Short but It Remains

/
0 Comments

Singkat tapi sungguh berbekas. Ya, mungkin itu frasa yang tepat untuk men-juduli tulisan saya kali ini. Pernah saya merasa hal-hal seperti ini dipenghujung tahun pembelajaran. Di masa putih-abu abu, saya merasakan kedekatan dan keseruan memilki guru seperti beliau pak Langgeng Ari Wirayudha.

Tahun-tahun kuliah saya selama kurang dari empat tahun, saya memilki dosen istimewa sekali. Saya sering memuji beliau dengan “the awesome lecture”. Ya, kejadian yang saya alami sewaktu masa putih abu-abu terjadi lagi. Saya merasa beruntung pernah menjadi mahasiswi beliau. Terlebih, saya dibawah bimbingan beliau selama proses skripsi. Beliau adalah Bapak Danial Hidayatullah. Saya tak henti-hentinya bersyukur memilki dosen luar biasa seperti beliau. Meskipun saya sadari, banyak kekurangan saya dan banyak perilaku saya yang membuat beliau jengkel. Tapi sepeti yang saya alami selama prosea skripsian, beliau dengan sabar membimbing hingga memberikan ACC pada skripsi untuk disidangkan di depan dua penguji lainnya.

Tahun-tahun terakhir perkuliahan adalah saat dimana perjuangan sendiri terasa sekali. Teman yang dari semester awal bersama, satu kelas, maen bareng, belajar bareng, merpus bareng dan sebagainya dan sebagainya. Dan ketika sampai di masa perkuliahan akhir, setiap mahasiswa akan ambil jalannya masing-masing. Jalan yang saya ambil ialah literature dari dua jalan lain yang ditawarkan jurusan Sastra Inggris di tempat saya menimba ilmu: linguistic dan translation.

Sastra adalah keputusan yang bulat setelah megalami kegalauan kurang lebih selama setahun. Dan akhirnya saya memutuskan untuk ambil teori sastra, kritik sastra dan segala macam makul yang berbau sastra. Saya tekuni itu semua agar saya tidak menyesal dikemudian hari. Karena, pikir saya, kalau saya tidak belajar sedini mungkin akan banyak kesulitan yang menghampiri saya di masa yang akan datang.
Baiklah lanjut ke topik awal saya menulis tulisan ini.

Singkatnya saya mendapat pemimbing beliau, dosen yang luar biasa yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Saya mulai menemui beliau untuk bimbingan ialah pada bulan Juni, sebelum saya menempuh KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama satu bulan. Sepualng dari KKN saya meminta PR bimbingan. Selepas itu, bulan September mulai intensif bimbingan skripsi. Dari bulan September hingga Januari adalah waktu dimana saya berjuang, lelah, dan menghadapi apa-apa berusaha se-dinging dan se-tenang mungkin. Bahkan untuk berpacaran atau menjalin hubungan dekat dengan lelaki pun saya urungkan. Karena saya percaya, hal kurang penting seperti itu hanya akan mengganggu proses saya menyusun skripsi, menyita waktu saya, membuang banyak energi dan pikiran saya. Karena, tanpa pacar pun saya masih sangat mampu menjalani keseharian saya dengan bahagia dan gelak tawa.

Maka, selama bulan-bulan itu saya fokuskan skripsian. Saya baca-baca berbagai macam buku referensi, jurnal, skripsi kakak tingkat, dan sumber internet lainnya. Sejujurnya, saya tidak begitu fokus juga. Karena saya juga tergabung disebuah komunitas di jurusan saya. Ada acara di bulan Desember yang tentu saja persiapannya tidak singkat. Maka, saya turut serta mempersiapkan acara tersebut tentu dengan tidak menelantarkan kewajiban menyusun skripsi. Dan, baru-baru ini saya terpilih menjadi ketua, ya semacam beban dan tanggungjawab yang harus dipikul. Tapi saya menikmati. Saya masih fokus dan tetap memeluk skripsi saya untuk selalu saya timang-timang ketika malam menjelang. Ya ya ya, bagi saya perjuangan itu tidak ada ujungnya. Sebab proses itu adalah sebuah tujuan tersendiri. Bagaimana jika saya tidak menempatkan proses sebagai tujuan? Setelah saya berhasil berproses dan menemukan tujuan saya dan lalu setelah itu apa? Selanjutnya? Itulah kenapa, saya ingin selalu berproses, bukan berambisi mencapai suatu tujuan. Itu saja. Sesederhana itu bagi saya.

