Ku Sebut Itu Belati

/
16 Comments
Merindumu pernah sesejuk dan semenawan embun yang merajuk
Merindumu pernah selugu wajah tenang terbalut air wudhu
Merindumu pernah sedamai kicauan burung fajar dini hari
Dulu merindumu semenarik dan semenyenangkan itu
Tapi itu dulu kasih
Kini, merindumu sepahit dan sehitam pitam
Merindumu kini begitu menyesakkan
Hingga aku tak tahu ini rindu ataukah iblis merasuk di hati dan pembuluh


You may also like

16 komentar:

  1. then...let's kick the devil from our artery to make the purer love, XD

    BalasHapus
  2. Eewww
    Purer love? What kind of 'purer' ? Ahh relatif kan

    BalasHapus
  3. nah nah, relatif ki subyektif, nek subyektif berarti kan gak perlu tanya ke orang lain, hahaha

    BalasHapus
  4. Ya sudah kalo seperti itu. Tamat sudah
    Apa-apa saja dibuat relatif lqlu bubarkan saja bumi ini

    BalasHapus
  5. siap komandan, bubar jalan, hahahaha

    BalasHapus
  6. *kemudian transmigrasi ke planet venus*

    BalasHapus
  7. kata film prometheus memang nenek moyang kita berasal dari planet di luar sono...

    BalasHapus
  8. Bagaimana kmu bisa tahu? Atau jangan jangan kamu dan nnek moyang satu generasi? :v

    BalasHapus
  9. dulu aku tinggal di planet pluto, kemudian migrasi ke bumi nyari dewi senja, hahahaha

    BalasHapus
  10. Kenapa gak langung ke venus? Bukankah bumi tempat banyak orang munafik bersemayam? Hahaha

    BalasHapus
  11. venus itu tempat tinggal perempuan, aku harus pake rok kalau mau ke sana...hahaha

    BalasHapus
  12. apa menariknya menjadi pangeran tanpa saingan?

    BalasHapus

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.