Biarkan...

/
64 Comments

Biarkan hujan turun,
itu cara dia mencium bumi.
Biarkan rintik itu membasuh kebunku,
itu cara air bertukar pikiran dengan daun.

Biarkan mendung menggelayut,
itu caranya memberi tanda manusia
bahwa pelangi yang indah kunjung berkilau.
Yang kadang membutakan mata,
dan tak sedikit yang memabukkan.

Biarkan semua tentangmu terhapus hujan
itu caranya memberiku pertanda
bahwa pelangi itu aku
yang akan menyudahi kepedihan.

Biarkan sesuatu yang pernah kita sebut ‘cinta’ luruh,
meluluh lantakan anggunnya bumi.

Tak apa kita menjadi dua orang yang tak saling bicara,
tak saling kenal, tak saling menyapa,
dan tak saling membunuh waktu.
Seperti yang dulu sering kita lakukan.
Tak apa, sungguh.

Biar pelangi itu bersinar mengalahkan malam
meski manusia bilang—itu mustahil.
Karena angkasa raya akan berkonspirasi
Untuk membantunya.




You may also like

64 komentar:

  1. bagus, bacanya asyik, :-D

    BalasHapus
  2. Anonim pasti bisa memaknai itu kan?

    BalasHapus
  3. yah, si bungsu yang kemarin meratapi dunia yang suram dan memanggil-manggil ibunya, sekarang sepertinya sudah memandang dunia lebih indah karena pelangi, ;-) #edisi malmingkah ini?

    BalasHapus
  4. Haha begitulah. Apalagi kalau lihat bahu yang sandar-able kan jadi makin melow :"

    BalasHapus
  5. hahaha dasar, happy sandar2an lho ya, :-D

    BalasHapus
  6. Ada gtu yg mau nyandar aku? Yg ada tumbang semua :v

    BalasHapus
  7. sini sini nyandar di anonim, seperti hujan bersandar pada awan yang berarak, :-D

    BalasHapus
  8. Bersandar bersama bayang 'anonim'
    Nim anonim kamu siapaaa....

    BalasHapus
  9. aku...adalah malam, gelap yang tercipta
    saat dewi senja melintasi gerbang merah rembang petang, ;-)

    BalasHapus
  10. Kenapa harus menjadi malam? Yg serba abu-abu. Kenapa?

    BalasHapus
  11. krn hanya mrk yg melihat malam yg tak akan terpesona tawaran palsu mewahnya siang, ;-)

    BalasHapus
  12. Aku menyukai malam. Tapi tak jarang aku menangis, menyumpahi, dan gundah saat malam. Malam itu magis, sunyi, damai.

    BalasHapus
  13. itu sih tanda2 insomnia, hes #siul2

    BalasHapus
  14. Insomnia itu tidak mengenakkan. Sungguh nim anonim :''

    BalasHapus
  15. tentu saja, malam ini aku mengalaminya lagi, brrr

    BalasHapus
  16. Nim...kenapa kamu tak membuka topengmu lalu kita mulai berteman ?

    BalasHapus
  17. nunggu dibuka, :-D

    BalasHapus
  18. oh, belum waktunya, nunggu momen, dewi senja, santai to, :-D

    BalasHapus
  19. Momen yang seperti apa lagi. Momen itu diciptakan atau datang tiba-tiba?

    BalasHapus
  20. momen yang datang tiba2 lebih menyenangkan, karena kesan yang tercipta tidak artifisial, seperti puisi, :-)

    BalasHapus
  21. Kmu benar :)
    Tpi bicra soal puisi artificial, terkadang puisi itu menjadi gambran masa depan loh. Ya jdi kyak ramalannya si penulis. Kadang tapi...hehe