Proses penyusunan skripsi itu pula merupakan satu tujuan yang saya nikmati. Terlebih, Tuhan telah memberikan dosen pembimbing yang tidak pernah lelah membimbing saya dan menjawab pertanyaan saya yang kadang tak masuk akal, kadang retorik, kadang aneh dan lain sebagainya. Jadwal bimbingan bersama Pak Danial adlah setiap hari Rabu bersama teman-teman seperjuangan lainnya. Tentu saja dari awal sekali, dari background of study, analysis sampai akhirnya ke kesimpulan. Jangan dikira itu semua mulus. Tidak. Masih banyak jalan yang harus saya lalui. Revisian adalah pasti. File-file yang semula bernama Chapter I, akhirnya menjadi Chapter I-10. Artinya, file Chapter I (introduction) dengan revisian sebanyak sepuluh kali. Kebayang seperti apa? Ya seperti itu. Seperti yang sudah saya bilang, melelahkan tapi saya menikmatinya. Hingga revisi terakhir tentang hypogram, Pak Danial masih memberikan arahan seperti apa dan bagaimana.

Banyak hal yang saya dapatkan bisa mengenal dan menjadi mahasiswi beliau. Tentang apa pun itu. Mungkin, beliau tak secara eksplisit memberikan nasihat atau berbagi tentang suatu hal, tapi saya sering mengambil beberapa point yang menurut saya itu suatu bekal yang baik untuk saya. Dengan kesabaran dan keilmuwan beliau kadang membuat saya iri, saya ingin menjadi orang baik seperti beliau. Banyak teman-teman saya yang iri karena bisa menjadi mahasiswi bimbingan beliau. Dari situ saya selalu menanamkan dalam diri saya baik-baik, bahwa saya tidak boleh mengecewakan Pak Danial. Apa pun yang terjadi saya harus berusaha menyusun skripsi sebaik-baiknya. Beliau memang idealis, dan melalui idealisme nya itu saya terdorong untuk tidak puas dengan hasil yang biasa.

Beliau adalah dosen paling kontroversial di fakultas saya. Karena walaupun begitu pasti ada saja haters. Karena setiap individu tidak lepas dari lovers dan haters. Begitu pula Pak Danial. Banyak mahasiswa yang mengagumi keilmuwan beliau, tapi tak sedikit pua yang kurang suka karena hal apa, saya juga tidak tahu. Bahkan, tidak hanya mahasiswa, dosen dari jurusan lain juga ada yang kurang suka dengan beliau. Mungkin karena berbeda pandangan, atau karena iri dengan kehebatan beliau? Saya juga kurang tahu. Tapi, setahu saya Pak Danial tidak pernah menganggap orang lain musuh karena kerendahan hati dan open-minded yang beliau miliki.

Setelah beberapa bulan menjadi mahasiswi bimbingan beliau kurang lebih satu semester, sekarang saatnya saya memberikan kursi saya untuk orang lain, mungkin teman saya yang ingin sekali menjadi mahasiswa bimbingan beliau. Ya, waktu saya menjadi mahasiswi bimbingan beliau sebentar lagi habis. Ini tahun penghujung saya, dan ada suka duka tersendiri. Bahagia, tentu saja karena sebentar lagi kehidupan baru saya akan segera dimulai. Berproses lagi tentu saja. Duka, itu pasti karena saya tidak bisa setiap Rabu bimbingan dan bertemu dengan teman-teman dan beliau. Tidak bisa bertanya tentang hal A-Z. Satu hal yang pasti akan membuat saya rindu adalah bully-an beliau. Beliau pernah mengatakan bahwa saya ini “wonderfully bully-able”. Mungkin memang benar begitu. Dan waktu yang singkat ini tidak akan pernah saya lupakan. Singkat namun ini sungguh membekas. Sebab ingatan selalu rentan untuk bisa dilupakan.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan maaf untuk beliau, dosen terhebat yang pernah saya temui. Terima kasih untuk waktu yang selama ini telah saya repotkan. Dan maaf untuk kesalahan dan kejailan saya selama menjadi mahasiswi bimbingan beliau. Setangkup do’a tidak pernah lupa saya gaungkan untuk Bapak, semoga dilancarkan dalam menyusun disertasi dan urusan-urusan lainnya. Saya percaya, Bapak orang baik dan akan selalu diberi kemudahan dalam segala hal.



Salam hangat,
Dari mahasiswimu yang “wonderfully bull-able”




You may also like

Tidak ada komentar:

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.