Sang Penikmat Senja

/
42 Comments
Tuhan Engkau ada di mana?
Adakah Kau dibalik merah darah warna langit sore ini?
Adakah Kau menungguiku untuk sampai ditempat pelataran megah nan luas-Mu?
Dimana Engkau sebenarnya?
Tidak hari ini saja aku mempertanyakan keberadaan-Mu.
Mereka menyuruhku berdoa, mereka menyuruhku belajar dari kesalahan orang-orang terdahulu.
Tapi hasilnya, NIHIL.
Lalu di mana Engkau selama ini Tuhanku.
Nama-Mu sering aku agungkan lalu aku dengar disaentoro jagad.
Namun bagaimana denganku?
Tuhan di mana Engkau, tunjukkan aku ini jalan terbaik
Bukan jalan menuju lubang hitam ini.
Tuhan ajari aku untuk selalu mencinta dan dicinta
Ajari aku memberi tanpa mengharap dan berbagi tanpa pamrih
Tuhan  Kau Yang Maha Agung yang mampu mengabulkan do'a manusia-manusia macam diriku.
Maka aku berdo'a di hadapan-Mu.
Aku ingin menjadi manusia yang Engkau anggap sempurna itu
Apalah daya aku hanya bisa bertengger di pohon coklat nan ranggas ini untuk sejenak menikmati dan mencumbui senja-Mu
Tuhan Kaukah itu? Dibalik awan merah itu?


You may also like

42 komentar:

  1. puisi yang lumayan bagus, tapi banyaknya salah ketik menunjukkan penulisnya dikendalikan emosi, ;-)

    BalasHapus
  2. haha sepertinya kamu paranormal ya...hehe, jangan kapok mampir di blog Dunia Senja :)

    BalasHapus
  3. bukan paranormal tapi cenayang suka puisi yang nyasar, XD

    BalasHapus
  4. Haha cenayang dia bilang. Knpa pake 'anonym' ?

    BalasHapus
  5. karena anonim itu, nona, adalah cara alam bekerja:
    manusia suka memberi nama pada sungai, pada telaga, atau pencipta,
    embun tetap menetes saat malam pergi,
    tak peduli kita namai butir bening itu embun,
    Tuhan tetap dekat dengan kita di malam sunyi
    tak pandang kita teriak nama Tuhan sepanjang tahun, ;-D

    BalasHapus
  6. haha kau.... ya silakan jika kau lebih menyukai 'anonym' itu sbg identitasmu :)

    BalasHapus
  7. terima kasih, nona hesperus, dewi senja, :-D
    happy monday, terus bikin puisi ya, ;-)

    BalasHapus
  8. yuhuu~
    kakak anonym yang semakin membuatku penasaran hehe

    BalasHapus
  9. penasaran sih wajib, tapi meskipun kamu dewi senja tetap saja tak boleh membuka kotak pandora jika tuhan belum mengijinkan: biarkan alam bekerja dengan alamiah, ;-)

    BalasHapus
  10. Sebenarnya ada apa dibalik persembunyianmu 'anonym' :(

    BalasHapus
  11. ada...angkasa yang selalu mendung, laut yang selalu bergelora, alam yang penuh murung senantiasa, :-(

    BalasHapus
  12. Ayolahh anonym...kmu tak bisa menyembunyikan itu terus menerus

    BalasHapus
  13. ah, siapa bilang tak bisa? :-D

    BalasHapus
  14. Bagaimana kalau akhirnya aku mengetahuinya???

    BalasHapus
  15. ah, itu berarti hari memang sudah senja:
    sudah waktunya dewi senja bertahta,
    hamba hanya bisa menerima sambil menundukkan kepala, karena istana hamba letaknya di kegelapan yang tak tersentuh cahaya, :-D

    BalasHapus
  16. Kau bersembunyi di balik awan gelap itu? Tak inginkah kau menampakkan dirimu dalam cahaya?

    BalasHapus
  17. suatu hari nanti, mungkin
    terkadang gelap yang melingkupi di atas sana lebih indah dari siang yang menunjukkan segalanya

    BalasHapus
  18. Terkadang memang bersembunyi di balik awan hitam itu baik tapi tak bisa dipungkiri bahwa dalam cahaya manusia mampu melihat apa yg dia inginkan meskipun terkadang menyilaukan mata

    BalasHapus
  19. tidak bisa, rasa penasaran itu kan jarang2 lho bisa dinikmati, sekali-kali kamu harus menikmatinya, hes, :-D

    BalasHapus
  20. Hahaha menikmati 'penasaran' sendirian
    Mungkin lbh baik aku mengganti kosa kata itu menjadi 'ingin tahu', bagaimana lbh tepat bukan sekarang untukmu menampakkan ujud aslimu wahai 'anonym' ?

    BalasHapus
  21. amithaba, keinginan adalah sumber penderitaan, dewi senja, hahaha

    BalasHapus
  22. Hey bukan keinginan yg menggebu-gebu. Jangan samakan 'ingin tahu' ku dengan 'syahwat' jelas beda.

    BalasHapus
  23. hahaha, iya iya, santey, nona, jangan sampai rasa ingin tahu membuatmu lupa sudah kubikinkan sepuluh tusuk sate kambing di meja, ;-)

    BalasHapus
  24. Haha kau coba berhumor padaku dan selamat kau berhasil membuatku 'cekikian' membaca kotak komentar bertuliskan 'anonim'

    BalasHapus
  25. terima kasih, terima kasih, suatu saat kau harus ganti membuatku tertawa, :-D

    BalasHapus
  26. Letakkan kartumu di meja dan mari kita tak beepura-pura lagi~

    BalasHapus
  27. permainan kartu hanya selesai jika kamu sudah bisa menebak kartuku, yeah, :-D

    BalasHapus
  28. Bagaimna pula lah aku bisa menebak. Anonim tak memberikan setitik sinyal untuk ku terka :v

    BalasHapus
  29. sebenarnya sih udah ada, cuma dewi senja saja yang terlalu galau, :-D

    BalasHapus
  30. Tak. Seharusnya kamu memberikan sinyal lebih untuk mampu ku terka~

    BalasHapus
  31. sinyal 3G ni hes #siul siul, :-D

    BalasHapus
  32. Bukan itu anonim heuh
    Klo ternyata kamu orang yang aku kenal gimana?

    BalasHapus
  33. yo gak gimana2, tinggal pilih mau pukuli pakai palu atau pake golok, :-D #itu pertanyaan jebakan ya? gak mempan tuh, ;-)

    BalasHapus
  34. Mau aku buka kedokmu di dunia hesti atau di dunia nyata? Ayo lekas pilih

    BalasHapus
  35. ampun, dewi senja, di dunia hesti saja, hahaha

    BalasHapus
  36. Kamu lah yang harusnya menunjukkan kedokmu. Hesti gak sopan

    BalasHapus
  37. biarkanlah air mengalir sampai ke muara, jangan paksa dia berhenti dengan membendungnya...;-)

    BalasHapus
  38. eh, laptopnya jangan dibanting hes, kasian...;-)

    BalasHapus

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.