Senandika ruang gelap

/
26 Comments
Gelap dan kosong, nampak siluetmu di sudut kamar; ruang favorit ketika kita membunuh waktu.

Sepucuk mawar merah layu terlihat erat kau genggam, lalu, satu dua tapak kau dekatiku.

Aku mematung, membiarkanmu melucuti helai per helai kain putih yang melilit tubuhku.

Kau cium pipiku lalu ku sunggingkan senyum termanis untukmu.
Lalu kau tancapkan duri kering di tubuhku sebab aku hanya mematung dan membiarkanmu, melakukan ‘hal yang kau sukai’.

Aku tetap mematung, hingga kain itu terlukis merah matahari,
seperti harapmu.

Seketika kau tertawa.
Menertawai merah segar, yang pernah kau bilang bahwa itu warna kesayanganmu.

Saat itu juga kau menangis, melihat tubuhku terkulai lemas di kakimu.

Hanya kosong, gelap, dan raungan sudut-sudut kamar ini.
Kau membunuhku dengan kesenanganmu.





You may also like

26 komentar:

  1. Bagus ki puisine, gak 100 %, tapi dapet nilai A- deh, :-D
    Aku lama tak dengar kata "senandika", arkaik banget, :-)

    BalasHapus
  2. Haha thank you yesss...
    Eh tunggu aku kok malming aja bkin puisinya. Yatuhan...

    BalasHapus
  3. Iya sih, knp harus pas malming? Dewi, dewi, :-)

    BalasHapus
  4. Gadis mungil yang asyik di pojok kamar,
    Menulis sajak seharga memar
    Yang tersisa. Malam jatuh tanpa suara,
    Hening, sebermula adalah kata,

    Maka menyala unggun sajak, membawa hangat
    Keringkan luka. Memar tiada,
    Esok pagi akan selalu ada siang
    Mengantarkan senja...

    BalasHapus
  5. haha itu balasan dari tulisanku?
    two thumbs nim ~

    BalasHapus
  6. Iya, hes, buat pengantar tidur juga, hohoho

    BalasHapus
  7. Karena kopi dan sepotong kue masih membuat mata ini melek hehe

    BalasHapus
  8. Akan makin lengkap jika ditambahi segerobak cerpen seno....

    BalasHapus
  9. Ceritakanlah padaku tentang cinta, pintaku pada juru kisah, maka dia bercerita tentang alina:
    Pada suatu masa yang tak tercatat dalam almanak, rembulan menyinari wajah seorang gadis. Manis ia, senyum selalu ia persembahkan untuk rembulan, meski rembulan pada masa itu tak bisa membalasnya. Kemudian....
    #ini gaya khas seno, :-D

    BalasHapus
  10. Wusshhh wusshh... Alina Alina. Beruntungnya dia menjadi tokoh kawakan seorang Seno yaa

    BalasHapus
  11. Setiap sastrawan sll punya figur gadis yang jadi tokoh kesukaan mrk dlm karya mrk: chairil anwar punya ida, seno punya alina, jenar punya nayla, ayu utami punya manjali, aku dulu juga punya tokoh semacam itu dlm cerita2ku. Ada yg bilang figur itu jd gambran tokoh yang dicintai pengarang atau tokoh yg menjadi contoh ideal yg diinginkan pengarang, :-)

    BalasHapus
  12. Tokoh favorit mereka ini sekadar nma atau emang punya karakter yg sma di setiap cerita2nya?

    BalasHapus
  13. Biasanya sih sama, si ida itu dlm bayangan chairil ya cewek yg bisa diajak ngbrol soal sastra, bermata kucing ky dian sastro, suka pakai topi kayak lady diana, alinanya seno misalnya menurutku cewek yg gak banyak protes, manjalinya ayu utami tipe cewe metro, kdg manja kdg cemberut, pergaulan bebas, naylanya jenar, cewek yg punya trauma masa kecil soal cowok, kmd gak percaya lg pada cowok manapun, tp dy tetap seringkali menyerah pada takdir, :-) pada crita berbeda biasanya karakternya tetap identik

    BalasHapus
  14. Kereennn...anonim hafal semuanya :))

    BalasHapus
  15. Karena setiap penulis pasti memulai sejarah menulisnya dg membaca berbagai karya dan kemudian meniru salah satu yg paling dia kagumi, ;-) setiap penulis berhutang pada generasi penulis sebelumnya, maka jangan sampai lupakan muhtar lubis, chairil anwar, pramoedya, indonesia o galileno hanya karena mreka sudah berkalang tanah. Jika kita hanya membaca tere liye hanya krn kita sezaman dg dy ya itu namanya menghina para sastrawan dahulu. Krn ituah ada 3 aspek yg musti dipelajari org sastra: teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, :-D

    BalasHapus
  16. 'setiap penulis berhutang dg penulis sebelumnya' emmm kayak pernah denger dimana gtu. Lupa haha
    Iya nim, kamu mah nyastra bgt. Aku mantan penggemar tere liye doang

    BalasHapus
  17. Ehm, nah itu yg kumaksud clue utk tahu identitasku, tp kayaknya aku punya perasaan identitasku sudah terbongkar, hahaha, sudahlah, tunggu momen ae, jgn dl disebutkan, :-p
    Eh, karyane hesti menurutku lumayan, bukan level anak2 flp, :-D

    BalasHapus
  18. Haha perasaan jgn dijadikan dalil. Yaya satu per stu clue bermunculan loh :v
    'level flp' ?

    BalasHapus
  19. Manuuut deh, si bungsu, :-D
    Anak2 forum lingkar pena kan berkarya di bawah kekangan bahwa sastra harus utk tujuan dakwah, maka karya mereka cenderung garing dr estetika soalnya mrk cenderung fokus menyajikan pesan daripada mengolah form, :-)

    BalasHapus
  20. Gatau kenapa aku suka bkin puisi yg baris pertama dlm sjak nanti sama gtu. Iya gak? Gtu gak mnurutmu nim?

    BalasHapus
  21. Maksudmu rima akhir yg sama di baris pertama kan? Itu aliran puisiku, puisi jadul, aku kurg suka puisi tanpa rima, kalaupun tdk di akhir baris ya di tengah baris, aliterasi misalnya. Bagus itu, :-)

    BalasHapus
  22. Iya itu maksudku pkoknya hehe
    Aku juga suka yg berima. Kalo enggak itu sensenya kurang

    BalasHapus
  23. Berarti kamu aliran tradisionalis, krn puisi modern gak trll peduli rima, hahaha. Aku percaya puisi pada awalnya adalah bunyi, bukan makna, kalau puisi tanpa rima, itu mah sama saja dg prosa atuh, XD

    BalasHapus
  24. Yap. Puisi itu untuk di dengar. Setuju niimm :)

    BalasHapus

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.