    BalasHapus
  22. itu mungkin karena puisi pada awalnya punya aspek magis dari ritual purba. ilham yang datang bagi penyair kan sering dianggap dari sumber yang mistis juga, karena itulah dalam puisi inggris purba ada panggilan pada muse sebagai dewi pemberi ilham, dalam puisi parsi ada panggilan pada shaki sebagai dewa pembawa anggur sama kayak dyonisus dalam mitos yunani, atau dalam puisi kristen ada panggilan pada holy muse yang dianggap sebagai tuhan/roh kudus, dalam puisi islam terkadang ditemukan pujian pembuka terhadap tuhan, :-D aku suka puisi karena puisi itu gak bisa diatur, bahkan meski kita misalnya ingin menulis "begini" tapi kadang "hasil tulisan" beda dengan yang kita inginkan. puisi bisa jadi opsi untuk dunia modern yang serba teratur, canggih, tertib, membosankan, :-D

    BalasHapus
  23. Dahsyattttt *prokprok* nampaknya aku bisa mengajukan proposal bimbingan denganmu anonim (?)

    BalasHapus
  24. haha, thank you, dewi senja, dunia akademik bukan duniaku, :-D

    BalasHapus
  25. emang hesti bahas puisi toh?

    BalasHapus
  26. Puisi...puisi itu tak seharusnya masuk ke jalur akademik kan

    BalasHapus
  27. kalo berhubungan dengan pembuatannya sih mending gak masuk jalur akademik, tapi kalo kritiknya gak apa2, dewi, :-D

    BalasHapus
  28. Karna sedikit fakultas sastra yg menghasilkan sastrawa. Tapi kritikus banyak. Yakan?

    BalasHapus
  29. bukan, tapi karena puisi gak bisa diatur, tapi kritik sastra masih bisa diatur dikit2.
    kritikus sastra kelahiran akademik dikit kok, di indo khususnya, yang terkenal paling budi darma, bakdi soemanto, sapardi, soebagio, joko pradopo, sama mahayana. sastrawan yang dapet kesastraannya dari akademik juga lebih sedikit, :-D #tumben muncul jam segini?

    BalasHapus
  30. Hesti tau sedikit2 tentang tokoh itu, tapi kalo mahayana blm pernah denger hehe
    Kenapa? Kamu kayak hafal jadwalku aja :p

    BalasHapus
  31. maman s mahayana, dosen sastra ui, ;-)
    hafal lah, sering2e muncul pagi sama malam, XD

    BalasHapus
  32. Ohh.. Baru tau..
    Kamu biasanya siang juga sembunyi :D

    BalasHapus
  33. tapi tulisannya akan janggal saat dibaca oleh orang yang belajar teori sastra dari sumber luar. why? misalnya saat beliau menghantam teorinya barthes tapi cuma berdasarkan terjemahan tulisan barthes yang dicantumkan di buku beliau ini. yah, sayang sekali terjemahannya ada bagian yang salah total, jadi conclusion beliau pun jelas salah juga, ;-) yes, it is indonesian literary criticism world: mirai isin kadang2, ;-(
    ah aku sih anti jadwal rutin, membosankan, kapan saja pengen ya muncul, :-D

    BalasHapus
  34. Ehem...kamu sudah baca karya2 mereka? Kalau kita belajar sastra inggris tpi kita punya bahasa ibu bahasa indonesia sebenarnya salah gak sih?

    BalasHapus
  35. kita? :-D
    yah, budi darma keren, favoritku, dia kalo ngomong keras, kadang atos, background teori kuat, pradopo dan bakdi sebagaimana para lulusan sastra gajah mada mereka kuat di stukturlisme dan semiotik, sapardi jrg bicara teori tapi sebagaimana mahayana dia jago soal historitisitas sasind, subagio lumayan spesial karena kuat dalam teori sekaligus juga mengikuti perkembangan sasind dulu.
    lho yo gak salah lah, orang chairil saja baca karya luar kaya rilke sama hemingway, goenawan mohamad baca dickinson, rendra baca lorca, kalau gak belajar dari sastra luar, sasind akan bertahan pada bentuk pantun dan kakawin yang sangat dikekang peraturan pembuatan, :-D

    BalasHapus
  36. Haha ketjeee badaiii *tons of thumbs*
    Beraarti mereka gak semua dari background sasind ya?

