Jogja - Bekasi

/
0 Comments
Suasana nampak asing ketika aku tapakkan kaki di kota ini. Kota industri; Bekasi. Begitu takjub ketika pemandangan gedung pencakar nan megah tertangkap ekor mataku. Memang ini bukan kali pertama. Musim lalu aku pun bersua dengan kota ini. Ah tentu saja nampak berbeda. Berubah. Baik kota ini dan begitu pun aku.
Bicara soal berubah, masih lekat dalam ingatan ketika aku dan seseorang di masa lalu membuat janji pertemuan di sini, di kota ini. Tentu saja sulit lupa. Betapa tidak, musim yang sama berkunjung di tempat yang sama meski di tahun yang berbeda dengan aku yang berbeda pula. Ingin sungguh kuucapkan 'Hai Bekasi, aku kembali berkunjung dengan bukan aku yang terakhir.'
Kembali perihal kota ini. Pemandangan berbeda yang tidak ku dapati di kotaku, kota tercinta--Jogja-- ialah manusia berseragam aneka rupa dengan bet nama pabrik tempat mengais rezeki. Tentu ini sangat mengherankanku ketika jarang bahkan tak pernah aku melihat pemandangaan seperti ini di Jogja.
Nampak orang-orang sibuk. Pagi hari dengan muka masam terpampang karena: ku pikir mereka mati-matian bekerja demi keluarga--si bos. Menyakitkan kedengarannya. Tetapi sungguh, mata mereka berbicara seperti itu. Lalu sore harinya dengan badan terbungkuk--terkadang jalan lenggang kangkung--memasuki kamar-kamar kontrakan. Iya kontrakan. Tentu saja istilah kontrakan yang aku pakai di kota ini berbeda dengan di Jogja. Kontrakan di Bekasi berarti kamar sempit dengan petak dan sekat yang pengap. Iya memang seperti itu. Pemandangan senja di kontrakan yang menjemukan. Betapa tidak, lelah di pabrik lalu melihat kontrakan yang acak adul. Terlebih jika si empunya lelaki--bayangkan sendiri saja tak perlu ku jelaskan di sini.
Malam: kali ini waktu menghibur diri. Berkumpul dengan sesama buruh--aku tekankan bahwa ketika menggunakan kosa kata ini netral bukan maksud diskriminasi-- berbincang, tertawa dan banyak cara lain yang tidak bisa ku sebutkan satu per satu. Sebab sejatinya hiburan bagi buruh ialah dialog dan berjumpa dengan orang lain.
Aku tidak akan membahas kehidupan mereka terlalu jauh atau dalam karena aku sejatinya hanya melihat lalu menyimpulkan dengan pemahaman yang belum tentu kalian setuju. Terlebih saya pribadi takut melampui batas yang seharusnya ingin aku bagi.
Seperti yang sudah kalian baca di awal tadi perihal perbedaan Bekasi dan Jogja yang sungguh signifikan. Tentu saja orang yang pernah tinggal atau paling tidak berkunjung di kedua kota itu akan secara otomatis terlintas: berbeda. Sungguh pun demikian, inilah yang aku alami. Di Jogja pemandangan anak sekolah berseragam dan mahasiswa beralmamater adalah lumrah. Di jalan-jalan yang terlihat seragam dengan bet warna warni identitas sekolah. Sekolah negeri maupun swasta berdiri tak cakap hitungan jari. Pun perguruan tinggi negeri maupun swasta demikian.
Tulisan ini hanyalah berdasar observasi dan pemahaman ku menangkap situasi sekitar. Bukan untuk membanding-bandingkan dua kota yang sejatinya biner--berbeda namun saling melengkapi. Bukan pula untuk menjatuhkan atau mengagungkan salah satu kota di Indonesia ini. Sebab aku hanyalah blogger. Tentu saja kedua kota yang hakikatnya berbeda mempunyai daya tarik tersendiri. Bukankah keseragaman itu membosankan? Sungguh pun, aku beruntung diberi waktu merasakan perbedaan. Ketika perbedaan ada bukan untuk dijadikan perpecahan.
Selamat istirahat good people.


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.