Peran Femisme di penghujung Orde Baru hingga bermulanya Reformasi dalam novel Remy Sylado 'Hotel Pro Deo'

/
0 Comments
Setelah saya selesai membaca Hotel Pro Deo karya Remy Sylado, saya bukan ingin memberikan resensi hanya ingin berbagi sedikit cerita apa yang menurut saya harus saya tulis. Ya hanya sedikit. Ya hanya berbagi. Saya tidak menyebutnya resensi. Kiranya tidak layak untuk menyebut tulisan singkat saya nanti sebagai resensi.
Hotel Pro Deo, saya menyukai isu orde baru yang diangkat dari novel Remy Sylado ini. Sejujurnya saya baru pertama membaca buku Remy. Menurut saya cara menulisnya berbeda dengan beberapa novel yang pernah saya baca lalu-lalu. Saya menghargai sekali, karena setiap penulis memiliki karakter yang berbeda. Remy menggunakan deskripsi yang jelas dan mengikuti alurnya. Beliau memberikan pula gambaran dari kejadian yang akan terjadi. Jadi, sudah mengungkapkan apa yang bab selanjutnya bakal di bahas. Seperti itu.
Nah, mengenai novel Hotel Pro Deo ini menurut saya beliau mengangkat isu feminisme. Isu feminisme yang Remy angkat dalam novel ini begitu kental. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini terbukti ambil bagian--malahan sangat berperan dalam bergulirnya isu orde baru yang tengah pecah. Memang novel ini menceritakan fenomena penghujung orde baru hingga awalnya reformasi. Tragedi mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut lengsernya Bapak Pembangunan. Lalu disusul tragedi Mai 1998. Kedua fenomena ini begitu lekat dalam ingatan bagi mereka yang hidup di era tersebut. Sayang, ketika hal itu terjadi saya baru berumur tiga tahun.
Lalu, ada apa dengan fenomena tersebut? Apa signifikan dengan judul novel yang menggunakan Hotel Pro Deo yang konon merupakan tempat paling horror/ditakuti sejak zaman Belanda? Siapa sangka bahwa otak dibalik pembantaian Mai 1998 adalah oknum militer yang pada kala itu ABRI masih menjadi lakon yang ditakuti rakyat. Ternyata DB Darsana--dengan DB singkatan dari Doyan Banget vagina-- merupakan perpanjangan setan. Dia adalah tokoh antagonis dalam novel ini. Kejahatan-kejahatan mulai dari perselingkuhan hingga pembantaian adalah contoh dimana kekuasaan yang ia pegang sebagai Kombes begitu kuat. Sayangnya ia salah gunakan.
Kemudian Retno, atau lebih suka dipanggil Jeng Retno dengan gaya seronoknya menggunakan 7 macam wewangian untuk menarik pria merupakan rekan seks DB Darsana. Dia berselingkuh dengan Kombes tersebut tapi bukan sekadar memuaskan seks belaka. Juga, mereka bekerja dalam bersenang-senang dan bersenang-senang dalam bekerja. Mereka yang notabene nya merupakan partner seks ternyata memiliki rencana untuk menyingkirkan Iskandar (suami Jeng Retno yang lebih dulu masuk Hotel Pro Deo karena fitnah penggelapan uang) seingga Darsana bisa menguasai tanahnya di Jepara. Lalu, menyingkirkan pula Ibu Intan (istri Darsana yang tinggal di rumah kayu papan yang kaya raya dan hartanya takkan habis tujuh turunan). Mereka berdua memang partner yang picik, seperti kata Remy perpanjangan tangan Setan.
Ah ya kembali ke isu feminisme yang Remy angkat--menurut saya sih sebenarnya-- adalah dimana wanita-wanita hebat berperan dalam menuntaskan kejahaan yang dalangnya adalah kedua tokoh antagonis tadi (yang mana salah satu tokoh antagonis juga satu dari tokoh femisme dalam novel ini). Wanita hebat tersebut merupakan tokoh protagonis dalam novel ini. Mereka adalah Ibu Intan yang telah saya sebut tadi, Juminah yakni pengacara Ibu Intan, Tuminah: kembaran Juminah yang merupakan polisi wanita, dan Nia yaitu ipar Jeng Retno. Mereka adalah wanita yang mampu menumbangkan kejahatan DB dalam suatu pengadilan yang membuat DB tak berkutik ketika saksi-saksi yang dihadirkan menguatkan betapa keji kejahaan yang telah ia perbuat dalam kemanusiaan.
Sementara itu feminisme begitu terasa ketika Ketua Hakim dalam penanganan kasus DB ialah NY Neni Permadi. Nampaknya Remy memang ingin memunculkan betapa kuatnya wanita dalam penegakan kebenaran. Terbukti dalam pengadilan dan memutuskan hukuman penjara seumur hidup pada DB, Ketua Hakim bisa memutuskannya.
Hukuman yang DB lalui yakni berada di Hotel Pro Deo itu sendiri. Yang sekarang kita kenal dengan Lembaga Permasyarakatan Nusakambangan, tepatnya di pulau Nusakambangan daerah Cilacap, Jawa Tengah.
Lantas, saksi-saksi seperti KC, Bon Jovi, James Winata, dan Rachmat Wirjono merupakan figuran dalam novel ini yang mendukung bagaimana DB dijebloskan di Hotel Pro Deo. Mereka merupakan orang-orang yang menjadi korban sekaligus diperalat sekaligus melihat dan mengetahui kejahatan DB Darsana. Kemudian ada Marcel atau Marc yang merupakan anak Ibu Intan dari suami terdahulu seorang diplomat Perancis. Dan Mayang putri Jeng Retno yang merupakan kekasih Marc. Kedua tokoh ini juga akan teraentuh peri kejahatan yang DB lakukan.
Nah, kekuatan tokoh-tokoh yang saya sebut feminis tadi merupakan akar dalam diadilinya DB. Berkat kekuatan mereka hidup DB Darsana berakhir di Hotel Pro Deo. Sebenarnya, memang pada dasarnya apa yang kau tanam itu yang akan kau petik. Dan terbukti bahwa ketika DB melakukan kejahatan maka kejahatan itu dibalas dengan hal yang setimpal. DB berakhir di Hotel Pro Deo dibunuh oleh dua sipir bayaran Jeng Retno yang lebih dulu telah menghabisi nyawa Iskandar (suami Jeng Retno) atas suruhan DB sendiri.
Mungkin ketika kalian membaca novel tersebut akan menemukan hal yang berbeda dari perspektif yang berbeda. Mungkin kalian tidak menemukan isu feminisme , itu terserah dari pembaca. Hanya itu yang kurang-lebih saya dapat setelah membaca novel Remy Sylado ini. Selamat membaca karena kalian harus penasaran.


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.