnya, dia tunanganku.”
            Langit terhentak dan terkejut mendengar jawaban Senja, “Ohh…sselamat ya Senja. Jangan lupa weeding invitationnya untukku ya. Aku tunggu dan aku pasti dating untuk pernikahan kalian nantinya.”
            “Thanks Langit. Do’akan kami berdua ya. Aku dan Reno sedang melanjutkan perusahaan orangtuanya. Aku belum cukup berpengalaman, tapi orangtua Reno sudah mempercayakan banyak hal padaku. Padahal lebih berpengalaman Reno tentu saja.”
            “Semoga kalian sukses ya Senja. Oh iya aku boleh tanya hal lain?”
            “Tentu saja Langit.”
            “Kenapa ringtone kamu lagu itu Senja? Aku boleh tahu alasanmu?”
            “Langit, itu kan lagu yang sifatnya universal, jadi terserah siapa pun yang mau memakainya. Aku dan Reno kebetulan suka sekali dengan lagu itu.”
            Langit tidak terima dengan alasan senja, tapi ia hanya mampu menyimpan dalam hatinya. Bukan itu Senja, bukan itu alasanmu. Pasti. Aku tahu Senja, itu lagu terlebih dahulu aku yang mengenalkan kepadamu. Jadi tidak mungkin Reno si tunanganmu ini menyukai lagu cengeng. Dia seorang exmud yang tak  ada waktu untuk lagu-lagu cengeng seperti lagu kita ini.
            “Hey Langit, kenapa kamu bengong? Kembali ke kursi yuk.”
            “Eh…iya Senja.”
♪♪♪

            Lagu cinta mereka berdua. Sum 41 – With Me. Lagu yang unik, romantic, dan memiliki makna mendalam bagi sepasang sejoli ini. Lagu dengan judul With Me jika dalam bahasa Indonesia berarti ‘denganku’, tetapi di dalam setiap liriknya tak dapat dijumpai kata with me. Mengapa begitu? Karena bersama bukan berarti harus berdua dan dalam situasi dan tempat yang sama. Namun bersama adalah ketika mereka sedang berjauhan, tetapi mereka seperti berada di situasi dan tempat yang sama, menggenggam tangan, menguatkan satu sama lain. Itu semua bisa dilakukan dengan cara do’a.
            Berdo’a dan memintalah kepada Tuhanmu, apapun itu, karena Tuhanmu pasti mendengarnya. Mereka mendo’akan satu sama lain, dan tidak putus-putusnya menyatukan satu harapan. Cupid menari-nari diatas kepala mereka dengan bahagianya.
♪♪♪



You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.