    BalasHapus
  37. enggak, menutup diri dari sastra asing hanya akan menimbulkan kemandekan, sastrawan2 indonesia harus tahu sastra asing juga, karena walau bagaimanapun sejarah sastra barat misalnya jelas lebih panjang. puisi dengan bentuk aneh2 yang dibikin remy sylado tahun 70an yang disebut pembaruan itu sebenarnya di inggris sudah ada abad ke-17, muhammad yamin bisa bikin soneta dalam bahasa indonesia karena belajar dari soneta shakespeare, rendra bikin balada juga oleh2 mukim di amrik, :-) yang patut disesalkan itu justru banyak sastrawan indo yang malas belajar bahasa inggris, baca buku cuma dr terjemahan yg kadang ngawur, kan repot tuh

    BalasHapus
  38. Sayangnya kesempatan untuk belajar di luar tidak semua di dapat sastrawan ind. Haha aku loh baca terjemahan :D

    BalasHapus
  39. terjemahan yg bagus sih gak apa2, :-) lagian maksud "belajar" itu gak harus pergi ke luar, yang penting bisa ngakses source sama bisa bahasa inggris, gitu saja
    tapi hesti kan baca alchemist-nya paulo coelho asli kan? :-D

    BalasHapus
  40. Loh ko anonim tau? Spy ya?
    Iya asli tapi pinjem temen haha

    BalasHapus
  41. tau lah, aku kan di sampingmu saat kamu baca...prekkk, hahaha
    aku suka buku itu, gayanya coelho kan sama dengan gaya novelis favoritku gabo sama salman rushdie, ;-)

    BalasHapus
  42. Haha salman rushdi yg the satanic verse udah baca?

    BalasHapus
  43. udah dewi, novel yang liar, ;-)

    BalasHapus
  44. Haha beberapa temanku juga. Dan aku 'nafsu' untuk membacanya

    BalasHapus
  45. belum baca toh? lumayan tebel, banyak kosakata yang aneh, dan juga urut2an plotnya yang tumpuk2 membutuhkan perjuangan keras untuk menamatkannya, hahaha.
    yang midnight children juga bagus, aku sdg ngumpulin karya dia, :-D

    BalasHapus
  46. Awww... Pinjami aku pinjami aku :v

    BalasHapus
  47. hahaha, satanic kemaren ketinggalan di rumah, :-D

    BalasHapus
  48. ceppp ceppp, bulan depan mudik kok bisa kuambilin, dewi senja, ;-)

    BalasHapus
  49. wooo jangan salah, koleksiku selalu original, itu buku termahal yang pernah kubeli, :-D versi kw kan banyak di fotokopian, :-D

    BalasHapus
  50. Haruskah aku nunggu buku anonim sebulan ? Heuh

    BalasHapus
  51. membaca versi original itu lebih menyenangkan daripada versi kw, hohoho
    novel favoritmu opo e? tere liye? XD

    BalasHapus
  52. Opsss...itu dulu dulu ya dulu haha

    BalasHapus
  53. cie, mantan penggemar tere liye, :-D

    BalasHapus
  54. kenapa malu hes? kan tere liye tu penggemarnya banyak banget, hahaha, aku punya teman yang merasa bangga soale dia udah punya koleksi lengkap tere tuh....

    BalasHapus
  55. Dulu pas masih labil lah. Sekarang malu kalo baca buku tere liye aja dibangga-banggain. Padahal banyak bku sastra lainnya. Ku mah apa :')

    BalasHapus
  56. setujuuu, hahaha, hidup hesti, :-D

    BalasHapus
  57. Selama kamu masih bisa baca tulisanku selama itu pula aku masih tetap hidup :'')

    BalasHapus
  58. eh, itu kira2 sama dengan semboyan blog ini, hahaha

    BalasHapus

© 2013-2017 Dunia Hesti. Diberdayakan oleh Blogger.