Menjadi Indonesia

/
0 Comments
Perihal menjadi Indonesia, mungkin bukan hanya aku yang mempertanyakan dua kosakata. Bahkan mereka pejabat yang duduk di kursi empuk nan mewah. Sesungguhnya apa itu menjadi Indonesia? Pertanyaan menggelitik yang bisa jadi membuat kita murtad dari negara yang katanya serbaada ini.
Untuk aku pribadi, aku selalu menemukan banyak kekurangan dari nusantara ini lalu membandingkan betapa makmur negara-negara lain. Lalu kenapa aku harus terlahir sebagai Indonesian? Tidak. Bukan Indonesian, tetapi Indonesia yang menginginkan Indonesian. Hanya semacam utopia bagiku. Membicarakan nusantara tak akan cukup lembar blog ini. Jadi aku--lagi lagi--hanya menuangkan isi kepala dan hatiku. Tak banyak sanjungan malah bahkan yang akan kau temui umpatan-umpatan. Sila kau tak menerimanya. Aku bukan orang yang mencari ketenaran juga seberapa banyak jempol atau share-an yang ku dapat. Sekali lgi aku hanya menuangkan apa isi otak dan memang hobi saya menjajar aksara. Apa pun itu. Sila ketawa.
Kembali ke Indonesia, apa sejatinya nusantara ini untukku? Pertanyaan yang ringan tapi sulit. Aku selalu berusaha memberi atau bahkan setidaknya tidak merepotkan. Sebenarnya banyak yang tidak aku sukai bahkan ingin ku lawan dari apa yang telah menjadi kebijakan Indonesia.
Sila tengok anak-anak kecil yang tak bisa sekolah lalu masa kecil mereka terenggut. Mencari uang: ngamen, ngamplop (istilah mengemis dengan menyodorkan amplop di lampu merah). Di bawah bendera yang sama mereka yang berdompet tebal menyekolahkan anak setinggi mungkin. Tak sedikit yang bisa mengenyam pendidikan luar negeri yang tenth saja lebih unggul berribu-ribu lipat dibanding nusantara ini. Tetapi hanya segelintir yang mempunyai mata terbuka untuk  menengok ke luar kaca film mobil mewah mereka. Rela menghabiskan dua-tiga jam di jalanan karena-tentu saja macet yang mendarah daging ini. Menikmati musik jazz bagi golongan elit di fitur canggih mobil mereka. Namun untuk menjulurkan tangan ke luar lalu memberi receh saja tak sempat. Betapa egois manusia kita. Ironis memang. Tapi ya memang seperti ini.
Apa lagi perda di salah satu kota di nusantara yang memberlakukan bahwa barangsiapa memberikan uang di jalan untuk anjal akan dikenai pidana. Menyedihkan. Perda yang keliru. Kenapa? Oke silakan kalau pemda bersedia menyejahterakan mereka kalau tidal untuk apa perda dibuat? Untuk menghabiskan dana tahunan? Untuk pencitraan? Biar dilihat oleh dunia bahwa kota tersebut kota yang bersih dari anjal? Mustahil.
Ketimpangan sosial yang aku lihat selama ini sulit dihapus. Seberapa hebat petinggi negeri ini. Betapa tinggi pendidikan yang mereka tempuh. Tetapi, jika kesadaran untuk berbagi masih rendah, masih mau menjadi Indonesia yang Indonesian? Betapa pun buruk rupanya negeri ini, carpe diem (aku pinjam proverb dari bahasa Latin) atau seize the day atau raih harimu. Untuk anak-anakku di jalanan jangan murung, tetaplah berjuang demi makanmu di hari ini. Rain harimu. Tak usah kau risaukan carut marutnya merah putihmu. Kalian masih bernaung di bawah langit yang sama. Di situ Tuhan akan selalu menjaga kalian.


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.