Main hakim sendiri: budaya atau warisan?

/
0 Comments
Masih saja main hakim sendiri? Hmm... Ini stetmen yang kiranya banyak menyindir banyak telinga. Betapa tidak. Sikap seperti ini masih saja di sahkan dibanyak wilayah di nusantara. Terutama mereka yang memiliki tingkat emosional tinggi--mungkin tidak ini warisan rezim orde baru? Entahlah.
Tapi bagiku pribadi, sungguh menyayangkan sibuk-sibuk mengotori tangan dengan memukuli maling sebagai hal lumrah dalam tindakan main hakim sendiri di nusantara. Membiarkan kaki menendang-nendang si pelaku hingga babak belur. Padahal, sejatinya kita sendiri belum tahu apa latar belakang si pelaku berlaku tersebut.
Miris mendengar berita ini di tempat tinggalku. Yang katanya ramah tapi menjadi amarah, yang katanya ayem menjadi bandem (istilah menonjok dan melempar dalam bahasa Jawa menggunakan benda keras seperti batu). Lalu apa pihak yang main hakim sendiri tidk bisa menahan emosi? Atau mereka telah dibutakan dengan perbuatan buruk yang audah .emnuhi matanya bahwa itu salah? Seperti itu?
Coba dibicarakan baik-baik. Apa sebenarnya motif si pelaku berbuat tersebut. Sebab, kita tidak tahu hal terpuji apa dibalik kejahatan dalam kacamata kita. Coba kita telisik dahulu sebelum sibuk-sibuk memgotori badan dengan bau keringat yang menbuncah akibat memukuli dan menendang tubuh babak belur itu.
Namun, nampaknya untuk membumi hanguskan budaya main hakim sendiri dari nusantara ini sulit. Apalagi kalau bukan terwarisi oleh sejarah yang membenarkan. Terlebih mereka yang sok ikut-ikutan tokoh dunia menggunakan kekerasan demi perubahan. Sebutlah Lenin dan Stalin. Nampaknya petinggi negeri ini mengkopi sikap dan cara dua tokoh ini yang akhirnya dibenarkan oleh rakyat-rakyatnya.


You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.